cuma sekedar nambahin, soalnya saya agak risih dengan statmen yang saya beri garis tebal. setahu saya, ....hukum poligami yang termaktub dalam Alquran itu tidaklah sunnah, dan juga jelas sekali kalau Allah SWT tidak sekali2 menganjurkannya karena akan mendapatkan pahala. Mungkin ada yang menyebut sunnah karena Rasulullah melakukannya. sunnah memang artinya jalan atau ada yang mengartikan seperti aliran sungai yang tidak putus dan sifat sunnah itu sendiri adalah Laa tabdiila (tidak berubah), Laa tahwiila (tidak menyimpang) dan Qodrum maqduro (dan pasti). Jadi, sunnah itu bukan hanya arti hukum wajib, sunnah, mubah dll
asal katanya sendiri jalan. jadi klo dibilang nikah adalah sunnahku, misalnya, artinya nikah itu jalan nabi/cara nabi. hukum nikah sendiri bisa wajib, sunnah, mubah, makruh, bahkan haram. tergantung kondisinya. begitu juga dengan poligami, yang sebenarnya nikah juga. hukumnya bisa berbeda2 sesuai dengan kondisi /figh waqi, jadi belum tentu dapet pahala :-p sebagai contoh pendapat Mahmud Syaltut (mantan syekh Al Azhar) yang mengatakan hukum poligami adalah mubah dgn syarat adil dan tidak terjadi penganiayaan antar istri. Menurut Zyamahsyani, poligami adalah rukhsah seperti halnya keringanan bagi musafir atau orangyg sakit untuk tidak berpuasa. M. Rasyid Ridho menggaris bawahi kondisi-kondisi ttg diperbolehkannya poligami sbb: mandul, istri mempunyai penyakit, dan punya hasrat seks yg besar. Nah, kalo ternyata poligami yang dilakukan justru mendatangkan banyak keburukan karena ternyata tidak dibekali ilmu yang cukup dan tidak mengikuti sifat sunnah itu sendiri, pastilah menjadi haram hukumnya. *saya jadi bertanya2, apakah memang ada yang benar2 mengikuti sunnah/jalan/cara nabi berpoligami seperti halnya yang dicontohkan nabi, dan tidak sekedar beristri lebih dari satu? *mohon maaf kalo tidak berkenan, karena saya juga masih cetek ilmunya dan info berharga ini juga diperoleh dari diskusi teman2 milis perempuan muslimah, fahima. QiDHiR Abdul Salam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: ngasih komentar.... Kalau hukumnya di Alqur'an.. poligami itu tidak wajib, seandainya wajib, semua laki-laki pasti keberatan.. untungnya sunnah jadi tidak dikerjakan gpp kalau dikerjakan dapat pahala.... itu hukumnya begitu dan gak boleh mengharamkan yang dihalalkan atau sebaliknya...itu aja tapi kalau sudah melibatkan perasaan...itu udah masalah pribadi ..terserah masing-masing individu..tp jangan karena perasaan, hukumnya dirubah..itu yg gak mungkin...karena alqur'an dak bisa dirubah lagi. --- Arifa Murti Untoro wrote: > Assalamualaikum semua... > Ikutan kasih pendapat boleh ya.... > > Saya sendiri bingung dengan keberanian kaum saya > (baca: laki-laki) yang melakukan poligami. Saya suka > berpikir, sebenarnya apa yang dicari di poligami? > Kenikmatankah? Surgakah? Atau "kah-kah" yang > lainnya? Dengan tidak mengurangi rasa kpd rekan2 > sekalian yg membahas ini dari sisi keimanan, coba > kita pikir dari sisi perasaan. Atau setidaknya kita > sebagai kaum laki2, coba deh untuk menempatkan diri > kita sebagai kaum perempuan. Kalo gak salah istilah > Inggrisnya: "Put yourself in others shoes" (Moga2 > bener tuh tulisannya...) > > Pernah terpikir gak oleh kita sbg kaum laki2, bahwa > ketika kita melakukan poligami ,mungkin saja, tidak > senang dengan tindakan tersebut. Ketika saya melihat > di TV bagaimana seorang ibu yang datang ke pengajian > Aa' Gym, dan secara lugas menyatakan ketidaksetujuan > terhadap poligami yg dilakukan oleh Aa' Gym, saya > kembali berpikir. Walaupun keputusan poligami adalah > keputusan pribadi dan hanya melibatkan keluarga kita > sendiri, tapi kita harus ingat, kita juga sebagai > mahluk sosial yang tentunya berinteraksi dengan > keadaan dan pribadi2 lain di luar lingkaran > kehidupan kita. Harap pikir2 baik u/ mereka yg > berpoligami, bagaimana pengaruhnya terhadap > perkembangan psikologis anak. Walaupun mereka sudah > diberi pengertian, tapi ketika mereka diluar > lingkungan pengawasan kita, tentunya akan dihujani > pertanyaan2 dari orang lain seputar tindakan > poligami yang dilakukan ayahnya. > > Berpikir soal itu, saya lalu menanamkan semacam > prinsip (atau apalah namanya itu...) bahwa ketika > saya menikah nanti (Oalah...ternyata saya sendiri > belum menikah, tokh. Ckckck...) saya hanya mau punya > 1 istri. Amin... > > PS: Kalo ada yg mau menanggapi, tolong tulisannya > jgn yg terlalu"berat". Kasihan otak saya. Bikin > tulisan yg cm spt diatas saja susah banget mikirnya. > > > --ARIFA M. UNTORO-- > PROJECT EXECUTIVE > > Satrio Wicaksono Indepth Consulting > > Address : Jln. Masjid Al-Anwar No. 46 Jakarta > Barat 11540 Phone /Fax : (021) 530-5050 / (021) > 548-3862 > > > > > > ----- Original Message ---- > From: Lusiana M. Hevita > To: [EMAIL PROTECTED]; Jip 92 > ; [EMAIL PROTECTED]; > [email protected] > Sent: Wednesday, December 6, 2006 1:41:28 PM > Subject: [sma1bks] Noon Coffee Break > > > > > > > > > > > > > > > Noon Coffee Break > > Siapa hayoo yang setuju poligami? ckckck..para > pria ngacung semua :p > Wah, topik poligami ada di mana-mana nih, ya di > televisi, internet, majalah, koran.. cerpen di > femina terbaru juga topiknya tentang itu. Pro dan > kontra yang kayaknya berlangsung sepanjang abad > ya... Sejak jaman dulu juga poligami sudah ada. > Bedanya, karena sekarang komunikasi dan informasi > sudah jauh lebih maju, berita seputar ini lebih > mudah diekspos. > > Tapi, ada perubahan apa ya yang terjadi di diri > para perempuan? Apa karena perempuan makin 'cerdas', > makin besar kiprahnya, isu ini jadi mencuat 'tajam'. > Kalau ingat kata dosen saya yang Ph. D itu, "dunia > ini memang didominasi laki-laki", makanya peperangan > dan segala jenis alat bantunya, bisa berkembang > dengan sangat pesat. Kalau perempuan yang dominan, > mungkin ga ada > tuh perang... Dunia akan lebih aman-nyaman, tenang, > damai... tapi diujungnya dosen saya menambahkan, > "dan mungkin TI juga tidak bisa sepesat sekarang.." > hihi..bagusnya setelah TI pesat, perempuan yang > mendominasi, soale kudu banyak belajar biar ga gatek > :)) > > Karena kasus poligami ini, para perempuan keluar > dari 'kandangnya' dan 'mengaum'. Nyaris semuanya > menyatakan 'menolak' dengan terang-terangan (ini > cerita yang saya ambil dari acara Subuhnya di masjid > Darut tauhid lhoo, khususnya respon ibu-ibu). Kalau > para prianya sih... pastinya sangat sedikit yang > berada di barisan ibu-ibu hehehe... > > Nyokap juga ikutan sewot, adik saya yang cewek > juga ikut nambah-nambahin. Kalo disurvey ibu-ibu di > erte saya juga kayaknya 99% sewot semua.. Kalau ada > yang nggak sewot dianggap nggak normal, contohnya ya > saya...hahaha. > "Situ sih belom nikah, coba aja ntar..." > eeit, kok jadi bawa-bawa status neh... > > > Menurut saya, kalau suami poligami artinya dia > sudah menyakiti perasaaan istrinya. Jadi ya itulah > sikap yang dia pilih. Konsekuensinya harus siap, > sama seperti istri. Kalau dia 'mengijinkan' > suaminya, ridho dan ikhlas, berarti siap dengan > konsekuensinya. Hidup itu kan pilihan. Menikah, > tidak menikah (bedain dengan yg belum menikah), > poligami, monogami, punya satu anak, banyak anak dll > semua kan pilihan. Jadi ya masing-masing punya > konsekuensi kan? Poligami ada konsekuensinya, > monogami juga... Yang banyak anak belom tentu lebih > bagus daripada yg belom punya anak, demikian juga > yang sebaliknya. > > Monogami juga belom tentu lebih bagus dari yang > poligami, demikian juga sebaliknya. So..kayaknya > tinggal gimana ngejalaninnya ya... kita yang > outsider perasaan ga perlu sewot...hehehe, itu sih > pendapat saya lhooo... > > Di sini aja dingin, kenapa situ yang panas.... > kayak iklan rokok...:) > > > ps. > dicari: pria yang tidak ingin menyakiti > istrinya.... hihihi > > > > > > > > > > > > > Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a > more powerful email and get things done faster. > > > > > > > > > > > --------------------------------- Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people who know.
