Sangat tdk setuju sistem sharia identik dgn simbol2 jengot dan celana 
mengantung dan perihal blm mengeliat pangsa sharia byk faktor salah satu  
sosialisasi dan dukuingan infrastruktur seperti dunia perbankan sangat 
menonjolkan informasi teknolgi tdk difungkiri lagi hal tersebut liat BCA , 
mandiri dgn dukungan network atm dan channel lainnya menjadikan bank terbesar. 
Begitu halnya juga yang diharapkan oleh financial sharia dan untuk menuju ke 
arah sana harus didukung salah satu faktor tersebut. Untuk itu yang diharapkan 
dukungan sesama pemerhati, pelaksana kegiatan ekonomi sharia untuk terus 
mendukung dan berjuang bersama.    Wasalam
Sent from myBlackBerry® - Doels 9000


-----Original Message-----
From: suryadhs dharmasyam <[email protected]>

Date: Tue, 26 May 2009 09:07:38 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH 
BERBAU SARA


Salam,
 
Menurut saya komentar seperti sangat tidak berlandasan dan sangat subjektif 
melihat dari sudut pandang yang dangkal. dan dia bener2 mengangkat isu keluar 
dari pada jalur sudut tentang keberadaan ekonomi syariah di indonesia.seakan2 
akibat simbol ekonomi syariah seperti yang dia ucapkan sebagai satu gambaran 
bisnis yang seram..yang seramnya dimana???butakah dia?dangkalnya pemikirannya 
seperti ini? pembicaraan seperti ini tidak menandakan sikap seorang yang 
mempunyai ilmu yang semestinya semakin tinggi dia belajar dan semakin tinggi 
mencari ilmu mestinya semakin tinggi juga cara pola berpikir dan berbicara dan 
semakin merendah dalam bersikap..
 
terimah kasih
Surya
Kuala Lumpur
 


Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih 
lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya 
pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang 
ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi 
dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini. 
--- On Tue, 5/26/09, Fahmi Basyah <[email protected]> wrote:


From: Fahmi Basyah <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH 
BERBAU SARA
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 26, 2009, 6:21 AM













Komentar saya: 
 
Saya berkeyakinan apa yang disampaikan Mr Fiz bukan bermaksud "menimbulkan 
konflik di kalangan umat Islam" apalagi berbau "SARA" ataupun "Tendensius" .
 
Ada baiknya kita mengambil sisi positif dari pernyataan Mr Fiz, sebagai 
evaluasi atas implementasi ekonomi syariah yang secara realitas memang belum 
ideal.
 
Pun jika ada komentarnya yang menurut beberapa pihak membuat ketidaknyamanan, 
ada baiknya diklarifikasi langsung dan diskusi dengan yang bersangkutan.
 
Sejauh yang saya kenal, beliau cukup terbuka untuk menerima masukan, terlebih 
beliau juga bagian dari Saudara kita sesama muslim yang bisa jadi dikarenakan 
latarbelakang pendidikan sekularnya, memiliki persepsi yang kurang pas tentang 
ekonomi syariah.
 
Salam,
 
Fahmi Basyah
 
------------ --------- --------- --------- ------
Bumiputeramuda 1967, General Insurance
Sharia Division
 
Jl. Wolter Monginsidi No. 43
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12180
Phone : +6221 7234849, 72788574
Facs.  : +6221 72787952
Email  : fa...@bumida. co.id
Sites   : http://www.bumida. co.id
 
-------Original Message----- --
 

From: Faozan Amar
Date: 05/26/09 15:35:03
To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
Subject: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU 
SARA
 









Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di 
Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan 
conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau 
pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya 
sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : 
berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi 
dekan? Mohon komentar anggota milis



Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.JAKARTA - Dekan 
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum 
bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di 
Kemasan Syariah Kurang Menarik
Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.

JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, 
masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di 
Indonesia karena para pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk 
syariah dengan menarik. 
"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia 
dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia 
menyarankan agar pelaku bisnis syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah 
menjadi lebih keren, bersahabat, dan tidak angker. 
Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih 
lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya 
pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang 
ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi 
dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini. 
Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih banyak kendala 
lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah bank konvensional, 
termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata masyarakat agak alergi 
dengan produk-produk yang berbau sektarian seperti Islam," ucapnya. 
Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main sendiri, benak 
konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank konvensional dalam membuat 
analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa hal, mekanisme bagi hasil juga 
mengacu pada suku bunga. 
Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini sulit meningkatkan 
persentase asetnya dari total aset perbankan nasional. Persoalannya adalah 
kurangnya tenaga profesional di bidang syariah. Saat ini aset bank syariah 
masih sebesar 2,2 persen dari total aset perbankan nasional. 
"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5 persen," kata 
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat lalu. Dia menjelaskan, 
pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun terakhir sangat pesat. Namun, 
perbankan syariah masih kekurangan sumber daya manusia sekitar 15 ribu orang. 
EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI

 























      

Kirim email ke