Aliran Sesat atau Gangguan Delusi?

Nalini Muhdi Agung

Komunitas Eden. Komunitas surga ala Lia Aminuddin telah disikapi
dengan dua cara pendekatan. Pendekatan keamanan sudah dilakukan lewat
penahanan Lia dengan alasan mengganggu serta meresahkan masyarakat.
Dengan pendekatan agama, MUI menstempel komunitas Lia sebagai aliran
sesat.

Tidak adakah wajah lain yang bisa dilihat dari aktivitas "komunitas
Eden" tersebut? Padahal, kalau kita mau menyimak lebih luas,
semestinya pihak keamanan, kaum agamawan, serta masyarakat bisa lebih
arif menyikapi dan komprehensif dalam melihat permasalahan ini.

Tak cuma kasus Lia yang baru saja terjadi. Ingatan kita masih segar
dengan kasus sekte Hari Kiamat di Bandung lebih dari setahun lalu.
Atau kasus aliran Madi di Palu, sinkretisme Islam dengan animisme.

Tidak hanya di Indonesia, di Amerika pun pernah heboh oleh kasus
People's Temple-nya Jim Jones yang berbunuh diri ria bersama 900
pengikutnya dengan menenggak soft drink "rasa" sianida di Guyana pada
tahun 1978. Begitu pula pada tahun 1997, masyarakat di sana dikejutkan
dengan kasus Heaven's Gate yang melakukan tindakan serupa. Masih
banyak lagi kelompok sewarna yang luput dari pemberitaan.

Gejala delusi

Masalahnya, tak dapat dimungkiri bila tidak sedikit komunitas seperti
itu dipelopori oleh pemimpin yang sejatinya sedang menampilkan gejala
psikiatrik berupa suatu delusi atau waham kebesaran (delusions of
grandeur atau megalomania) yang melekat sebagai gejala gangguan
delusional. Jadilah mereka pemimpin kelompok keagamaan yang sangat
karismatik bagi pengikutnya, atau menjadi dukun, paranormal, atau
orang yang punya kesaktian. Meskipun bukannya menuduh semua orang yang
mempunyai "kelebihan" ini mengidap gangguan jiwa.

Waham kebesaran yang kebetulan berisi "pesan religius" bisa berupa
keyakinan absolut bahwa mereka mendapatkan wahyu lewat bisikan atau
mimpi (yang tak lain adalah halusinasi ataupun ilusi) yang mengatakan
mereka adalah titisan orang suci, malaikat, nabi, bahkan Tuhan atau
mereka diberi kekuatan linuwih untuk bisa menyembuhkan orang sakit
atau menyelamatkan umat manusia. Lantas didukung oleh lingkungan yang
kebetulan kondusif bagi mereka dan kian menetap menjadi suatu delusi
kebesaran. Tanpa suatu intervensi psikiatrik yang memadai, gejala
tersebut menggelinding bagai bola salju, kian besar dan aneh, makin
menguatkan sistem delusinya, tetapi uniknya kian diminati oleh
pengikutnya.

Gangguan delusional oleh DSM-IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorders) dianggap sebagai suatu gangguan psikiatrik dengan
gejala utama adalah delusi atau waham. Umumnya pengidapnya tak
menampakkan adanya disintegrasi kepribadian atau adanya keanehan pada
aktivitas kesehariannya. Mereka tampak "baik-baik" saja, kecuali
menyangkut sistem wahamnya semata yang abnormal. Tak heran,
lingkungannya tak menganggap mereka sebagai "orang sakit", tetapi
justru orang yang sakti mandraguna dan dipuja. Banyak dari mereka ini
lalu mengisolasi diri dari lingkungan dan hidup secara eksklusif
dengan kelompoknya.

Kerentanan psikologis

Yang menjadi pertanyaan, kenapa ada saja bahkan kian banyak yang rela
menjadi pengikutnya atau memercayai hal-hal yang kerap tak masuk akal
ini. Bila dicermati, umumnya pengikut yang mempunyai kepatuhan luar
biasa ini adalah mereka yang membawa potensi kerentanan psikologis
tertentu. Mereka umumnya sangat penurut (submissive) dan suggestible.

Ciri lain adalah orang-orang yang sedang mencari "ketenteraman hati"
untuk mengatasi kecemasan, tekanan hidup, ketegangan, labilitas emosi,
keterasingan, dan serba ketidakpastian dalam memandang masa depan.
Mereka juga rentan menjadi pengikut setia dari kelompok "aliran sesat"
maupun yang dianggap "tidak sesat" (coba amati fenomena maraknya
kondisi saat ini dengan munculnya "kelompok warna-warni" mulai dari
kelompok dzikir nasional yang sampai menangis-nangis histeris,
meditasi, tenaga dalam "jarak jauh", terapi ruqyah, pelatihan
kepribadian, dan sederet lain yang banyak menyedot penonton maupun
peminat).

Beberapa pemimpin kelompok menyodorkan tawaran yang kerap tidak
memberi solusi yang holistik, bahkan mungkin solusi yang hanya
dirasakan "sesaat" akan terciptanya kondisi emotional well-being yang
sedang diburu pengikutnya ini. Tak jarang—dalam konteks "aliran
sesat"—bila pemimpinnya betul-betul menderita gangguan delusi,
pengikutnya juga menjadi rentan untuk terinduksi oleh sistem waham
yang dipunyai pemimpin kelompoknya. Kondisi yang sebetulnya lebih
melibatkan cara pendekatan kesehatan mental.

Munculnya banyak aliran atau kelompok yang dianggap sesat ini tentu
ada faktor pemicu lainnya selain masalah psikiatrik dan psikologis,
yaitu masalah ekonomi, ketidakadilan, ketidakseimbangan sosial,
pendidikan, dan kultural. Masalahnya, mampu dan maukah masyarakat
(termasuk pemerintah, perangkat hukum, serta para pemuka agama)
melihat permasalahan kasus Lia Aminuddin dan sederet lainnya bukan
semata-mata permasalahan yang hanya dilihat dari "bahasa permusuhan
dan penghakiman" semata (Komaruddin Hidayat, Kompas, 3/1/2006)?

Kelompok yang langsung direaksi MUI dengan fatwa "aliran sesat" dan
dihakimi masyarakat itu sebetulnya mesti dikaji lebih jernih dulu.
Lebih komprehensif dan tidak emosional. Apakah hal ini memang
disengaja serta disadari risikonya oleh si pendiri kelompok sehingga
harus diatasi lewat pendekatan keamanan serta agama, atau sebenarnya
tidak sengaja terbentuk karena "berangkat" dari masalah mental yang
diidap pemimpinnya yang memang sering kali sangat karismatik, terutama
dari pancaran sinar matanya yang menyorot tajam dan mampu membius
pengikutnya!

Mari semua komponen duduk satu meja, untuk masalah apa saja,
senyampang masih bisa bicara….

Nalini Muhdi Agung Psikiater di RSU Dr Soetomo/ FK Unair, Surabaya






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke