--- In [email protected], Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Soal larangan/anjuran Mas Luky dan bbrp rekan lain agar diskusi jangan > mengaitkan agama, telah juga di tanggapi oleh Mas Amrie dan bbrp teman > termasuk saya, bhw hal itu tak mungkin.
L: Benar sekali kita tak mungkin bisa menghindari diskusi menyangkut agama, hal ini sudah pernah saya tulis (lamaa sekali, ketika pak Sartono Mukadis menyatakan ingin mundur dari FPK). Pengkaitan agama yang saya maksud dan yang sangat saya kritik adalah dalam hal menjadikan ajaran agama SEBAGAI DASAR PEMBENARAN TINDAKAN- TINDAKAN (pengatas-namaan agama untuk tindakan tersebut) atau sebagai pembenaran PANDANGAN-PANDANGAN NEGATIF (mis. pandangan rasis, diskriminasi, dsb). Jika pengkaitan (ajaran) agama sebagai dasar pembenaran semacam ini dibiarkan saja, kelak (bahkan saya kira sudah terjadi) ada orang yang mengatas-namakan (ajaran) agama untuk membenarkan tindakan pengrusakan, bahkan mengatas-namakan (ajaran) agama untuk pembenaran tindakan membunuh, dst. > Agama itu kan juga pandangan hidup, setidaknya begitulah Islam. L: Cara pandang seperti inilah yang saya sebut berpotensi memicu konflik sektarian. Mengapa? Seandainya (hanya pengandaian) terdapat pandangan serupa dengan anda, misalnya (sebagai contoh dari saya) pandangan satu agama lain "bahwa karena memakan daging sapi adalah larangan atau berdosa dan merupakan pandangan hidup agama", maka bisa terjadi seorang pemimpin agama tersebut memiliki tafsiran bahwa penjualan daging sapi di publik harus dilarang sehingga pemimpin agama tsb akan membenarkan tindakan-tindakan perampasan daging sapi secara paksa di pasar2. Jelas contoh anda dan contoh saya ini adalah dua contoh PENAFSIRAN SEPIHAK (= penafsiran oleh satu ajaran agama) yang berpotensi memicu konflik sektarian sebab penafsiran ini mungkin tidak dimiliki, bahkan mungkin BERLAWANAN, dengan penafsiran ajaran agama lain atau berlawanan dengan penafsiran orang lain, walaupun orang lain ini masih seumat/ seagama. > Bahkan bisa juga ber samina wa athona.. aku dengar dan aku taat.. suatu > filosofi yg juga dikenal dalam agama Kristen.. L: Mungkin anda benar, bahkan mungkin 99% orang Indonesia menganut filosofi semacam yang anda tulis, tetapi saya percaya bahwa di antara 99% orang yang percaya filosofi ini, cuma 1% saja yang akan memaksakan atau menerapkan filosofi ini sebagai pembenaran tindakan- tindakannya ke orang lain atas nama keyakinannya. > Kalo soal jangan sampai ada konflik sektarian.itu kita semua setuju... .. > caranya , yang pertama ya santai aja berdiskusi.danbetrbeda pendapat... > yang kedua .. kalau jd panas juga ( namanya manusia) ya di potong aja sama > moderator... gampang kan... dan kita bicara lagi hal lain... L: Menghindari potensi konflik sektarian itu idealnya merupakan usaha bersama masyarakat dan prilaku toleransi terhadap perbedaan pendapat/ keyakinan idealnya dimiliki oleh setiap orang, bukan hanya dimiliki oleh segelintir orang (para moderator dan para nabi saja :- )). Hanya pola pikir pengkultusan-individu dan mental hamba sahaya lah yang terlalu menggantungkan diri pada peran pimpinan (mis. menggantungkan diri pada peran moderator dan para nabi) untuk mengatur prilaku diri sendiri (sebab jika tak diatur oleh para pemimpin yang dikultus-individukan, mereka tak mampu mengatur diri sendiri) > Saya bukan penganut sekularisme yg harus memisahkan segala galanya dari > agama.. , tapi sy sekularis juga dalam pengertian pokoknya tidak merasa ada > agama yang boleh mendapat keistimewaan dr pemerintahnya.. jad sama sajalah > jaraknya pemerintah dgn semua agama, L: Masalah negara dengan masalah agama bukan berjarak sama, tetapi SALING BEBAS/ INDEPENDEN satu sama lain, mis. perkembangan (atau kemunduran) agama bebas dari dan tak terkait dengan campur tangan pemerintah. Di negara2 sekuler, pemerintah bersikap TIDAK MEMBANTU dan juga TIDAK MENGHALANGI siar/ perkembangan agama2 sebab jika bersikap lain, pemerintah tsb melanggar hukum (bahkan biasanya dianggap melanggar konstitusi). > sementara kita sbg penganut agama tertentu .. boleh boleh aja nggak mau > poligami dilarang... > Begitupun boleh kalau ada yg mau mensyahkan perkawinan sejenis.dan ad > apihak yg nggak setuju krn keyakinan agamanya . , ... kalau di ranah > negara.. biarlah perjuangkan aturan itu secara konstitutional.. L: kalimat anda harus lengkap "dilarang (OLEH SIAPA/APA?)". Saya sudah berkali-kali menulis bahwa: 1. Negara BERHAK melarang poligami yang berdasarkan hukum negara 2. Negara TIDAK BERHAK melarang poligami berdasarkan hukum agama. Lengkapi dulu kalimat anda, barulah saya bisa berkomentar. Untuk perkawinan sejenis, sebelum berkomentar saya ingin bertanya: "Apakah suatu perkawinan merupakan ikatan hukum negara atau ikatan hukum agama?" Jika kedua macam perkawinan sebagai ikatan hukum negara dan sebagai ikatan agama sudah bisa dibedakan dengan JELAS, barulah saya bisa memberi jawaban/pendapat yang JELAS. Jika aspek hukum negara dan aspek agama dalam suatu perkawinan masih campur aduk dan tak jelas (seperti halnya tak jelasnya peran KUA sebagai lembaga negara atau sebagai lembaga keagamaan), maka jawaban2 terhadap polemik2 berbagai kasus perkawinan tetap tak pernah jelas dan selalu mencampur adukkan kedua aspek tersebut. > Dalam kasus perkawinan sejenis... kalo nggal salah cerita ttg sodom gomorah > itu kata kitab suci Islam dan Kristen.. memang hukuman Tuhan akibat > perilaku sex sejenis ya.. CMIIW.. L: Banyak umat beragama berpendapat seperti anda bahwa lesbian dan gay adalah pendosa, tetapi saya yakin hanya sedikit umat yang ingin mewakili Tuhan untuk ikut2-an mengutuk dan menghakimi orang2 yang DIANGGAP BERSALAH sebagai lesbian atau gay atau . Saya yakin asas praduga tak bersalah bersifat universal sebab jika tak berlaku universal, maka pasti ada yang memberlakukan asas sebaliknya (praduga bersalah) dengan memvonis bersalah lesbian, gay, dsb, sebelum para tersangka lesbian, gay, dsb, mengikuti pengadilan Tuhan (Tuhan bagi siapa pun) kelak. IMO mereka2 yang dg jagonya sudah lebih dulu memvonis bersalah para tersangka lesbian, gay, dsb, adalah mereka2 yang berprilaku sebagai wakil Tuhan (kalau tak bisa dibilang berprilaku sebagai Tuhan sendiri). Salam
