Pak Wawo ysh, terima kasih telah melanjutkan diskusi ini dan membuatnya
semakin jelas. Saya kira kita punya pandangan yang sama untuk masuk
secara terpilah atau pun masuk secara mendasar terhadap vernakularisme
ini. Pandangan bapak yang melihat dari sisi outside ataupun double
inversion saya kira tipikal pendekatan perencana, walau terilhami oleh
Shumacher (belum baca). Pertimbangan kompleks biasanya digunakan untuk
mendapatkan 'rasa' permasalahan permukiman. Namun kalau saya bandingkan
dengan pertimbangan arsitek, langsung masuk ke dalam simbol dan nuansa,
sehingga peran fenomenologi cukup penting. Saya kira kalau
diperbandingkan pendekatan inside dan outside ini akan menimbulkan suatu
kontras, yang menarik untuk dirumuskan. Perbandingannya sama dengan
permasalahan fenomena kerusuhan sosial, bisa dilihat secara psikologi,
antropologi, sosiologi, ilmu politik, dsb. Obyek telaahan sama namun
kesimpulannya pasti berbeda-beda. Sehingga kalau ada seorang 'New
Foucault' di Indonesia yang mau mendekonstruksi permasalahan permukiman,
kita akan sampai pada suatu sintesis yang kuat baik secara peristilahan
(baru) maupun pemaknaan.

Namun istilah ini pun bisa berkembang atau berubah maknanya sejalan
perkembangan ilmu dan waktu. Contohnya istilah 'simbol', yang dirumuskan
oleh Victor Turner (1967) lebih kepada pemaknaan kongkrit dan komunal,
namun berubah oleh Clifford Geertz (1973) menjadi pemaknaan sinyal
timbal-balik dan individual. Dengan demikian ada relativitas terhadap
bangun pemikiran, yang kalau boleh kita sebut sebagai dinamika
perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai catatan, saya melihat persepsi
arsitek dan perencana terhadap simbol masih menggunakan pemaknaan
kongkrit dan komunal-individual. Apakah demikian? Kita perlu banyak
eksperimen, penjelajahan, dan diskusi untuk membangun
kesepakatan-kesepakatan. Seperti misalnya kita perlu mencermati
perkembangan pemikiran Pak Djarot yang sedang berjalan ke arah itu.

Mengenai 'kopi darat', kalau Pak Wawo ada di Jakarta Jum'at sore ini
bisa bergabung. Memang biasanya kita langsungkan setiap ada Pak Wawo.
Namun kalau masih dalam suasana bulan madu, yah, kita adakan lagi pada
kesempatan berikutnya. Saya sebenarnya ingin menawarkan satu issue dalam
pertemuan besok tentang 'wajah sosial' dari Komunitas Referensi, yang
kalau dapat menggalang resources untuk membantu permasalahan yang ada di
masyarakat, walaupun sedikit, misalnya melalui kenclengan. Sementara
demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Hannie Waworoentoe
<waworoentoehan...@...> wrote:
>
> Eka, sudah pasti banyak yang sudah berkecimpung memakai model
vernakuler, entah secara linguistis, secara antropologi, atau secara
historis, yah mungkin kalau analogi inverse nya untuk human settlements,
saya sudah katakan Shumacher lectures sudah pernah membahasnya. Tapi
kalau dalam inverse historis , saya kira bisa ada double inversion, jadi
seperti kaos kaki yang dibalik what is in the socks, inside out or
outside in, wah ini bisa menarik sekali untuk inside out settlements,
katakan saya dengan semua real estate yang sekarang lebih kosong
daripada isi, kalau secara inverse economics, mungkin bisa juga, wow
bagaimana kopi daratnya?
>
> ________________________________
> From: ffekadj 4ek...@...
> To: [email protected]
> Sent: Sat, January 9, 2010 11:18:31 PM
> Subject: [referensi] Re: vernacular settlements
>
> Pak Wawo dan Pak Djarot, sedikit banyak saya sudah mendapatkan
bayangan
> kejelasan tentang istilah vernacular. Saya kira ini kajian yang serius
> bilamana dapat dirumuskan, similar dengan upaya Levi-Strauss menarik
> aspek 'language' sebagai unsur struktur dalam masyarakat. Jadi kurang
> lebih untuk vernacular settlements itu: de'sign' permukiman
ditumbuhkan
> dari resepsi kultural masyarakat, atau juga kondisi geomorfologis,
atau
> juga klimatologis, dan mungkin kosmologis. Dan sifatnya tipikal (:
> lokasional). Bila kita pakai 'konsep inverse'-nya Pak Wawo, bisa juga
> dengan melihat tampilan suatu permukiman maka sudah akan dapat
menyelami
> jiwa masyarakatnya? Sementara demikian. Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Hannie Waworoentoe
> <waworoentoehannie@ ...> wrote:
> >
> > Eka, sudah begitu lama saya engga kasih tanggapan, tapi karena
istilah
> vernacular saya perlu berikan sedikit penjelasan. Sebetulnya saya
mulai
> tertarik dan menggunakan istilah vernacular itu sejak ada Schumacher
> lectures, dimana istilah vernacular yang pada waktu itu terutama
> digunakan untuk arsitektur, sebagai semacam bahasa arsitek, baru
digali
> pada pengertian aslinya. Rupanya vernacular itu bukan bahasa daerah
> semata-mata tetapi, ditafsirkan sebagai suatu bahasa yang tidak resmi
> formal, oleh karena pada waktu itu di Spanyol hanya bahasa Latin yang
> diakui sebagai bahasa, bahasa Sepanyol sendiri itu dianggap anak
haram,
> sehingga juga tidak diaui sebagai bahasa. Well ini adalah aslinya
> pengertian vernacular. Later on anything which was not formal or
> official became a vernacular atau suatu lidah bahasa. Ini tanggapan
> saya, sekarang silahkan menggunakan istilah ini untuk segala sesuatu
> yang belum jadi resmi ok. Dengan sendirinya bisa saja kita
> kembangkan
> > suatu silabus yang khusus lagi untuk human settlements.
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ffekadj 4ekadj@
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Sent: Fri, January 8, 2010 1:12:19 AM
> > Subject: [referensi] vernacular settlements
> >
> > Â
> > Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga
> pasti ada karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular
> settlements' , istilah ini selalu diulang-ulang Pak Wawo. Boleh saya
> dapat penjelasannya? Siapa tahu itu juga 'tanda'. Terima kasih
> sebelumnya. Salam.
> > -ekadj
> >
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> > >
> > > Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan
> saya tilik para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan
> penulisan tentang the architecture of vernacular settlements di Timor
> dengan bantuan teman-teman di sana. Minimal mosaik arsitektur
vernakular
> di Timor ada yang merawatnya, khususnya yang berkaitan dengan planning
> ruang lokal ala pengetahuan lokal. Maklumlah, teman-teman di Timor dan
> NTT umumnya lebih tertarik meneliti "bangunan" daripada "arsitektur
> lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat unik.
> > >
> > > Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu
> menemukan fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan
eksplorasi
> mangaan oleh modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang
Korea.
> Pada waktu itu saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di
> sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng
> Kalasan" heheheee.... ini beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin
saya.
> Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di
Timor....rumah
> makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja
tambang,
> khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap
> malam !!!! Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di
> TTU.......?? ?
> > >
> > > Sementara begitu Pak.
> > >
> > > Salam,
> > >
> > >
> > >
> > > Djarot Purbadi



Kirim email ke