Dear Mas Stephanus or Mulyadi.... Uraian Mas mengenai "holocust" ini adalah uraian yang "terindah"dan paling mengena buat saya. Sementara yang lain sibuk melihat kebelakang, uraian ini mampu melihat sisi yang lain untuk kedepannya. Buat saya pribadi bukan mengecilkan apa yang telah terjadi ke belakang bukan sama sekali bukan...kita tidak akan pernah ada tanpa sejarah, itu saya yakini betul. Hanya saja yang perlu kita ingat, kita tidak akan pernah bisa merubah sejarah, baik itu kita percaya atau tidak atas kejadian tersebut. Dan point yang paling penting, seperti yang Mas sebutkan adalah sejarah itu sebuah cermin agar hal yang buruk tidak akan terjadi lagi di masa yang akan datang, bagi yang percaya. Bagi yang tidak percaya, semoga hal buruk tersebut juga menjadi tolak ukur untuk bertindak kedepannya. Yang penting sekarang adalah, apa yang akan kita berikan kepada anak cucu kita?? Apa yang masih bisa kita perbaiki minimal kita perkecil kemungkinan terburuk yang akan diterima anak cucu kita.... Tindakan apa yang sudah kita lakukan sekarang, baik itu terhadap tanah, air dan udara yang selama ini kita terima dengan cuma-cuma, yang seharusnya kita wariskan secara cuma-cuma pula kepada anak cucu kita. Maaf kalau ada yang tidak berkenan.
--wenny-- --- In [email protected], "stephanusmulyadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekans, > saat bangun tidur tadi pagi, ingatan saya tertuju pada diskusi > rekan-rekan yang sangat menarik mengenai pro-kontra Holocoust. Namun > fokus pikiran saya tidak tertuju pada peristiwa Holocoust yang > dilakukan terhadap manusia, melainkan "holocoust" yang dilakukan oleh > negara kita terhadap ekologi. Kebetulan sekali ketika membuka e- mail, > saya membaca tulisan di bawah ini mengenai "Juara Merusak Hutan" yang > dimenangkan oleh Indonesia. > > "In the name of ´demi kesejahteraan rakyat´" > Cepatnya Indonesia dalam merusak hutan sudah menjadi kekhawatiran > sejak lama, tepatnya ketika dimulai adanya ijin penebangan hutan era > Bob Hasan (Pak Harto) dilanjutkan dengan era bisnis primadona > perkebunan Sawit dan dibukanya proyek pembukaan lahan gambut "Sejuta > Hektar" di Kalimantan. Dengan slogan "In the name of demi > kesejahteraan rakyat" dan "demi menyukseskan transmigrasi", dimulailah > era "holocoust" besar-besaran terhadap hutan di Indonesia. "Holocoust" > ekologi itu masih berlangsung sampai hari ini, entah itu legal atau > ilegal. >
