Olmert Akui Nuklir Israel JERUSALEM, SELASA - Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menyulut kegemparan melalui ucapannya yang menyatakan Israel memiliki senjata nuklir. Dalam wawancara di stasiun televisi N24 Sat1 saat berkunjung di Jerman, Olmert secara tidak sengaja mengakui Israel adalah salah satu negara pemilik senjata nuklir. "Iran, secara terbuka, eksplisit, dan umum mengancam untuk menghapus Israel dari peta dunia. Dapatkan Anda katakan bahwa ini sama levelnya ketika Iran ingin memiliki senjata nuklir seperti Perancis, Amerika, Rusia, dan Israel," ujar Olmert dalam tayangan televisi tersebut, Selasa (12/12). "Kami tidak pernah mengancam negara mana pun dengan penghancuran," kata Olmert dalam tayangan tersebut. "Israel adalah sebuah negara demokrasi, Israel tidak mengancam negara mana pun dengan apa pun, tidak pernah. Yang kami lakukan untuk kami sendiri adalah mencoba hidup tanpa teror," ujarnya. Pernyataan itu, oleh banyak pengamat, didefinisikan sebagai akhir dari politik ambiguitas yang selama ini dianut Israel. Negara itu dipercaya memiliki sejumlah besar senjata nuklir, tetapi terus menolak untuk mengakui atau menyangkalnya. Isu kepemilikan nuklir Israel mencuat hari Selasa pekan lalu saat Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengungkapkan di depan rapat Senat bahwa Israel memiliki nuklir. Gates mengatakan, Iran ingin memiliki senjata nuklir. "Iran ingin memiliki senjata nuklir karena dikelilingi negara yang memiliki senjata nuklir: Pakistan di timur, Rusia di utara, Israel di barat, dan AS di di Teluk Persia," ujar Gates. Pemerintah Israel menyerukan kepada semua pihak untuk menghentikan pembicaraan dan tidak lagi berkomentar soal senjata nuklir. Israel bersikukuh masih menjalankan politik ambiguitas, tidak mengakui dan tidak menyangkal, soal kepemilikan senjata nuklir di negara itu. Para pejabat Israel langsung menolak bahwa sikap politik itu sudah bergeser. Juru bicara Olmert, Miri Eisen, menuturkan, Olmert tidak bermaksud mengatakan bahwa Israel memiliki atau ingin memiliki senjata nuklir. "Tidak, dia tidak mengatakan hal demikian," katanya. Kemarin, Menteri Pekerjaan Umum Israel Benjamin Ben Eliezer menyatakan dukungannya terhadap politik ambiguitas. Dia tidak melihat pernyataan Olmert sebagai pengumuman kepemilikan nuklir Israel. "Saya menyarankan kepada semua pihak yang ingin berbicara tentang isu itu, demi keamanan Israel, tolong hentikan," katanya dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio militer. Juru bicara Menteri Luar Negeri, Mark Regev, mengatakan, Olmert hanya bermaksud mengategorikan empat negara itu untuk membedakan dengan Iran dan tidak merujuk pada kemampuan atau keinginan Israel atas nuklir. Pejabat senior Israel mengatakan, ucapan Olmert sepenuhnya salah ucap dan tidak direncanakan sebelumnya. "Ini sangat memalukan bagi Israel ketika menghadapi isu sensitif semacam itu. Tetapi, hal itu tidak mengubah apa pun. Kebijakan kami tetap sama," katanya. Tuntut mundur Pernyataan Olmert telah memicu kemarahan di dalam negeri, bahkan sejumlah pejabat menuntut Olmert mundur dari jabatannya. "Pernyataan mengejutkan dari Ehud Olmert hanya menguatkan keraguan atas kemampuannya untuk tetap menjadi perdana menteri," kata politisi sayap kiri Tossi Beilin. Oposisi sayap kanan Likud Yuval Steinitz menyerukan Olmert untuk mundur setelah membuat pernyataan salah yang tidak disengaja, dan mempertanyakan kebijakan yang sudah diterapkan selama hampir setengah abad itu. Politik ambiguitas sudah diterapkan Israel sejak tahun 1960 dalam sebuah persetujuan dengan AS dan Perancis. Para pengamat memperingatkan bahwa pernyataan Olmert mengancam upaya Israel dan negara Barat untuk mencegah Iran memiliki dan mengembangkan senjata nuklir. Mordechai Vanunu, yang dipenjara 18 tahun setelah memperingatkan kepemilikan nuklir Israel pada 1986, menyambut gembira pernyataan itu. "Ucapan Olmert bukanlah hal baru, tetapi bagus jika Israel memutuskan untuk memublikasikannya," ujar Vanunu. "Seharusnya dunia sekarang tidak hanya membicarakan Iran, tapi juga Israel sebagai ancaman, sehubungan dengan kesepakatan untuk membuat Timur Tengah bebas nuklir dan damai," katanya. (AP/AFP/REUTERS/FRO)
