Begini lho Mbak Nata,

saya akan jelaskan dari sisi alam ya, terlepas dari masalah agama,
atau kejiwaan.

Tuhan menciptakan alam ini berpasangan, mengapa?

mengapa?

mengapa sebuah perkawinan dari diikat secara Ilahi?

mengapa?

karena pada sebuah pernikahan akan tercipta makhluk hidup baru, dan
lebih baik kita bertanggung jawab dengan makhluk hidup baru
tersebut, bila tidak maka akan berurusan dengan tuhan.

mengapa?

karena Tuhan sudah sibuk mengurusi anak-anak yatim, anak terlantar,
anak yang dibuang.

itu berjalan secara alami, tanpa harus diatur, diurusi, ini anak
siapa, siapa yang tanggung jawab, semua sudah berjalan secara naluri
alami keibuan.

apa jadinya kalau wanita dan wanita memadu kasih?

1. terus anak-anak yang dilahirkan itu anak siapa?  kawin suntik
model sapi perah?

2. terus pembagian warisan, anak-anak itu tanggungan siapa?  KUA
mencatat siapa bapaknya?  suatu saat anak tersebut akan berebut
warisan, bingung, ini anak siapa?  dan dia anak yang dilahirkan
diluar perkawinan, bapaknya tidak ada. terus suatu saat dia mau
kawin, dan KUA bingung, karena anak yang mau kawin ini lahir diluar
perkawinan, besannya bingung, genap 5 turunan, itu anak bingung,
bapaknya acak.

anak pertama bapaknya A
anak kedua bapaknya B
anak ketiga bapaknya C

repot bukan?

kembali ke laptop..

mengapa Tuhan menciptakan makhluk hidup berpasangan?

supaya ada proses Mestakung, semesta mendukung, sembari suami
orgasme, istri enjoy, bayangkan kalau tidak, berarti harus
memotivasi istri untuk melayani suami, ini pekerjaan seperti penjaga
karcis.  sulit bukan?

Mestakung itu artinya, rahasia alam, bahwa hidup adalah memberi.
Pada saat suami memberi kepada istri, memberi kasih sayang, memberi
tanggung jawab, memberi jiwanya kepada istri, maka terjadi
keajaiban, terjadi buah-buah kehidupan.

segala sesuatu menjadi mudah, karena dorongan cinta,

hujan kan kusebrangi, laut kan kudaki, gunung kan kuberenangi,

apalagi kalau ada dorongan jiwa.

itulah tujuan Tuhan menciptakan manusia jantan, dan manusia betina,
supaya mereka tahu, bahwa caranya hidup adalah dengan saling memberi.

salam,
GG




--- In [email protected], "natanobelix"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Goen,
> saya bisa memahami cara berpikir anda melihat persoalan lesbian
atau
> homoseksual pada umumnya. Pertama, anda memahami homoseksualitas
itu
> sebagai perbuatan dosa karena dilarang agama. (di sini anda
> menyandarkan persoalan ini pada iman)
> Kedua, anda memahami homoseksualitas itu sebagai penyakit kejiwaan
dan
> sosial. (lewat pernyataan2 yang penuh keprihatinan: kehilangan
> pegangan, kenormalan, kasih dll)
>
> Saya tertarik untuk mendiskusikannya satu per satu. Bukannya ingin
> menjadi narsis kalau saya mereflesikan pergulatan yang saya alami
> selama memahami jatidiri dalam hal orientasi seksual.
>
> saya dan pasangan saya sekarang (kami sama-sama berumur 21-
something)
> memutuskan bersama-sama karena memiliki spirit yang sama tentang
> kedalaman transendensi. Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang
hadir
> dalam kebersamaan kami. Kami punya laku batin yang paralel
dilakukan
> karena kami saat ini masih tinggal di kota terpisah. Soal ridha
atau
> tidak, sama seperti pertanyaan ini: mana yang bergerak, angin atau
> bendera? ternyata pikiran kita yang bergerak.
>
> Bahwa menurut pikiran anda, Tuhan menciptakan manusia untuk
> bereproduksi, tapi kenyataannya tidak semua populasi itu subur.
> berarti memang Tuhan punya kehendak tidak semua manusia punya hak
> reproduksi. Dalam opini saya, reproduksi adalah hak bukan
kewajiban.
> Maka wajar, kemudian ada yang infertil, homoseksual, inabsentia,
> selibat, kontrasepsi dan warna-warni lain sesuai dengan hak manusia
> sebagai makhluk.
>
> Yang kedua, kontroversi tentang homoseksualitas sebagai penyakit
> kejiwaan harusnya sudah selesai dari sejak tahun 70-an. Asosiasi
> Psikiater Amerika telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar
> penyakit kejiwaan.
>
> Sekarang, jika sebagian jatidiri kita ditekan oleh society dan
agama,
> siapa yang tidak akan tertekan? Depresi? kehilangan pegangan? Saya
> rasa ini kondisi psikis dari pihak-pihak yang mengalami
diskriminasi.
> Bukan cuma karena orientasi sosial, tapi juga diskriminasi ras,
agama,
> golongan. Perjuangan (atau pergulatan) untuk mencapai pembebasan
dari
> diskriminasi ini memang perlu pengorbanan. Ada yang memilih resiko,
> ada juga yang menutupi dengan diam-diam, lalu menikah dan menjalani
> kehidupan sebagai hetero. Semua sesuai dengan kapasitas masing-
masing
> untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Sulit memang. Terutama
karena
> sebagian besar dari kita berpikir bahwa kebahagiaan itu ada dalam
> perkawinan, bahwa tujuan hidup paripurna itu keluarga yang bahagia.
> Nah, sekarang bahagia mana : perkawinan hetero yang dipaksakan atau
> hubungan dengan kekasih jiwa yang saling mengayomi? Sebagai
lesbian,
> saya pilih yang kedua.
>
> Bagi orang hetero pilihannya : perkawinan dengan kekasih jiwa yang
> saling mengayomi dong. Selamat, karena INSTITUSI agama dan negara
> memberkati anda.
>
> salam,
> nata

Kirim email ke