Dear Sahabat,

Ikutan nimbrung nih. Sejauh saya mengerti, realitas adalah apa yang dialami 
manusia sehari-hari, yang teraba maupun yang tidak dapat diraba, namun dapat 
ditangkap dengan panca indra (meskipun ada yang yakin indra manusia lebih dari 
lima). Realitas adalah seluruh ruang kehidupan manusia dan 
pengalaman-pengalamannya, termasuk diri manusia yang mengalaminya. Filsuf 
fenomenologi menyebutnya fenomena, sementara filsuf yang lain lebih senang 
menggunakan kata realitas. Jadi keduanya sama. 

Para ilmuwan umumnya melihat keteraturan-keteraturan di dalam realitas/fenomena 
sehari-hari itu, ia melihat interaksi antar unsur-unsur dari realitas dan 
menghasilkan sesuatu yang melengkapi realitas. Ia melihat lebih dari sekedar 
yang tampak, dan apa yang dilihatnya itu adalah sesuatu di balik realitas, 
dalam pikiran tertentu (rasionalisme) ilmuwan melihat "prinsip, hukum, kaidah, 
teori" atau semacam kekuatan yang mengatur interaksi antar elemen realitas. Ia 
melihat sesuatu yang lebih abstrak di dalam realitas yang mengendalikannya. 
Cara berpikir semacam itu sering disebut rasional, yang cenderung melihat 
realitas ditekankan pada hal-hal yang teratur atau berulang.

Filsuf lain justru ingin melihat bukan pada keteraturannya, melainkan 
keunikannya, khususnya karena dia melihat kehidupan sebagai hal yang sangat 
beragam (bukan keseragaman yang menonjol atau yang menarik baginya). Ketika di 
lapangan, bukan keterulangan yang dilihatnya, melainkan kebermaknaan sesuatu 
dalam keseluruhan. Cara pikir ini sangat berbeda dari cara pikir "rasional", 
yang mementingkan keseragaman dan keterulangan secara nyaris persis sama. Salah 
satu yang saya kenal adalah pemahaman mendalam sesuatu menurut konteksnya, 
lebih melihat maknanya, maka saya cenderung menyebutnya supra-rasional, bukan 
trans-rasional. 

Supra artinya, melampaui, maka ia melampaui cara pandang sebelumnya. Ia bukan 
kacamata biasa, lebih dari sekedar melihat keteraturan, karena mampu menangkap 
transendensi (suatu penyeberangan makna). Supra karena ia mampu melihat yang 
ada di seberang sana, yang secara otomatis tidak tampak oleh pikiran rasional, 
meskipun semuanya harus dibuktikan juga. Supra karena akalnya menggunakan akal 
transenden, bukan akal biasa (bukan logika aristotelian, melainkan logika 
transenden ala Hegel).

Jika kita disodori sebuah sepatu kiri, maka logika transenden akan berkata, ada 
sepatu kanannya ya, Jika kita melihat tampak depan bangunan, pasti ada tampak 
belakangnya. Jika seorang detektif menemukan sebuah sepeda di tepi jalan, ia 
akan segera membayangkan pasti ada pihak-pihak (banyak kemungkinan) yang 
terkait dengan temuannya itu, meskipun semuanya belum tampak dan masih dalam 
status "kemungkinan". Kita tentu bisa membayangkan, bagaimana kerja pikiran 
arsitek atau planner ketika menggunakan cara rasional dan cara yang 
supra-rasional itu !!!

Sementara demikian, supaya makin ramai diskusinya.

Salam,



Djarot Purbadi

--- On Sat, 7/31/10, dedenrukmana <[email protected]> wrote:

From: dedenrukmana <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL
To: [email protected]
Date: Saturday, July 31, 2010, 11:47 AM







 



  


    
      
      
      

Mas Imam Indratno,



Saya disini tidak bermaksud utk menjawab pertanyaannya yg sama sekali

bukan pertanyaan yg mudah. Tapi sedikit meramaikan diskusi kita. Saya

malah sekarang ingin tahu, kenapa pertanyaan spt ini muncul? Mesti ada

latar belakangnya? Penelusuran filsafat spt apa yg sudah dilakukan shg

sampai ke pertanyaan spt ini? Kalau saya sbg gurunya, mestinya Mas Imam

sudah mendapat extrapoint karena pertanyaan ini.



Pertanyaan "apakah planning adakah suatu reality?" Kenapa pertanyaannya

spt ini dan kemudian dikaitkan dg perencanaan transrational?

Transrational sendiri saya terjemahkan sebagai sesuatu diluar atau

sesudah rational. Spt kita ketahui ada pre-rational, rational dan

transrational. Kalau kita analogikan dg posmo, kalau rational adalah

kata kunci dari modernism, maka transrational bisa jadi kata kunci dari

posmo. Tolong bantu saya bgm mengkaitkan reality ke transrational?



Sepemahaman saya, reality sering disandingkan dg theory, i.e. theory

versus reality, theory meets reality, from theory to reality, etc. Shg

pertanyaannya bisa saya rephrase menjadi "apakah planning adalah suatu

theory?", dan jawabannya adalah bukan, tapi planning punya beragam

teori, theories of planning. Analogi yg sama bisa kita pakai utk

reality, planning punya beragam realities, realities of planning. Spt

pernah saya sampaikan sebelumnya, planning menurut saya adalah kegiatan

sistematis utk membentuk masa depan di ranah publik (systematic attempts

to shape the future in the public domain).



Mungkin jawaban spt ini, bukanlah yg diharapkan. Btw, saya berharapan

respon  ini bisa memancing diskusi lebih lanjut utk pengembangan

pengetahuan kita bersama.



Deden Rukmana



--- In [email protected], Media Multi Gerak Bandung

<mmgband...@...> wrote:

>

> perkenalkan saya imam... selama ini hanya melihat-lihat mailist ini...

tapi ada

> kegundahan yang tidak bisa saya tahan dan butuh bantuan dari

pakar-pakar dan

> orang pinter di sini. mudah-mudahan kehausan saya bisa terobati....

>

> saat ini saya sedang berpikir tentang konsepsi PERENCANAAN TRANS

RASIONAL,

> karena selama ini saya melihat bahwa teori perencanaan yang berkembang

masih

> mendasarkan pada pandangan positivism. memang benar perkembangkan

perencanaan

> saat ini sudah sampai pada perenc berbasis rasional komunikatif yang

berlandas

> pada Habermas. yang kalo saya tidak salah dia sudah mengembangkan

teori berbasis

> [post]modernisme yang banyak menjadi insipirasi buat perncanaan

komunikatif....

> mohon koreksi klo saya salah...

>

> saya berpikir bahwa perencanaan sebagai sebuah pengetahuan tentu

merupakan

> maujud pengetahuan dari Sang Maha Pengetahuan. oleh karena itu,

perencanaan

> tidak hanya dilihat dari konteks materialism..tetapi harus beyond

> rasionality....seperti bagaimana Ken Wilber mengembangkan konsep

> integralistiknya..

>

>

> pertanyaan pada bapak-bapak atau rekan-rekan...

>

> 1. apakah perencanaan merupakan sebuah realitas????

>

> 2. bila perencanaan merupakan realitas, bagaimana eksistensi ilmu

perencanaan?

> apakah ada di alam mental sang perencana dan stakeholder ataukah

memang ada

> eksistensi di alam nyata?

>

> mungkin 2 pertanyaan dulu yang saya tanyakan sebelum ada rangkaian

pertanyaan

> lainnya.....

>

> maaf atas pertanyaan bodo saya karena selama ini saya mencoba mencari

buku

> filsafat perencanaan belum ketemu aja.... mohon info klo ada yang bs

bantu

> memberikan buku2 tersebut

>

> thanks

>

>

> Imam Indratno

>

>





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke