Mas Djarot ysh, betul beliau Pak Hasan Purbo yang mengarahkan. 

Memang seninya dalam proses tersebut adalah bagaimana memahami tradisi/budaya 
setempat tanpa merusaknya, tetapi juga bagaimana memasukkan 'inovasi' yang 
baik. Misalnya untuk memugar rumah yang saat itu kebanyakan menjadi satu dengan 
kandang kerbau, sehingga tidak sehat & bau. Perlu pendekatan untuk 
memisahkannya, karena kerbau mereka anggap sebagai kawan dalam bertani, tetapi 
sebetulnya mereka takut kalau jauh dari rumah akan dicuri. Contoh lain, 
bagaimana agar lantai rumah yang dari tanah jadi hangat, diusulkan untuk 
diplester (bukan dengan semen) tetapi dengan tanah liat dicampur gabah (kulit 
beras), dapur juga tidak jadi satu dengan ruang tidur karena masaknya dengan 
kayu bakar sehingga asapnya menyesakkan nafas, jendela rumah diperbanyak biar 
udara segar & cahaya matahari lebih banyak masuk dipagi hari. Pemakaian bahan 
bangunan diusahakan dari yang ada disekitar desa, seperti: tanah liat, batu 
kali, bambu, pohon dan daun kelapa, dll. Kalau 'design rumah' pada umumnya 
mengikuti gaya yang sudah ada di desa, hanya konstruksinya yang diperkuat atau 
disederhanakan sesuai kaidah ilmiah. Untuk penataan lingkungan, diantaranya MCK 
& saluran air kotor yang baik, menjaga kebersihan sumber air, merapikan jalan 
dan pagar dari tanaman/bambu & menanam pohon buah-2an yang cocok dengan iklim 
setempat, juga pasang penerangan jalan (dengan obor kecil) dan untuk komunikasi 
antar lingkungan dengan kentongan (belum ada HP). 
Sebetulnya kegiatan tersebut tidak sulit dilaksanakan, tetapi memang awalnya 
perlu 'pendamping' yang mau tinggal didesa. Mungkin yang sulit kalau 
'pendamping'nya kecantol anak gadisnya pak Lurah...he he he ...bisa lupa 
pekerjaannya.

Wassalam,

Onnos. 


To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Sat, 23 Jan 2010 15:04:58 -0800
Subject: RE: Bls: [referensi] community planner-barefoot architect and planner

  







Pak Onno, jika cerita itu lengkap dan detil, saya kira akan menarik dan menjadi 
"pola proses" yang merupakan semacam "metode" bagaimana berpartisipasi dengan 
masyarakat. Perhatian saya terutama adalah: apakah kedatangan para ahli dari 
perguruan tinggi mengubah cara berpikir masyarakat menjadi lebih baik ataukah 
justru menjadi semacam titik awal bencana kebudayaan (wah dramatis banget ya). 
Misalnya, jika kita dengan cara pikir dunia kampus mengatakan struktur beton 
lebih baik daripada konstruksi kayu, kita mesti berpikir kritis, sebab beton 
itu rakus air sementara menggunakan kayu memang dapat dihancurkan kembali ke 
tanah namun juga merusak hutan. Tentang style bangunan atau lingkungan, saya 
kira ada perbedaan-perbedaan signifikan antara para ahli dari kampus dengan 
masyarakat lokal. Oh ya, arsitek itu apakah Bapak Hasan Purbo ?

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 1/24/10, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote:


From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
Subject: RE: Bls: [referensi] community planner-barefoot architect and planner
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Sunday, January 24, 2010, 12:00 AM


  

Wah mas Djarot ysh, itu kegiatan lama tetapi menarik untuk dikenang lagi. 
Saya saat itu sambil kuliah dapat 'obyekan' untuk menjadi pendamping dan 
tinggal didesa sekitar Purwokerto - Cilacap selama 2-3 bulan. Ide kegiatan 
tersebut dari alm. Pak ... (maaf saya lupa namanya, beliau arsitek dari ITB). 
Dana bantuan dari Dep. PU, tetapi harus melibatkan masyarakat setempat. Sejak 
awal datang ke desa kita mengumpulkan penduduk dan para tetua desa dengan 
dipimpin Lurah untuk mencari masukan & kesepakatan bersama, apa yang mau 
dikerjakan dan siapa saja yang akan membantu. Kami kemudian menyusun 
perencanaan lingkungan, rencana kerja dan biaya kasar. Pertemuan selanjutnya 
mengatur waktu kegiatan dan melatih penduduk yang terlibat sesuai pekerjaan 
yang telah disepakati (spt: tukang batu, kayu, gali, ukur, dll.), disini butuh 
pemahaman bersama karena penduduk juga harus kerja cari makan sehari-hari, jadi 
istilahnya 'learning by doing'. Kegiatan ini dikonsultasikan dengan 'tenaga 
ahli' yang datang seminggu sekali keliling dari desa ke desa. Ide kegiatan ini 
kalau hasilnya bagus diharapkan dapat menular ke desa lain, ibarat meneteskan 
minyak ke air se-ember. Hasilnya sekarang, maaf mungkin sudah berubah sesuai 
perkembangan yang ada. Kalau ada rekan-2 yang pernah ikut kegiatan semacam, 
mungkin tolong dilengkapi atau dibetulkan kalau cerita saya ada yang salah.
Wassalam,
Onnos 



To: refere...@yahoogrou ps.com
From: dpurb...@yahoo. com
Date: Sat, 23 Jan 2010 08:24:30 -0800
Subject: RE: Bls: [referensi] community planner-barefoot architect and planner

  






Pak Onno apakah bisa diceritakan seberapa jauh dan bagaimana keterlibatan 
masyarakat dalam proses pemugaran perumahan pedesaan menurut pengalaman Bapak 
di email ini ? Apakah ada inovasi dalam proses dan hasilnya ataukah sekedar 
memindahkan pola dari tempat lain ke lokus kegiatan panjejengan ? Nuwun.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Sat, 1/23/10, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote:


From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>
Subject: RE: Bls: [referensi] community planner
To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Saturday, January 23, 2010, 11:16 PM


  

Mas Taufan dan rekans ysh,
Sepakat mas, yang penting memang bagaimana 'memberdayakan masyarakat' agar 
dapat terlibat dalam proses pembangunan tidak sekedar jadi penonton saja. Untuk 
itu memang butuh tenaga pendamping (SDM) yang mau tinggal didesa. Tahun 1975an 
saya pernah ikut kegiatan 'pemugaran perumahan perdesaan' yang tujuannya bina 
lingkungan dengan membantu buat peta desa, menata lingkungan dan rumah contoh, 
dimana penduduk/pemilik rumah dilibatkan dalam prosesnya. Model semacam itu 
dapat dihidupkan lagi, mungkin dengan pendekatan semacam 'barefoot architect & 
planner' dengan tujuan 'community development' .
Wassalam,
Onnos 
 




To: refere...@yahoogrou ps.com
From: itau...@gmail. com
Date: Sat, 23 Jan 2010 20:52:31 +0700
Subject: Re: Bls: [referensi] community planner

  


Pak Risfan, Bu Nita dan teman2 semua,Jadi, peranserta masyarakat dlm pengertian 
UU Tata Ruang atau pun dlm PP, apakah memang sebatas itu, asal masyarakat 
(sebagai subyek dan pemangku kepentingan) "sudah tahu" ya sudah cuku beres ?  
Terpenuhi syarat wajibnya .. Jadi bisa saja dlm bentuk "konsultasi publik" 
...Lantas bagaimana "peranserta masyarakat" dlm "pemanfaatan ruang", atau lebih 
lagi dalam "pengendalian/ pengawasan pemanfaatan" ruang .. Dalam PP yang kesan 
kuatnya, masyarakat masih berada "dipinggiran" ,  hanya berperan menjadi 
"penonton" , bahkan suatu saatu saat juga boleh jadi "korban rencana ataupun 
pemanfaatan ruang" ...Menambahkan informasi yang disitir Nita ..melalui program 
pemberdayaan masyarakat (yg dieskalasi menjadi PNPM Mandiri) ..  Masyarakat 
juga diberdayakan untuk menyusun "rencana pembangunan" berdasarkan kebutuhan 
(masalah dan potensi) untuk 5 sd 10 tahun ... rencana/program jangka menengah 
tersebut oleh teman2 di 'perdesaan' diperkenalkan dengan Menggagas Masa Depan 
Desa atau village visioning yg ditargetkan melengkapi RPJMDes (amanat PP 
72/2005) .. Oleh teman2 'perkotaan' diperkenalkan PJM Nangkis (penggulangan 
kemiskinan) yg ditargetkan dapat diintegrasikan (pada musrenbangkel/ kec) 
dengan RPJMKel ... Teman2 ingin membangun kesadaran wargadesa/masyaraka t untuk 
berorientasi ke masa depan...ingin seperti apa desanya dimasa depan, ya 
sekaligus juga diajak menjaga kualitas lingkungan.  ... dan memang sebaiknya 
juga menjaga harmoni dengan rencana tata ruang ...Rencana2 tsb disusun berbasis 
masyarakat, berbasis komunitas .. masyarakat yg mengenali masalah mereka, 
mengungkap potensi mereka, menyusun strategi untuk menyelesaikan masalah dan 
mengembangkan potensi ... Kita tahu persis pemahaman soal perencanaan masih 
awam sekali .. Oleh karena saya juga berfikir bagus sekali jika teman2 planner 
bs lebih dekat pada komunitas, jk merencanakan bs lebih berbasis pd masyarakat 
.. Ya menjadi "community planner" ... Dari situlah teman2 juga bisa 
menggerakan, bisa memberdayakan  masyarakat utk "bertanggung jawab menjaga 
kualitas ruang, menjaga kualitas lingkungan" ...Saya jadi ingat lagi lagu 
gubahan L.Manik 

desaku yang kucinta
pujaan hatiku
tempat ayah dan bunda
dan handai taulanku

tak mudah kulupakan
tak mudah bercerai
selalu kurindukan
desaku yang permai 
...... 

syair lagu tersebut sudah menggambarkan suasana desa suatu saatu  hanya menjadi 
tempat orang tua saja (ayah bunda dan handai taulanku) ... jika tak ada 
'community planner' yang bersedia membantu saya pikir sukar merindukan dan 
menemukan "desa yang permai" ....

Salam dari perdesaan ... 



..'desaku yang permai, 

Wassalam,
IBNU TAUFAN
APPMI  I Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia I
0816-940978  I Planner & Community Development



2010/1/23 Risfan M <risf...@yahoo. com>


  


Mbak Nita, pak Kus, pak Onnos dan Rekans ysh,

Kembali ke demokratisasi atau partisipasi dalam penataan ruang. Sebetulnya 
dasarnya sudah ada. Setidaknya, UU Penataan Ruang 24/2007. Pasal 65, (1) 
penyelenggaraan penetaan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan 
peran masyarakat.

UUPR pasal 60 menyebutkan, setiap orang berhak untuk: mengetahui rencana tata 
ruang, menikmati pertambahan nilai ruang, memperoleh pergantian, mengajukan 
keberatan thd pembangunan yang tidak sesuai rencana, mengajukan tuntutan 
pembatalan izin, mengajukan gugatan ganti kerugian.
Disini tidak jelas ya Hak untuk mengusulkan sesuatu.

Permendagri No.1/2008 ttg Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan, Pasal 33, ayat 
(2): Pengikutsertaan masyarakat dapat diselenggarakan melalui suatu forum 
masyarakat perkotaan atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik 
masyarakat setempat.

Hal pertama yang perlu dilakukan ialah sosialisasi, atau menyampaikan agenda 
proses penyusunan RTR, kalau revisi ya RTRW sebelumnya. Publikasi RTR ini saja 
ke masyarakat belum banyak Pemda yang melakukannya.

Salam,
Risfan Munir

Pada Jum, 22 Jan 2010 03:00 CST arinynta menulis:

>dear referensiers,
>beberapa topik yg sudah lewat banyak yang mengaitkan dengan partisipasi 
>masyarakat (warga) dalam sebuah proses perencanaan. tekait dgn itu, saya jadi 
>ingat, pernah membaca di sbuah situs (lupa namanya) tentang community planner 
>di taipei... dan ternyata saya punya buku yg sekilas menceritakan 
>"keberhasilan" community planner tsb... 
>
>community planner group itu dibentuk oleh department of urban development 
>(mungkin di sini serupa dgn DPU) di tahun 1999 sebagai program community 
>action. jadi inisiatifnya dari pemerintah. grup2 planner itu disebar ke 
>sejumlah distrik utk kemudian bekerja sama dgn penduduk di distrik tsb untuk 
>"menata" lingkungannya, antara lain menjaga aset /situs lokal agar tidak 
>tergusur, membentuk public area. bahkan kemudian mereka punya community 
>planning service center, tempat komunitas dr berbagai distrik saling bertukar 
>pendapat, pengalaman dan ide.
>
>itu tentunya menarik, sebab membuat komunitas merasa memiliki lingkungannya. 
>dan ini yg paling penting, sebab, dgn begitu mereka ikut menjaga dan bahkan 
>"rela" jika terkena "gusuran" sepanjang kelak mereka bisa "ikut" memiliki dan 
>menikmati hasilnya.
>
>sekilas seperti program pendampingan komunitas dari pnpm (perkotaan)
>ya... tapi yg di taipei lebih untuk penataan lingkungan, sementara di
>sini lebih pada pemberdayaan (ekonomi & sosial). maaf kalau ini tidak seratus 
>persen betul, maklum saya minim info soal pnpm (perkotaan) ini. atau malah 
>mungkin visi dewan kelurahan adalah demikian, sebagai "institusi" semi formal 
>untuk komunitasnya. ... mungkin ada yg berkenan membagi info & pengalaman 
>sejenis.
>
>sekadar info... program pendampingan ini ada yang dilakukan oleh lsm, salah 
>satunya di permukiman kumuh kel kalibaru, jakarta utara (kebetulan rekan saya 
>sebagai volunteer-nya) ... tapi itu juga lebih kepada pemberdayaan ekonomi dan 
>hukum...
>
>salam....
>
>nita
>
>
>
> Get your preferred Email name!
>Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. 
>http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/










New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more. 




New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more. 


                                          
_________________________________________________________________
NEW! Get Windows Live FREE.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke