Ya udah kita katakan saja: "Jakarta - The Big Village" (Desa yang besar). 
Bagaimana menurut pendapat pak Bambang?
  Soalnya orang-orang kayanya juga belum tahu cara-cara hidup dikota, sich?! 
Masih membuang sampah secara sembarangan; Nyopir nya mobil mewah dan canggih, 
eh....tetapi membuang dan melempar se-enaknya, puntung rokok, dari jendela 
mobil.
  Jadi berarti orang kaya nya masih banyak yang "ndeso", gitu lho pak. 
  Cuman pinter pamer barang mewah nya, tapi tingkah laku, masih belum terpuji.
   
  Salam,
  Yuli

bambang adhiono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Saya sangat tidak setuju, kalau disebabkan oleh 70% nya penduduk kota 
Jakarta adalah masyarakat miskin maka Jakarta disebut sebagai 
kampung......dengan kata lain kampung adalah dihuni kaum miskin dan kota adalah 
milik orang kaya.
Yang bener saja.......,
Sallam,

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/30/metro/3417512.htm
=========================

jakarta, kompas - Jakarta bukan sebuah kota, tetapi hamparan kampung 
karena sekitar 70 persen warganya adalah kaum miskin yang tinggal di 
berbagai perkampungan. Demikian, antara lain, pendapat yang muncul 
dalam acara diskusi masalah tata ruang kota di Bentara Budaya 
Jakarta, Kamis (29/3). 

"Seiring terjadinya proses integrasi pada sistem ekonomi global, 
sebagai kota utama Indonesia, Jakarta telah berkembang jauh 
meninggalkan kota-kota lain. Namun, Jakarta pada dasarnya masih tetap 
sebuah kota dari kaum pendatang miskin, yang tinggal di kampung-
kampung," kata Guru Besar Sosiologi Perkotaan Fakultas Ilmu Sosial 
dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Gumilar Rusliwa 
Somantri. 

"Karena permukiman warga berpenghasilan rendah demikiam luas, Jakarta 
sebetulnya bukan sebuah kota, tetapi hamparan kampung yang mempunyai 
pusat hierarkis aktivitas ekonomi, kebudayaan, dan politik," tutur 
Rusliwa yang juga Dekan FISIP UI dalam acara diskusi yang digelar 
kelompok kolomnis Kompas Lingkar Muda Indonesia. 

Sementara itu, lewat makalahnya, Ketua Program Magister Universitas 
Tarumanegara (Untar) Jo Santoso mencoba menjawab pertanyaan mengapa 
konsep tata pemerintahan yang baik tak bisa memecahkan masalah 
mendasar pengembangan kota-kota di Indonesia, termasuk Jakarta. 

Dalam acara diskusi ini, yang dimoderatori Donny Gahral Adian, dosen 
filsafat Fakultas Ilmu Budaya UI, juga tampil dua pembicara lain. 
Mereka adalah Suryono Herlambang, dosen Planologi Untar, dan Marco 
Kusumawijaya, arsitek yang juga ketua Dewan Kesenian Jakarta. (muk) 

---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.

[Non-text portions of this message have been removed]



         

 
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
always stay connected to friends.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke