Membangun Jembatan
Minggu, 21 Desember 2008 | 01:26 WIB
Siti Musdah Mulia (50) dikenal sebagai salah satu feminis Muslim 
terkemuka di Asia. Ahli Peneliti Utama itu terus mengkaji teks 
literatur Islam secara kritis untuk menghapuskan ketimpangan jender 
dalam ajaran pokok Islam. Itulah salah satu caranya memperjuangkan 
kesetaraan dan keadilan antarsesama manusia dan sesama ciptaan-Nya. 
Buku-buku karyanya terus bermunculan.

Musdah dikenal sebagai tokoh perdamaian dan nirkekerasan yang secara 
konsisten membangun jembatan antariman, keyakinan, dan budaya di 
Indonesia dan memiliki komitmen kuat pada kemanusiaan tak bersekat. Ia 
termasuk satu dari sedikit tokoh yang berani membela agama-agama lokal 
dan mereka yang dituduh menghina agama resmi.

Kerja besar itu bukan tak menuai kontroversi. Dia menjadi sasaran 
terdepan dari mereka yang memiliki motif politik tertentu. Namun, 
Musdah tak mau ditundukkan rasa takut. Bagi dia, membela keberagaman 
Indonesia seharusnya dilakukan oleh setiap warga negara yang memahami 
sejarah negeri ini.

Dia juga berani membela korban yang secara politik terus mengalami 
stigmatisasi karena pernah mengalami situasi yang sama ketika ayahnya 
menjadi anggota DI/TII. "Dalam politik selalu ada yang harus 
dirugikan," katanya.

Terus berproses

Dilahirkan sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Musdah kecil 
bercita-cita menjadi dokter. "Tetapi, mana mungkin karena sejak kecil 
saya harus belajar agama di madrasah," kenangnya.

Kakek dan neneknya sangat tradisional. Ia sempat dilarang ikut MTQ 
setelah kelas IV SD, karena kata kakeknya, perempuan itu suaranya 
aurat. Ia dilarang ikut lomba baca puisi Arab waktu kuliah di Fakultas 
Adab Jurusan Sastra Arab dengan alasan sama. Setelah lulus kuliah, ia 
dilarang bekerja di BKKBN yang dikatakan kakeknya sebagai lembaga 
sekuler.

Neneknya melarangnya tertawa keras. "Katanya, suara tawa perempuan 
mengundang setan," kenang Musdah. "Nenek juga melarang makan beberapa 
jenis ikan yang mengandung hormon tinggi supaya tidak genit," kenang 
ibu dari dua anak itu.

Sejak berusia 14 tahun, setiap malam ia harus mengenakan setagen 2 
meter supaya pinggangnya tetap kecil. Karena khawatir tingginya 
menjulang seperti tiang listrik, setiap Jumat malam sang nenek 
menyuruhnya menjinjing lesung mengelilingi rumah tujuh kali sambil 
membaca selawat. Neneknya menunggu di depan rumah.

Sang nenek ini mengirim ibunya ke pesantren tradisional di kota. "Ibu 
saya adalah perempuan pertama yang keluar dari desa. Nenek tak peduli 
kata tetangga," kenang Musdah.

"Mertua saya adalah Tuan Guru dari Bima yang tidak berpoligami. Beliau 
sangat bijak. Ucapan dan tindakannya seirama," ujarnya tentang ayah 
dari sang suami, Prof Dr Ahmad Thib Raya, MA.

Hobinya berkebun dan mendengarkan Mozart serta instrumen piano dari 
Richard Clayderman di kala senggang tak pernah boleh dirusak oleh 
suasana di luar. Ia senantiasa melindungi diri dengan keyakinannya 
akan kebenaran, kebahagiaan, dan cinta karena dukungan yang terus 
mengalir dan menguatkan, khususnya dari keluarga. (MH/NMP)

Kirim email ke