Mengikuti diskusi antara rekan Manneke dan rekan Satria, mengingatkan saya akan diskusi antara rekan Manneke dan Daskopilental beberapa waktu soal "budaya".
Kembali disini saya melihat dua belah pihak baik rekan Satria atau rekan Manneke tidak salah dalam statements mereka, hanya landasan pemikiran (sudut pandang) yg dijadikan dua belah tidak sama, maka terkesan ada perbedaan prinsip disitu, kalau masing pihak mau mengalah membahas satu persatu dari point masing2 yg dijadikan pegangan, maka saya yakin bahwa diskusi anda berdua akan lebih produktif, dalam arti akan membuka wawasan baru bagi anda berdua. Betapapun, guru adalah sebuah profosi,disitu dituntut profesionalitas kita secara penuh, disini mencurahkan semua energy dan waktu sangat dituntut, hal ini selaras dgn konsekwensi atas pilihan profesi yg telah kita buat. Termasuk disini adalah menerima realitas bahwa honor/ gaji guru sangat rendah, ini satu hal yg harus dicarikan solusinya. Kata-kata "rendah" itu sendiri juga relatif sufatnya, jadi rekan Manneke dkk harus juga melihat variable yg menyertainya. Misal perbandingan; Tanyalah pada abang beca, andai mereka sanggup dan kapable, lebih memilih profesi apa dia, apakah tetap sebagai abang beca atau berganti menjadi guru yg -katanya- gaji mereka rendah tersebut? Disisi lain, point rekan Manneke juga tidak bisa disalahkan, REALITA yg ada menunjukkan rendahnya honor /gaji para Guru, menuntut para guru untuk bekerja extra, yg mana artinya mereka harus mengerahkan extra waktu dan extra energy mereka untuk sesuatu yg secara profesional "tidak dihargai dgn materi" juga tidak bisa dilakukan. Saya melihat adanya pemaksaan "idealisme" disini untuk membaca sebuah "realitas", disisi lain, saya juga melihat adalah politisasi situasis dan kondisi untuk menambah nilai pada satu jenis profesi. Saya kira, kita harus lebih realistis dan proporsional dalam melihat satu fenomena, dalam kasus guru ini misalnya; menuntut mereka berekrja 15.50 jam tanpa ada konpensasi materi sementara kita sadar betul akan kondisi finansial para guru (yg katanya parah itu) jelas bukan satu sikap yg bijak, ini bertentangan dgn prinsip penghargaan pada profesionalitas itu sendiri. Namun demikian bersifat pasif atau apatis pada peningkatan kualitas mereka (dilihat dgn hasil kerja mereka) karena kondisi dan situasi yg ada tidak berpihak pada mereka juga bukan satu sikap yg bisa dibenarkan, masing-masing harus berjalan sambil mencari solusi, kasus-kasus seperti ini masu tak mau harus menyinggung dunia politik, karena dari situlah segala deal soal gaji PNS dll itu bermuara, Salam --- In [email protected], Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > That's my point, Sensei Deddy. Kerja guru tak bisa diukur dengan kriteria pegawai kantoran, yang setiap hari harus mulai dari jam 9 sampai jam 5. Namun, sobat kita Pak Satria yang konsultan Diknas ini ternyata tak nangkep juga. Jadi deh kami bicara tak habis-habisnya. > > Kalo Sensei Deddy tak mau ikuti "sampah" ini, di-skip aja atau di-delete langsung. Memang buat orang yang interest-nya tidak di soal ini, mengikuti debat saya dan Pak Satria hanya akan buang-buang waktu. Tapi saya tak akan membiarkan suatu pemikiran yang menurut saya sangat misleading untuk lewat begitu saja tanpa koreksi. > > Jadi akur ya? Saya juga mimpi masuk Harvard dan MIT, bukan UI. Namanya juga mimpi, boleh dong? He he he... > > manneke
