Mbak Dinda,

Memang sangat memprihatinkan apa yang selama ini banyak dipertontonkan kepada 
masyarakat melalui layar kaca, khususnya dalam berbagai sinetron, yang 
cenderung mengangkat masalah-masalah kasuistik untuk dijadikan konsumsi umum 
yang pada gilirannya akan mematri dalam pikiran dan pandangan pemirsa bahwa 
fenomena seperti itu sudah biasa dan menjadi kebiasaan masyarakat kita.

Kalau mbak Dinda menyebutnya itu sebagai pembodohan, saya mendukung. Bahkan itu 
proses pendunguan (menjadikan orang menjadi dungu). Memang orang boleh saja 
komentar, "ya kalau tidak suka tidak usah menonton" atau "kalau memang tidak 
pengen terpengaruh ya jangan menonton"; tapi masalahnya tidak sesederhana itu. 
Banyak di antara pemirsa kita tidak memiliki kekuatan daya saring (filtering) 
terhadap apa yang disuguhkan di layar kaca atau di bergai media lainnya.

Maka saya usul, hendaknya para produsen sinetron dan acara publik itu 
menggunakan logika sosial yang tepat sehingga tidak mengambil kesimpulan tanpa 
premis-premis minor yang mencukupi untuk ditarik kesimpulan yang lebih umum.

Makasih.


  ----- Original Message -----
  From: Titiana Adinda
  To: Forum PembacaKompas ; Milis Perempuan ; Milis Media
  Sent: Monday, March 12, 2007 1:43 AM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Keresahanku menonton sinetron Hidayah di RCTI


  Keresahanku menonton sinetron Hidayah di RCTI

  Tadi malam (Minggu,11 Maret 2007) aku menonton sinetron hidayah di RCTI yang 
berjudul: “Perkawinan Janda Gila Harta” yang dimainkan oleh Novia Ardhana dan 
Sutan Goergi.

  Dan benar saja keresahanku kalo seorang perempuan apalagi seorang janda 
mendapatkan stereotype atau penilain miring di sinetron tsb.Digambarkan janda 
tersebut menceraikan suaminya demi menikah dgn lagi dgn seorang pemuda yang 
kaya.Tetapi sang janda digambarkan masih berbuat mesum dengan bekas 
suaminya.Belum lagi karakter ibu sang janda yang sangat matre (gila 
harta).Pokoknya cerita dalam sinetron itu pembodohan sekali dan amat streotipe 
terhadap perempuan.Perempuan (apalagi janda) digambarkan culas,suka 
uang/matre,dan memanfaatkan tubuhnya untuk memanfaatkan lelaki.

  Menurutku sinetron2 kaya itu adalah pembodohan terhadap masyarakat sama saja 
dengan sinetron Office Boy dimana perempuan yang berperan menjadi Saschya itu 
bodoh,tidak pernah kerja,kerjaannya dandan melulu.(lihat tulisanku juga ttg 
sinetron OB ini di 
http://layarperak.com/news/tv/2006/index.php?id=1164312649).Juga di Trans TV 
ada sinetron Bajaj Bajuri dimana penggambaran sosok perempuan yang diperankan 
oleh Oneng (Rieke Dyah Pitaloka) sbg sosok yang bodoh dan Emak (Nani Wijaya) 
yang digambarkan sebagai sosok yang mata duitan dan culas.

  Ada apa sebenarnya dengan penulis skenario sinetron kita?Dan barangkali apa 
yang ditulis oleh para penulis skenario mewakili pandangan umum org kebanyakan 
yaitu sangat stereotype thd perempuan.Aku ingin sekali para penulis sinetron 
itu dididik agar lebih peka gender dan tidak terus menerus memojokkan perempuan.

  Lalu pertanyaan aku adalah dimana nih peran Komisi Penyiaran 
Indonesia?Jangan-jangan mereka ikut dalam pemberian stereotype thd 
perempuan.Habis sampai sekarang sinetron kita begitu mulu sih ceritanya.

  Trus selamat ya buat para aktivis perempuan yang tadi malam hadir di Kerajaan 
Mimpi;news.com di Metro TV.Sayang sekali proses pemintaran seperti ini hanya 
sedikit sekali waktunya bagi perempuan untuk mencerdaskan bangsa.Aku juga baru 
lihat mbak Mariana dari Jurnal Perempuan di acara itu.Selama ini aku hanya 
mengenalnya lewat komentar-komentarnya yang tajam di milis forum pembaca kompas 
saja.Kalo mbak Nia Sjarifudin,mbak Yeni Rosa Damayanti,Ibu Ndari,dan mbak 
Masruchah sih udah beberapa kali ketemu.Ok,sekian dulu komentarku.Makasih.

  Salam,

  Dinda


  Kunjungi blog aku di:
  http://titiana-adinda.blogspot.com/


Kirim email ke