Pak Wawo dan Pak Djarot, sedikit banyak saya sudah mendapatkan bayangan
kejelasan tentang istilah vernacular. Saya kira ini kajian yang serius
bilamana dapat dirumuskan, similar dengan upaya Levi-Strauss menarik
aspek 'language' sebagai unsur struktur dalam masyarakat. Jadi kurang
lebih untuk vernacular settlements itu: de'sign' permukiman ditumbuhkan
dari resepsi kultural masyarakat, atau juga kondisi geomorfologis, atau
juga klimatologis, dan mungkin kosmologis. Dan sifatnya tipikal (:
lokasional). Bila kita pakai 'konsep inverse'-nya Pak Wawo, bisa juga
dengan melihat tampilan suatu permukiman maka sudah akan dapat menyelami
jiwa masyarakatnya? Sementara demikian. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Hannie Waworoentoe
<waworoentoehan...@...> wrote:
>
> Eka, sudah begitu lama saya engga kasih tanggapan, tapi karena istilah
vernacular saya perlu berikan sedikit penjelasan. Sebetulnya saya mulai
tertarik dan menggunakan istilah vernacular itu sejak ada Schumacher
lectures, dimana istilah vernacular yang pada waktu itu terutama
digunakan untuk arsitektur, sebagai semacam bahasa arsitek, baru digali
pada pengertian aslinya. Rupanya vernacular itu bukan bahasa daerah
semata-mata tetapi, ditafsirkan sebagai suatu bahasa yang tidak resmi
formal, oleh karena pada waktu itu di Spanyol hanya bahasa Latin yang
diakui sebagai bahasa, bahasa Sepanyol sendiri itu dianggap anak haram,
sehingga juga tidak diaui sebagai bahasa. Well ini adalah aslinya
pengertian vernacular. Later on anything which was not formal or
official became a vernacular atau suatu lidah bahasa. Ini tanggapan
saya, sekarang silahkan menggunakan istilah ini untuk segala sesuatu
yang belum jadi resmi ok.  Dengan sendirinya bisa saja kita
kembangkan
> suatu silabus yang khusus lagi untuk human settlements.
>
>
>
>
> ________________________________
> From: ffekadj 4ek...@...
> To: [email protected]
> Sent: Fri, January 8, 2010 1:12:19 AM
> Subject: [referensi] vernacular settlements
>
> Â
> Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga
pasti ada karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular
settlements' , istilah ini selalu diulang-ulang Pak Wawo. Boleh saya
dapat penjelasannya? Siapa tahu itu juga 'tanda'. Terima kasih
sebelumnya. Salam.
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> >
> > Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan
saya tilik para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan
penulisan tentang the architecture of vernacular settlements di Timor
dengan bantuan teman-teman di sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular
di Timor ada yang merawatnya, khususnya yang berkaitan dengan planning
ruang lokal ala pengetahuan lokal. Maklumlah, teman-teman di Timor dan
NTT umumnya lebih tertarik meneliti "bangunan" daripada "arsitektur
lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat unik.
> >
> > Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu
menemukan fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi
mangaan oleh modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea.
Pada waktu itu saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di
sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng
Kalasan" heheheee.... ini beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin saya.
Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah
makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja tambang,
khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap
malam !!!! Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di
TTU.......?? ?
> >
> > Sementara begitu Pak.
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> >
> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> >
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>



Kirim email ke