Siapa Bilang Indonesia Miskin!

Imam Cahyono

Kemiskinan seolah menjadi fakta tak terbantah. Indonesia dikenal
sebagai salah satu negara berpenduduk termiskin di dunia, sekitar
39,05 juta jiwa versi Badan Pusat Statistik atau lebih dari 100 juta
jiwa versi Bank Dunia. Jika ambang batas kemiskinan (poverty
threshold) diukur dari kegagalan pemenuhan hak-hak dasar (basic
rights) atau dengan skala pendapatan di bawah 1-2 dollar AS per hari,
kita sulit mengelak.

Kegagalan menangani bencana, rentetan wabah penyakit, dan tragedi
busung lapar melengkapi potret buram itu. Kemasyhuran zamrud
khatulistiwa dan lautan kolam susu kian diragukan. Bagaimana mungkin
negeri yang kaya sumber alam dan bertanah subur justru menjadi ladang
persemaian tragedi kemiskinan?

Sebuah paradoks

Namun, mari kita gunakan logika terbalik. Selama ini, diagnosis
problem kemiskinan cenderung mengabaikan kekayaan bangsa —yang
kasatmata— dan orang-orang kaya di republik sebagai faktor determinan.
Di tengah kemiskinan yang menjerat, ada manusia-manusia superkaya
kelas dunia. Majalah Forbes Asia (18/9/2006) merilis daftar 40 orang
superkaya Indonesia, dengan total kekayaan 22,27 miliar dollar AS atau
lebih dari Rp 200 triliun. Celakanya, di antara daftar taipan
superkaya itu bercokol pemain lama, termasuk pembobol uang negara yang
mengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Hasil survei Merrill Lynch dan Capgemini tahun lalu juga tidak kalah
heboh. Menurut kedua perusahaan jasa keuangan internasional itu,
sepertiga jumlah miliarder di Singapura adalah warga Indonesia.
Sepertiga dari total aset 55.000 orang terkaya di Singapura, sebesar
260 miliar dollar AS, adalah milik warga Indonesia (WNI) yang punya
izin tinggal tetap di sana. Dari 55.000 orang terkaya itu, 18.000
orang adalah WNI yang berdomisili di Singapura dengan kekayaan 87
miliar dollar AS (sekitar Rp 800 triliun). Belum lagi jika ditambah
kekayaan WNI yang disimpan dan diinvestasikan di negara lain. Padahal,
RAPBN 2007 saja hanya berkisar Rp 713,44 triliun.

Pada masa kolonial, darah dan keringat rakyat serta kekayaan alam
Nusantara dikuras Belanda. Kini, kekayaan Indonesia menjadi tulang
punggung negara lain. Bukan rahasia lagi, Singapura merupakan negara
yang tergantung uang gelap dari Indonesia dan China. Ironisnya, para
miliarder yang bermukim di sana tetap memiliki perusahaan yang
beroperasi di Indonesia dengan mengandalkan pasar Indonesia. Kendati
para miliarder tinggal di Singapura, mereka masih mencari untung
dengan mengeruk kekayaan Indonesia.

Dominasi pemodal asing

Lantas, seberapa besar kekayaan bangsa yang dapat dinikmati rakyatnya?
Globalisasi ditandai pergerakan modal secara bebas, melampaui
batas-batas negara- bangsa. Indonesia ternyata menjadi surga bagi
pemodal asing yang bergiat menguasai sumber daya yang vital. Investor
asing melihat Indonesia sebagai penyedia bahan baku yang murah dan
melimpah serta penduduknya sebagai pangsa pasar yang potensial. Kita
pun cenderung salah kaprah memaknai investasi asing sebagai suntikan
dana segar dari pemodal. Padahal, aliran modal asing itu sejatinya
menjadi parasit yang mengisap. Mereka beternak uang dengan menumpang
mencari makan di republik ini.

Kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah selalu menjadi incaran.
Nama-nama besar Freeport, ExxonMobile, Newmon, dan Inco yang menguasai
sumber-sumber kekayaan alam potensial seperti emas, nikel, gas, dan
minyak bumi jelas bukan hal baru. Untuk air minum berlabel Aqua,
berasal dari mata air dan dikemas di republik ini, harus kita beli
dari Danone dengan harga yang tidak murah. Yang diuntungkan pun para
pemodal.

Sektor finansial, terutama perbankan, juga tak lepas dari cengkeraman
pemodal asing. Jangankan bank-bank papan atas seperti Bank Central
Asia (BCA), Bank Niaga, Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia
(BII), Bank Lippo, Bank Bumiputera, NISP, Permatabank, bank-bank kecil
pun dilirik investor asing. Belakangan, penjualan bank swasta kepada
investor asing kian gencar. Celakanya, kebanyakan bank swasta yang
dimiliki asing itu lebih menggantungkan perolehan keuntungan dari
Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang tak lain adalah uang negara.
Laba triliunan rupiah yang didapat dari uang rakyat itu kembali ke
kantong para investornya.

Dominasi pemodal asing di bidang perbankan tak lepas dari aturan yang
membolehkan batas kepemilikan saham asing hingga 99 persen. Batas
kepemilikan bank oleh pihak asing di Indonesia jauh lebih liberal
dibanding negara lain. Amerika Serikat, negara dedengkot kapitalisme,
hanya memberi kepemilikan asing 30 persen. Filipina membatasi
kepemilikan asing 51 persen. Thailand dan India sebesar 49 persen.
Malaysia, China, dan Vietnam membatasi hingga 30 persen.

Sektor-sektor vital lain pun tak lepas dari serbuan investor asing.
Industri telekomunikasi pelan tapi pasti juga dikuasai modal asing.
Sektor ritel dan sektor lainnya pun terus digempur pemain asing,
sementara para pemain lokal kelabakan. Kibaran bendera modal asing
menggerogoti ruang gerak sektor usaha putra-putra bangsa. Ironis, saat
kekayaan republik ini bisa menghidupi orang asing, anak-anak negeri
sendiri justru telantar.

Jumlah penduduk Indonesia yang besar sejatinya merupakan sumber tenaga
kerja yang berlimpah. China dan India menjadi raksasa ekonomi dengan
memanfaatkan penduduknya sebagai tenaga kerja yang produktif. Jika
republik ini dikelola dengan tegas dan saksama, dikawal penegakan
hukum, penciptaan lapangan kerja, redistribusi keadilan sosial dengan
mengutamakan kepentingan rakyat, Indonesia tidak pantas menjadi negara
miskin.

Sebaliknya, Indonesia bak raksasa yang sedang tidur. Jika bangun, ia
bisa menggegerkan dunia!

Imam Cahyono Peneliti, Tinggal di Jakarta 

Kirim email ke