Anda pengguna angkutan umum dan sering pulang malam? Kalau iya,
mungkin pernah ngalamin apa yang akan saya ceritakan berikut ini.
Malam itu angkot yang saya tumpangi berhenti di lampu merah. Tiba-tiba
seseorang menggebrak body angkot, keras sekali.
Emangnya elu doang yang cari makan?!
Ini jelas bukan suara polisi.
Sopir angkot langsung turun, terbakar emosi. Di luar saling adu mulut, sampai
beberapa orang berusaha melerai. Nggak mempan. Begitu polisi turun tangan, mau
tidak mau kedua orang itu menghentikan pertengkarannya. Berhenti? Ternyata
tidak. Orang yang menggebrak angkot kami ternyata supir angkot juga. Begitu
lampu menyala hijau, angkot lawan mendahului. Kira-kira seratus meter berjalan,
angkot kami dihadang angkot yang barusan. Masih penasaran rupanya.
Lagi-lagi pak supir keluar, dan kembali bertengkar. Rupanya supir angkot
lawan tidak terima di dahului angkot yang saya tumpangi. Ini menyangkut masalah
sewa. Karena di dahului otomatis para calon penumpang naik angkot yang di
depan kan?
Lu nggak liat, mobil gua ketutupan motor-motor!! Lu maen nyalip aja
supir
baru ya??!!!
Angkot lawan memang kosong melompong akhirnya, sementara angkot yang saya
tumpangi lumayan penuh.
Tiba-tiba angkot yang saya tumpangi digoyang-goyang supir angkot lawan dengan
keras.
Turun semua!!!
Nah lho, kok sewa dibawa-bawa. Mana kite tau urusan nyalip-menyalip mereka
ya? Sepertinya supir angkot lawan bener-bener marah besar. Setelah puas
menghancurkan kaca spion dengan tinjunya, yang nyaris bikin antar supir baku
hantam, supir angkot lawan kembali melaju kencang mendahului angkot kami.
Wah, sepertinya acara belum selesai. Dalam keadaan deg-degan kami para
sewa menunggu kejadian selanjutnya. Kira-kita satu kilometer kemudian,
lagi-lagi angkot kami dihadang. Kali ini yang menghadang tidak hanya supir yang
barusan. Rupanya pak supir angkot lawan mengadu pada pemimpinnya. Tampak
seorang bapak berbadan gempal turut campur. Lagi-lagi adu mulut terjadi.
Sekarang gini, lu bawa dulu sewa sana. Jangan ngorbanin sewa. Trus kita
selesaiin di sini abis itu
kata si Bapak bertubuh gempal itu.
Kami kemudian diantar sampai ke tempat tujuan, setelah itu angkot berputar
arah kembali ke tempat mereka janjian. Rupanya, supir angkot yang saya tumpangi
memang supir baru. Mungkin dia akan disidang. Sepanjang jalan tadi, kami para
sewa Cuma bisa diam memperhatikan, sambil sesekali saling berbisik, mencoba
memahami apa yang terjadi. Memang, masalah ini masalah mereka. Hukum yang
berlaku pun hukum jalanan, sesuai dengan kesepakatan tidak tertulis antar
mereka.
Yang saya pahami hanyalah bahwa, hari sudah malam. Sudah sampai ke batas
waktu angkot tidak boleh ngambil sewa lagi karena giliran jatah tukang ojek.
Tapi bisa jadi setoran masih sedikit, atau tidak banyak uang lebih yang bisa
dibawa pak supir pulang buat makan anak istrinya. Kesempatan yang ada dia pakai
untuk nyari sewa sebanyak mungkin karena ngejar setoran. Tapi niatannya
terhalang supir angkot baru. Yang tidak tahu sopan santun main salip dan
mengambil sewa yang seharusnya jadi rejekinya supir angkot yang tadi.
Hal yang sama pernah (kalau tidak ingin dikatakan sering) saya alami,
setiap saya pulang malam (karena sesuatu dan lain hal). Pak supir taksi pernah
ada yang mengeluh, saat kami tawar-menawar harga tanpa argo.
Udah malam mbak, dari tadi pagi keluar saya Cuma bisa ngantongin duit 20rb
perak
Bentar lagi pulang
.
Malam memang akhir dari kehidupan setelah seharian kerja. Di akhir malam
itulah para pedagang, juga para supir, menghitung hasil akhir usahanya. Mungkin
tak seberapa uang lebih yang mereka terima. Apalagi mencari penumpang semakin
hari semakin sulit. Angkot lebih banyak yang kosong, apalagi di luar jam-jam
sibuk.
Sekarang susah cari sewa. Orang banyak yang naik motor
.
Yah, kalau sudah begini, sulit mengharapkan mendapatkan kenyamanan di
kendaraan umum. Bisa sampe rumah dengan selamat saja udah untung
hehehe.
---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.