Berburuk sangka? Apa maksudnya? Apakah menurut Anda pekerjaan guru
PNS itu part-timer? Gimana sih Anda ini? Apakah kalau gajinya masih
seperti sekarang ini maka guru PNS BOLEH bekerja seenak hatinya, dan
baru akan bersedia bekerja penuh kalau gajinya sudah seperti di
negara lain? Pantasan Indonesia kacau karena orang dengan sekualitas
Anda pun ternyata bersikap plin-plan. :-) Sorry to say this. Di satu
pihak bersedia menjadi PNS dan menyatakan bersedia mematuhi semua
aturan kepegawaian. Tapi di lain pihak tidak bersedia memenuhi
aturan tersebut dengan alasan karena gaji terlalu kecil! Gimana sih?
Coba jawab, apakah para guru PNS itu bekerja parttimer atau full
timer? Apakah para guru PNS itu harus menunggu gajinya seperti di
luar negeri baru MAU bekerja fulltimer? Kalau semua orang
menggunakan logika seperti Anda maka SEMUA orang akan bekerja
seenaknya. Polisi, tentara, pegawai kantor, akan minta bekerja 4
hari saja karena mereka juga berhak untuk menyatakan bahwa gaji
mereka tidak cukup cuma parttimer, seperti alasan Anda).
Saya justru heran Anda kok mati-matian membela prilaku yang
menyimpang seperti ini. Quo vadiz, Pak Manneke? :-(
Salam
Satria

--- In [email protected], Manneke Budiman
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Di situlah masalah Anda. Saya sendiri baru mau menilai setelah
melihat buktinya. Bukan dengan cara berburuk sangka. Makanya, kalo
banyak miliser beberapa waktu lalu berpendapat bahwa Anda tak punya
emati pada guru, mereka tak salah. Etos kerja bukanlah variabel yang
berdiri sendiri. Etos kerja turut ditentukan oleh banyak faktor,
termasuk imbalan yang layak untuk beban kerja yang dituntut dari
para guru.
>
>   Anda tak dapat menuntut mereka kerja "full-time" dengan
gaji "part-time", Bung. Sementara, filosofi Anda justru kebolak-
balik: di mata Anda, Anda justru merasa guru sudah digaji "full-
time" (apa betul? Sudah layakkah besaran gaji guru untuk jam kerja
yang dituntut dari mereka?), tapi kerjanya cuma "part-time." Inilah
menurut saya yang merupakan cara pandang kebalik itu. Tapi, karena
Anda sudah keburu bangga dengan teori Anda bahwa guru di Indonesia
dibayar "full-time" tapi kerjanya "part-time," maka biar sudah
dikasih tahu banyak orang tentang betapa memprihatinkannya kondisi
guru di negeri ini, Anda tetap saja ngeyel dengan teori yang buta
akan realitas itu.
>
>   Saya tak perlu repot-repot mencarikan atau memberi Anda data
soal jam kerja guru, Pak. Kan yang selalu ribut soal jam kerja guru
itu Anda, bukan saya? Jadi, silakan dicari sendirilah. Concern saya
pada saat ini yang utama adalah pada kesejahteraannya alias imbalan
yang diterima guru, bukan banyaknya jam kerja. Absurd sekali kalo
mau ribet soal jam kerja, tapi menutup mata pada kondisi hidup para
guru itu.
>
>   Inilah cara berpikir gaya pejabat: cuma bisa nuntut orang harus
begini atau begitu tanpa peduli pada bagaimana cara memberi imbalan
layak kepada mereka sebagai harga yang harus dibayar bagi pemenuhan
atas tuntutan tersebut.
>
>   Sekali lagi saya harus katakan di sini, Anda ini ngakunya sangat
kenal kehidupan guru, tapi kok dari postingan Anda terkesan bahwa
Anda ini sama sekali tak tahu apa-apa soal kondisi mereka dan tak
peduli pada kondisi tersebut. Taunya cuma mengkritik soal jam kerja
mereka, yang konon jauh di bawah guru Hawaii yang bergaji lebih dari
$40.000 dolar itu.
>
>   manneke

Kirim email ke