"Mereka menolak membuktikan, mereka belum siap berdemokrasi, karena mereka tak 
menghormati proses panjang wakil rakyat mendiskusikan RUU ini,” terang 
Muzammil. 
 
Mereka juga tidak siap berdemokrasi karena menganggap bahwa materi RUU ini 
sudah siap dan tidak lagi mendengar aspirasi rakyat kebanyakan.
 
Auh ah gelap..kalo mo Pemilu pada jadi pahlawan kesiangan...ngomongin porno 
lah, nasi aking lah, petani miskin lah....alih-alih Joko Edi waktu di Apa Kabar 
Indonesia Malam sampe bilang "anda mo berak disini"...

 
It's only a transition...

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
omongkosongku.blogspot.com
answerlieswithin.multiply.com
  
 



----- Original Message ----
From: susanto . <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]
Sent: Tuesday, September 23, 2008 9:21:14 PM
Subject: [sma1bks] 5 Kekeliruan Berpikir Bagi Penolak RUU Pornografi


"Mereka menolak membuktikan, mereka belum siap berdemokrasi, karena mereka tak 
menghormati proses panjang wakil rakyat mendiskusikan RUU ini,” terang 
Muzammil. 

 
Jakarta - Meski RUU Pornografi akan segera disahkan, pro kontra terhadap RUU 
ini tak kunjung usai. Jika kubu penolak menilai RUU pornografi hanya akan 
mengekang kebebasan berekspresi dan mengancam integrasi, lain halnya bagi kubu 
penolak. PKS bahkan menuding para penolak telah sesat pikir.

"Yang menolak RUU Pornografi telah melakukan lima kekeliruan berpikir. Pertama, 
melupakan nilai-nilai agama yang diagungkan oleh pancasila yang berarti 
mengagungkan aturan luhur,” kata anggota FPKS Al Muzammil Yusuf pada wartawan 
di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis ( 18/9/2008).

Menurut anggota Komisi I DPR ini, selain melupakan nilai agama, para penolak 
RUU Pornografi juga dinilai tidak siap berdemokrasi. Alasannya, proses panjang 
dan dialektika antar fraksi yang sudah berjalan lama tidak dihargai semestinya.

"Mereka menolak membuktikan, mereka belum siap berdemokrasi, karena mereka tak 
menghormati proses panjang wakil rakyat mendiskusikan RUU ini,” terang 
Muzammil. 
Selain 2 alasan di atas, Muzammil menilai penolakan kelompok tertentu pada RUU 
Pornografi membuktikan mereka tidak siap menjadi bagian dari keluarga besar 
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Mereka melupakan amanat UUD 45 pasal 31 ayat 3 bahwa pendidikan nasional 
bertujuan meningkatkan iman taqwa dan ahlaq mulia. Selain itu, mereka 
meremehkan upaya penyelamatan generasi muda dan anak,” kata Muzammil.

Muzammil juga menilai bahwa penolakan ini lebih menuruti ide kebebasan Barat. 
"Para penolak RUU lebih terinspirasi dan mewakili ide kebebasan Barat yang 
nyata-nyata gagal melindungi rakyatnya dari bahaya pornografi,”pungkasnya. 

________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai! 
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.  


      

Kirim email ke