Eyang Wawo dan Pak Eka, serta sahabats semua,

Terima kasih atas penjelasannya. menurut saya, dalam sastra-kebudayaan ada 
fenomena yang mirip vernakular yaitu FOLKLORE yang tokohnya di Indonesia adalah 
James Dananjaya. Saya pernah membaca sebuah buku beliau dan meyakini ada 
kesamaan antara arsitektur vernakular dengan folklore itu, yang intinya tradisi 
rakyat. 

Dalam pengamatan saya yang tidak sistematis, saya berani merumuskan suatu 
hipotesis bahwa vernakularitas ini ada dimana-mana, tentunya bersandingan 
dengan high style yang juga ada di berbagai bidang. Ada lagu karangan komponis 
terdidik, tetapi juga ada lagu glenyengan buatan kang Suro. Ada resep masakan 
bikinan koki berpendidikan ilmu gizi tetapi juga ada peyek mbok Tumpuk di 
Bantul. Ada rancangan pakaian dengan konsep canggih karena perancangnya pernah 
magang pada desainer top dunia, tetapi juga ada desain kain kebaya ala ndeso 
yang jika dipakai malahan lebih seksi pemakainya. dst dst dst Tampaknya 
vernakularitas ini juga merambah arsitektur dan planning. Kan begitu Pak.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 1/8/10, Hannie Waworoentoe <[email protected]> wrote:

From: Hannie Waworoentoe <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] vernacular settlements
To: [email protected]
Date: Friday, January 8, 2010, 1:40 PM







 



  


    
      
      
      
Eka, sudah begitu lama saya engga kasih tanggapan, tapi karena istilah 
vernacular saya perlu berikan sedikit penjelasan. Sebetulnya saya mulai 
tertarik dan menggunakan istilah vernacular itu sejak ada Schumacher lectures, 
dimana istilah vernacular yang pada waktu itu terutama digunakan untuk 
arsitektur, sebagai semacam bahasa arsitek, baru digali pada pengertian 
aslinya. Rupanya vernacular itu bukan bahasa daerah semata-mata tetapi, 
ditafsirkan sebagai suatu bahasa yang tidak resmi formal, oleh karena pada 
waktu itu di Spanyol hanya bahasa Latin yang diakui sebagai bahasa, bahasa 
Sepanyol sendiri itu dianggap anak haram, sehingga juga tidak diaui sebagai 
bahasa. Well ini adalah aslinya pengertian vernacular. Later on anything which 
was not formal or official became a vernacular atau suatu lidah bahasa. Ini 
tanggapan saya, sekarang silahkan menggunakan istilah ini untuk segala sesuatu 
yang belum jadi resmi ok.  Dengan sendirinya bisa saja kita
 kembangkan suatu silabus yang khusus lagi untuk human settlements. 





From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Fri, January 8, 2010 1:12:19 AM
Subject: [referensi] vernacular settlements

 


Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga pasti ada 
karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular settlements' , istilah 
ini selalu diulang-ulang Pak Wawo. Boleh saya dapat penjelasannya? Siapa tahu 
itu juga 'tanda'. Terima kasih sebelumnya. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan saya tilik 
> para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan penulisan tentang the 
> architecture of vernacular settlements di Timor dengan bantuan teman-teman di 
> sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular di Timor ada yang merawatnya, 
> khususnya yang berkaitan dengan planning ruang lokal ala pengetahuan lokal. 
> Maklumlah, teman-teman di Timor dan NTT umumnya lebih tertarik meneliti 
> "bangunan" daripada "arsitektur lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat 
> unik.
> 
> Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu menemukan 
> fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi mangaan oleh 
> modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea. Pada waktu itu 
> saya ditunjukkan dan diajak mampir
 oleh Pater John di sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan 
Ayam Goreng Kalasan" heheheee.... ini beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin 
saya. Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah 
makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja tambang, 
khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap malam !!!! 
Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di TTU.......?? ?
> 
> Sementara begitu Pak.
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> Djarot Purbadi
> 
> 
> 
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> 
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> 
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com



      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke