CAMILLA GIBB
   
    Halo guys, lagi baca buku apa sekarang?
  Atau apa buku or artikel terakhir yang dibaca? Jangan jawab abis baca surat 
undangan atau tagihan lho ya :p
   
  Buku terakhir yang saya baca adalah “What is Six Sigma?” (86 hal saja), 
gara-gara dapet tugas bikin laporan workshop yang bulan lalu saya ikuti buat 
Newsletter kami. Nggak sampe kelar sih, soalnya pas halaman-halaman terakhir 
udah nggak gitu menarik karena makin rumit hehehe. Sekarang lagi baca novel 
Sweetness in the Belly, Penguin Books, 2007 – karena penasaran sama isinya. 
Kebetulan penulis novel ini, Camilla Gibb baru saja datang berkunjung ke 
Indonesia dan jadi tamu istimewa saya dan teman-teman di FLP. Saat ke 
Indonesia, pihak kedutaan Kanada memang ingin mempertemukan Camilla dengan FLP. 
Wah asyik nih begini, nggak perlu pake lobi, semua biaya ditanggung bahkan kami 
masih diberi souvenir dari Kedubes Kanada.
   
  Meski baru menulis tiga buah novel (tapi puluhan essay dan review), 
karya-karyanya sudah memperoleh banyak penghargaan (kalau mau liat buka di 
www.camillagibb.ca ). Yang menarik dari dia adalah, Camilla baru-baru ini 
mengundurkan diri dari kampus tempat bekerjanya dan memutuskan jadi penulis 
fulltime.
  “Berani begitu nggak, Vit?” bisik Kang Irvan, ketua FLP yang kebetulan duduk 
di samping saya waktu diskusi berlangsung.
  Keluar dari tempat kerja dan menjadi penulis fulltime? Hmm, itu memang jadi 
impian saya…:D
   
  Camilla adalah Ph.D bidang sosial antropologi, karirnya di bidang akademik 
mungkin jauh lebih menggiurkan daripada ‘sekedar’ jadi penulis.  Hanya saja ia 
lebih tertarik menjadi penulis fiksi, dan mengakui bahwa menulis tesis (tulisan 
ilmiah dan akademis) itu kering. (Yup, memang! Bete banget nulis tesis hihihi). 
Dan tulisan ilmiah cuma dibaca oleh kalangan tertentu sedangkan novel yang 
notabene fiksi, bisa dibaca jutaan orang di seluruh dunia. Ketika menulis 
ilmiah, Camilla mengaku kehilangan banyak hal, “..where is emotion, where’s 
colour, where’s texture…” katanya. Wah...
   
  Saat membaca novelnya, saya jadi seperti mendengar suara Camilla. Penulis 
Kanada yang rendah hati, hangat, bersahaja, terbuka dan sangat-sangat 
bersahabat. Sebagai anak dari imigran asal Inggris, dia terbiasa hidup di 
lingkungan multikultural. Tidak heran kalau novelnya yang saya baca ini tokoh 
utamanya seorang perempuan muslim yang taat. Dan buat yang sudah membacanya, 
akan sulit membayangkan kalau Camilla, penulisnya, sebenarnya adalah seorang 
non muslim. Menurut Camilla, andai banyak dibuka dialog Barat dan Timur, Islam 
dan Kristen, kita akan memiliki pemahaman yang jauh lebih baik dan dapat 
bekerjasama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
   
  Meski novelnya mengundang kritik Barat karena dianggap terlalu ‘halus’ dalam 
mensikapi Islam, Camilla tengah menyiapkan buku selanjutnya yang masih 
mengusung hal yang sama. Sebelum diskusi berakhir, Camilla menantang kami di 
FLP untuk menulis buku-buku yang lebih dapat memberikan gambaran yang benar 
tentang Islam. “Di Barat mereka haus bacaan yang bisa memberikan penjelasan 
tentang Islam yang benar.” Ok deh Camilla, tunggu aja ya…hehehe pede banget sih 
;)
   
   
   
   









 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.

Kirim email ke