Rekan-rekan, Sebenarnya kami di AWARI sudah mengusahakan agar Warnet memiliki peraturan menteri tersendiri yang mengatur jelas posisi warnet. Bahkan draft-nya sudah beredar, walaupun ada yang bernada sinis tentang isinya, kami tetap menganggap aturan dan posisi yang jelas jauh lebih baik daripada berada di posisi abu abu dan bisa jadi sasaran tembak yang lemah. kalau merujuk ke aturan yang ada sekarang memang ada celah. Celahnya adalah berikut: - Warnet termasuk dalam industri telekomunikasi - Ijin industri telekomunikasi adalah kewenangan pusat/kementerian. - Namun kementrian sendiri cuma menyatakan secara lisan bahwa untuk warnet tidak perlu ijin khusus ( ini celahnya, tidak ada pernyataan tertulis)
kemudian jika merujuk lagi pada pembagian wewenang pusat - daerah, maka wewenang pemkot/pemda adalah pengawasan dan pembinaan, Sayangnya: belum semua diskominfo (karena keterbatasan sumber daya) di daerah mengerti apa yang harus mereka lakukan sebagai wujud pengawasan dan pembinaan tersebut. Jadi sebenarnya disini sudah jelas bahwa tidak diperlukan ijin khusus untuk pendirian Warnet. statusnya sama saja dengan usaha umum lainnya. beberapa daerah melalui perda yang mencoba membuat perijinan warnet semuanya dibatalkan oleh Depdagri, karena berlawanan dengan aturan di atasnya. Saya sudah sampaikan ini di Rakornas Kemkominfo di depan Dirjen Postel dan Dirjen Aptel, dan dihadapan kadis kominfo seluruh Indonesia. Jadi seharusnya tidak ada kebingungan. Memang ada saja oknum yang mencoba bermain. Makanya dari dulu sampai sekarang anda semua saya ajak agar bersatu di bawah AWARI. Karena "gangguan" itu bukan cuma berbentuk software dan pornografi, tapi perijinan dan gangguan lainnya dalam berusaha. Sayang sekali nanti ada masalah baru ngomel, tapi kalau di ajak bergabung malah nanya untungnya apa. Salam, Irwin Day Pada 13 November 2010 13.50, ali <[email protected]> menulis: > > > Benar sekali pak! > untuk sobat milis yang lain, perlu diketahui bahwa peraturan daerah (perda) > pada masing-masing daerah berbeda-beda. sedangkan proses penyusunan serta > pengesahan suatu perda memerlukan waktu yang tidak sebentar, selain itu > perlu adanya sosialisasi kepada pihak-pihak terkait, bukan hanya pada saat > penyusunannya namun juga saat perda tersebut telah disahkan. > oleh karena itu tidak sepatutnya kita merasa takut jika belum mendapat > bukti kongkrit mengenai perda, petunjuk pelaksanaan (juklak) serta info > terkait dari asosiasi yang kita naungi. > > Sekedar sharing, untuk bidang pekerjaan saya yg lain (bukan warnet) pernah > terjadi tarik-menarik antara propinsi dan kota mengenai salahsatu retribusi. > kedua2nya mengaku memiliki dasar hukum, namun setelah ditelusuri lebih > dalam, retribusi kami masuk wilayah kota bukan propinsi. > > ----- Original Message ----- > *From:* Onno W. Purbo <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Thursday, November 11, 2010 2:31 PM > *Subject:* Re: [asosiasi-warnet] Re: Perizinan Warnet kenapa sama dinas > pariwisata ya > > > > > saya posting ya ke > > http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/WARNET:_Taktik_mengatasi_pemalakan_Aparat > > Kalau perlu kita angkat lebih tinggi lagi > keterlaluan kalau WARNET sampai di palakin seperti ini > masa sih KOMINFO angkat tangan aja?? > harus sounding ke MENKOMINFO-nya sekalian .. > > On Thu, 11 Nov 2010, Adi Jayanto wrote: > > > > > > > anda masih termakan birokrasi berbelit. jangan mau pikiran anda dibawa > "jalan" dengan oknum seperti itu. > > > > yang harus anda tanyakan adalah: > > > > - apa dasar hukumnya (perda / uu / etc.) > > - dimana mengurusnya > > - berapa biayanya > > > > lalu anda urus SENDIRI (kalo sempat). sekian. > > > > kalau anda masih mau dibawa birokrasi berbelit, seperti cerita dibawah, > ya sebaiknya selamat makan ati terus. sebab dari cerita anda, andalah yang > tampak seperti > > "memohon" dan "minta tolong", please don't do that. > > > > tips gampang: > > > > jangan ngaku anda adalah pemilik usaha, bilang anda datang disuruh oleh > pemilik usaha (kalo punya istri/suami, manfaatin untuk buat surat kuasa) dan > ditugaskan > > untuk mengurus hal seperti ini. > > > > kalau misal ngeyel harus pemilik usaha yang datang, tunjukkan surat > kuasa. itu SEHARUSNYA cukup sebab jarang ada peraturan yang mengharuskan > pengusaha datang > > sendiri (emang pendaftaran PNS apa?). > > > > tanyakan DETAIL prosedur, dan aturan yang berlaku. jika mereka tidak bisa > menunjukkan, JANGAN RAGU UNTUK MELAWAN. jadilah 'pengacara' untuk diri anda > sendiri dulu. > > > > jika anda langsung diminta uang pelicin, bilang saja, "saya harus bicara > sama bos saya dulu". keluar ruangan, dan pura2 telepon. kalau anda tidak > bersedia ngasih > > pelicin, bilang gak mau. kalo dia gak mau ngasih surat tertentu, bilang > anda sudah penuhi semua persyaratan (pastikan anda juga sudah memenuhi semua > persyaratan), > > jadi "berikan hak saya, atau nama anda ada di koran". > > > > 2010/11/11 iwan <[email protected] <kelingking%40gmail.com>> > > Terima kasih atas jawaban rekan - rekan sekalian yang menjadi > pertimbangan buat saya, setelah saya datang ke kantor camat , ternyata saya > sudah ditunggu > > tunggu sepertinya atau bisa dibilang cuma saya yang datang sebagai warnet > yang bermasalah , yang saya tahu masih banyak warnet yang berdekatan, > setelah > > saya tanya kenapa warnet saya doang yang diperiksa kelengkapan suratnya > kenapa yang lain tidak alasannya sederhana saja "setelah saya dari tempat > bapak > > saya keluar lalu hujan jadi ngak keburu melihat lihat jadi langsung > pulang saja" bisa saja alasannya padahal setahu saya hujan saja bisa menjadi > > alasannya ck ck ck, kebetulan bapak yang dari dinas pariwisata ini > katanya baru di pindahkan ke kantor camat 1 oktober jadi masih baru dan > belum > > mengenal daerah nya jadi warnet saya yang pertama diurus oleh katanya > hoki saya diurus olehnya daripada oleh aparat gabungan yang memeriksa yang > katanya > > bisa banyak instansi yang datang ke warnet ntar , setelah itu saya > dijelaskan syarat apa yang dibutuhkan izin bla bla bla lalu langsung saya > disuruh > > menulis surat pernyataan untuk bahwa saya mau membuat surat izin dengan > batas waktu tertentu 1 bulan dengan materai 6000. wahh saya kaget kenapa > musti > > surat pernyataan segala seperti saya hutang uang saja, dibilangnya sih > buat lapor keatasan camat dia , yang katanya mau nya laporan nya secara > tertulis > > saja , tidak omongan saja ok saja saya bilang kalau begitu saya ketemu > ketua camat saja kasih tahu langsung bahwa saya sudah tahu dan akan > memproses > > ijin nya (bisa dibilang camatnya ada di ruang sebelah sedang tau ngapain, > kenapa saya bilang tau ada pak camatnya ,karena dari saya dateng pertama > kali > > juga dibilang saya ditunggu pak ketua camat) sepertinya pejabat itu susah > diketemui juga yah, lalu setelah berdebat panjang akhirnya kan saya putuskan > > tidak mau menandatangani surat pernyataan itu , saya langsung dibilang > seperti ini " udah ngak apa apa ngak usah tanda tangan tapi saya ngak tau > yah > > kalau dari kelurahan atau instansi lain mungkin bisa datang ke warnet > bapak memriksa izin nya yang mungkin bisa menyegel usaha bapa , karena untuk > bapak > > tahu usaha bapak itu ILEGGAL," wah wah saya sepertinya diancam ini karena > secarik kertas pernyatann materai 6000 ini, lalu saya bilang bapak jangan > > mengancam saya dong, dia bilang ohh bukan saya mengancam bapa tapi > membantu bapak soalnya misalkan bapak sudah menandatangi surat ini , ntar > kalo ada > > yang datang ke warnet bapak minta izin ntar cukup telepon saya ntar saya > bantu beresin.hmm seperti jebakan rupanya. setelah timbang timbang saya > tidak > > menandatangi apapun cuma berjanji saya akan bikin izin tentu bukan sama > orang itu :P , beberapa percakapan yang cukup aneh adalah saya ditawarkan > > minuman dan rokok yang saya ngak mau, tapi dia kemudian bilang wahh di > sini panas yah (ruangan camat nya tidak berAC) wah bapak boleh nih beliin > saya AC > > , ckckck saya punya ac warnet rusak aja dah banyak dan juga belum > perbaiki apalagi beli baru dah persaingan banyak omset turun, masih > dipersulit juga , > > itu hasil pertemuan saya di kantor camat, moga moga birokrasi bisa > berubah mempermudah usahawan bukannya mempersulit atau pun mengancam, kalau > ada izin > > saya mau bikin kok tapi jangan memaksa bayar sana sani supaya cepat , > setelah pulang dari sana aja saya diberitahu RT setempat bahwa orang lurah > > menyuruh saya cepat cepat buat ijin nya (surat domisili Rp 500.000 Tanda > Tangan Lurah , + Rp 200.000 Tanda tangan camat) wah wah makin kacau saya > > bisnisnya dah listrik blum bayar sebagian masih ada kayak gini , bikin > deg deg kan aja. sosialisasi ijin nya kayak apa aja blum jelas dah gesek > sana > > sini. setelah liat situasi kantor camat yang gimana gituh saya pikir urus > sendiri bisa dikerjaiinn nih ,ini bisa dibilang konspirasi lurah +camat > +dinas > > pariwisata ,saya akan coba biro jasa saja dulu atau mungkin rekan > sekalian ada rekanan yang bisa bantu buat ijin bisa PM saya , Terima kasih, > moga ini > > tidak terjadi pada rekan warnet sekalian khususnya di jakbar ini, saran > saya cepat cepat bikin ijin lengkap biar ngak dikeraiin seperti ini. > > Salam > > > > > > > > > > > > -- > > Adi D. Jayanto > > BLOG: http://electrohide.blogspot.com > > Q&A: http://formspring.me/adjayanto > > > > -- via archive mail 2010 > > > > > > > > > > > > > > > -- Salam, ID http://irwinday.web.id/

