2) Saya jelaskan lebih pelaaaan lagi: Tindakan atau nilai yang dihasilkan oleh interaksi individu dengan lingkungannya, yang Anda sebut moral sense itu berhenti ketika individunya mati.
Artinya begini, kalau individunya biasa menghalalkan menipu, bukan berarti nanti anaknya penipu juga. Hanya kalau nanti ternyata tetangga-tetangganya juga tukang tepu maka si anak ini akan menjadi penipu akibat pengaruh budaya sekitarnya. Sama sekali bukan karena gen bapaknya. Kalau lantas satu kampung itu turun temurun jadi penipu hingga ratusan tahun kemudian menipu itu dianggap halal, itulah evolusi nilai moral di kampung tersebut. Tidak bisa disalahkan ke gen-nya. Evolusi berdasarkan seleksi alam tidak berlangsung akibat penyesuaian diri dengan lingkungan seperti itu, Pak. Evolusi (biologis) selalu berdasarkan PUNAHNYA individu yang tidak mampu bersaing, dus tidak mampu meneruskan keturunannya. Saya baru terima kalau Anda bilang nilai moral itu sebagai hasil evolusi (biologis) kalau premis Anda adalah: manusia jujur punah, sehingga hanya manusia yang dari sononya tukang tipu yang berketurunan. Ngerti tidak Anda sekarang bedanya evolusi secara biologis dan evolusi secara budaya? Hasil interaksi dengan lingkungan itu TIDAK DITURUNKAN. Makanya saya bawa-bawa Lamarck karena Anda sepertinya percaya bahwa pengaruh lingkungan terhadap individu itu hereditary alias bisa diturunkan ke anak cucu. Pandangan seperti itu yang ketinggalan 200 tahun. 3) Saya tidak menyinggung agama tertentu. Saya bilang, orang-orang yang berpijak pada agama (dan ini jumlahnya buaaanyak) akan bilang tidak ada yang namanya relativitas moral. Kalau Anda tidak ikut ajaran moral menurut kitab suci saya, either Anda masuk neraka atau Anda turun lagi ke bumi sebagai kodok bangkong. Dus membantah kalimat Anda bahwa "semua orang tau" moral itu sifatnya relatif. 4) Yang ngomong begitu namanya Jean Paul Sartre, Pak. Katanya: a personal and subjective moral core lies or ought to lie at the foundation of individuals' moral acts. In this view public morality reflects social convention, and only personal, subjective morality expresses true authenticity. Saya TIDAK MENILAI LAKI-LAKI LEBIH SUPERIOR DARI PEREMPUAN. Tuh, saya bikin besar-besar. Dominan tidak sama dengan superior, Pak. Dari kemaren saya ulang-ulang tidak nyangkut juga. Pak Manneke merasa bos Anda yang tukang gebrak meja itu lebih tinggi derajatnya? Tidak kan? Cuma lebih galak saja. Saya cuma bilang, dalam memilih pasangan perempuan memilih laki-laki yang dominan. Anda saja yang ngasih muatan politik ke dalamnya. Lain kali Prozac-nya diminum sesuai anjuran, Pak :) Btw, contoh Anda juga salah. Di Inggris mencopet juga sama dilarangnya dengan di Indonesia. Andi --- In [email protected], Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > 1) Paragraf 1 Anda saya masih bolot. Nggak ngerti. Isinya cuma putar-putar kata saja. Nggak ada yang ngomong nilai kok. Yang diomong adalah gen pemberi potensi moral sense. Bukan bagaimana tiap budaya memberi nilai berbeda pada aspek-aspek moral tertentu. Mua beda nilai kek, tapi yang jelas moral sense adalah beda antara manusia dan hewan (yang Anda puja-puja itu). Rupanya Anda lebih bolot ternyata. > > 2) tentang evolusi moral: semua proses evolusi adalah hasil interaksi antara potensi yang diberi oleh gen dan lingkungan eksternal, jadi bukan cuma evolusi moral doang. Makanya, nggak salah kalo saya bilang Anda ini masih menganut Darwinian ortodoks dari masa 100 tahun lampau. Tapi, bahkan Darwin pun tak bicara alam bawah sadar. Itu bagian dari psikoanalisis Freudian, dan Freud tidak terlalu bahagia dengan keseluruhan teori Darwin karena justru Darwin tak hirau dengan aspek moral, yang dalam psikoanalisis Freud berlokasi pada superego. Jadi, jangan campur aduklah, ntar bolot beneran lho. Yang bawa-bawa jerapahnya Lamarck juga bukan saya kok. Ini kan ulah Anda untuk melebar-lebarkan persoalan (udah gitu, salah nama lagi, hi hi hi...untung ada yang koreksi). Jadi, jangan dilempar ke saya ah. Jadi, ketahuan noraknya...eh, bolotnya. > > 3) sangkutan dengan agama dan politik gender: pertama, masih diperdebatkan bahkan oleh kalangan intelektual Muslim sendiri apakah Qur'an membolehkan poligami atau tidak. Jadi jangan maen diputusin seenak udel sendiri. Lagian, yang bawa-bawa agama dalam urusan poligami di milis ini siapa duluan? Soal politik gender, sudah jelas: kaum feminis berkeyakinan bahwa laki-laki dan perempuan setara, meski berbeda. Bahwa ada orang yang menganggap mereka tak setara, inilah yang saya kaitkan dengan "relativitas" itu, dan yang saya katakan bahwa "semua orang juga tahu." Anda bolot amat sih, nggak ngerti kaitan yang sepele seperti ini? > > 4) Anda bilang: moral akan bubar ketika manusia dipisahkan dari lingkungan budayanya? Ini pernyataan paling kacau yang saya pernah dengar seumur hidup. Jadi, kalo di Indonesia Anda diajarin nggak boleh nyopet, lalu begitu pergi ke Inggris terus Anda pasti jadi tukang copet, gitu? Alamakjan! Terus, "kalo perempuan ditaruh di pulau terasing, dia pasti akan pilih laki-laki dominan sebagai partnernya"? Hanya orang tak waras yang bisa menghasilkan ide seperti ini. Pertama, ini hipotesis yang tak akan pernah terbukti. Saya tunggu kalo sudah ada buktinya. Kedua, asumsi gila macam ini hanya bisa muncul di benak laki-laki yang memang punya pandangan sangat rendah terhadap perempuan, di samping menilai dirinya sendiri terlalu tinggi. Sudah kian jelas, Pak Andi, manusia macam apa Anda ini. Lebih parah dari bolot! Ya, memang seperti kata Anda, "masih di situ-situ juga" bolotnya dan muter-muternya. > > manneke > > si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Okelah, Pak Manneke, biar Anda tidak kelamaan bolot, saya urut: > > Anda bilang evolusi (biologis) menghasilkan manusia yang fitrahnya > memiliki "nilai-nilai moral". Artinya tanpa diajari pun manusia akan > bersikap begitu; umpamanya, tidak membunuh manusia, tidak mengawini > saudara sendiri. Ini disampaikan juga oleh Pak Loekyh dan tidak saya > bantah. Ini bisa dirujuk ke tujuan satu-satunya gen kita yaitu untuk > bersintas. Itu maksud saya ketika bicara "sayangnya nilai-nilai moral > itu hampir tidak ada yang universal" karena nilai-nilai seperti ini > tidak banyak. Paham kan sampai di sini? > > Setelah manusia membangun budaya yang makin canggih, nilai moral ini > berkembang makin banyak dan makin canggih, tidak cuma yang > berhubungan langsung dengan penyintasan. Ini yang saya maksud dengan > evolusi moral; terjadi secara budaya, bukan secara biologi (di situ > kan enggak nyambungnya Anda?). Jadi walaupun pemahaman budayanya > berkembang, alam bawah sadarnya masih sama saja. Kecuali tentu kalau > Anda, seperti Lamarck, masih percaya kalau leher jerapah itu panjang > karena sering dijulurkan. Kalau itu saya angkat tangan. > > Nilai-nilai moral yang dibangun oleh budaya ini adalah tanggapan > otaknya terhadap lingkungannya. Berbeda dengan "nilai-nilai moral" > yang saya sebut di paragraf pertama. > > Contoh nilai-nilai moral yang non-basic: > Apakah poligami salah atau benar? Relatif terhadap waktu dan tempat > Anda berada. > Apakah hubungan pria dan wanita itu harus merupakan "partner setara"? > Relatif terhadap waktu dan tempat Anda berada. > > Jadi bisa saja orang menganut nilai moral tersebut karena tekanan > lingkungannya. Nilai-nilai ini kemungkinan akan bubar dengan > sendirinya kalau manusianya ditempatkan berdua saja atau bertiga saja > di sebuah pulau terasing. > > Relativisme inilah yang menurut Anda "semua orang juga tau". Tapi > silakan Anda coba sendiri, kalau sudah disangkutkan dengan agama atau > gerakan politik (termasuk politik jender), "semua orang" itu ternyata > tidak banyak, Pak. Kebanyakan orang mengaku nilai yang dia anut itu > sifatnya mutlak a.k.a "sudah fitrah manusia". > > Nah, berhubung topik saya masih seputar pilihan wanita kepada pria > dominan, maka begitu Anda tau-tau bicara soal moral (ini Anda yang > mulai lho), maka yang saya bicarakan adalah moral yang dibentuk oleh > budaya, yang akan bubar kalau manusia dipisahkan dari lingkungan > budayanya. Argumen saya, pilihan untuk mewujudkan kesetaraan jender > itu adalah pilihan moral akibat perkembangan budaya. Kalau bukan > karena dibentuk oleh budaya masa kini, kalau mereka ditaruh di pulau > terasing, maka perempuan itu akan memilih laki-laki dominan sebagai > partnernya. Masih di situ-situ juga kan saya? Anda saja yang kemana- > mana. > > Andi >
