--- In [email protected], Haniwar Syarif 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Manneke,
> 
> saya juga tertarik sekali dengan tulisan anda di posting lain sbb :
> 
> 
> Maka itu, dalam debat soal poligami, misalnya, fokus kita perlu 
spesifik 
> pada poligami yang menyebabkan KDRT, bukan poligami secara abstrak 
dan umum. 
> Ini akan banyak memudahkan pembicaraan,,,,

L: Tentu saja anda memilih batasan2 yang memudahkan anda sendiri, 
tetapi menyulitkan lawan diskusi anda.

Anda tak bisa membatasi orang lain menurut batasan selera sendiri, 
misalnya membatasi pembicaraan poligami pada KDRT sebab bisa saja 
ekses terburuk dari poligami (baik lewat kawin siri atau lewat KUA) 
bukan cuma ekses2 yang terkait KDRT. 

Sesungguhnya ekses negatif poligami bisa juga berupa eksploitasi 
dengan kekayaan atau kekuasaan sebagai alat untuk mendapatkan istri 
kedua, ketiga, dsb. Sebaliknya, keberadaan poligami secara resmi 
bisa juga memberi ekses berupa godaan2 pada para wanita untuk 
memanfaatkannya sebagai 'alat' mencari kekayaan atau status secara 
gampang lewat poligami dg orang2 kaya.

Kasus MM dg mantan Mensesneg M, juga kasus A dengan pengusaha dari 
Martapura (sebelumnya A kawin siri dengan seorang penyanyi), dsb, 
merupakan ilustrasi yang bagus.

> Tanpa menyatakan poligami terlarang, buatlah
> posisi poligami sebagai  sesuatu yang sebisa
> bisa dihindari..justru dengan dalil agama 
> misalnya dnegan merujuk fakta bhw nabi tidak 
> pernah berpoligami semasa istri pertamanya
> hidup 

L: Nasehat yang indah untuk para pemuka agama, 
tetapi nasehat ini tak bisa ditulis dalam UU dong.
sebab isi dan penilaian suatu UU thd suatu prilaku
hanya ada dua kemungkinan:

a. melarang prilaku tsb, atau 
b. membolehkan prilaku tsb,

tak ada alternatif yang ketiga 

c. boleh, tetapi tak dianjurkan.

> Mengenai  kesetaraan gender.., muslimah yg 
> saya kutip ucapannya,Bu Darfiana Nur, adalah
> seorang pakar, yang kini jadi dosen di 
> sebuah uiniversitas di  Australia. Lucu dengar
> cerita dia... ketika  masuk keruang kuliah.

L: Saya pernah kenal dan ketemu Darfiana 
ketika dia baru saja selesai dari ITB
(sekitar tahun 1988). Saya kenal dan masih sering
ketemu kakak kandungnya.

Salam

Kirim email ke