Mbak Lily dan Pak Rzain.

saya sepakat kalau di Indonesia harus disediakan ruang
gerak untuk difabel, karna menurut saya, hanya sedikit
ruang publik, trasfortasi umum yang memungkinkan
difabel untuk "bergerak", padahal ketika saya
berdiskusi dengan teman - teman CUDD (center for
universal design and diffability)teknik arsitek UGM,
mereka menyebutkan untuk pembuatan gedung dan sarana
yang bisa di akses oleh difabel, tidak membutuhkan
dana yang besar, seperti rump (tangga landai) yang
bisa di akses yang menggunakan kursi roda,
pembuatannya tidak lebih mahal ketika membuat tangga,
dan aksesibilitas (kemudahan yang digunakan oleh orang
yang berkebutuhan khusus) itu kan gak hanya bisa
digunakan oleh difabel, ibu hamil pun akan lebih mudah
dan aman ketika naik dengan rump (tangga landai) dari
pada tangga pada umumnya.

sekarang ini kan sudah tumbuh gerakan dari masyarakat
yang menginginkan persamaan antara difabel dan
masyarakat umum, sama dengan proses gerakan feminis
yang berusaha mengedepankan emansipasi wanita, menurut
saya hal pertama kali yang bisa kita lakukan adalah
dengan menggakui keberadaan mereka, dengan penyebutan
difabel (different able/perbedaan kemampuan) sebagai
pengganti kata cacat. sedikit banyak kita sudah
mengakui keberadaan mereka.

salam 
adrian



--- rzain <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Yes, difable sama dengan disable.
> Tecuplik tulisan saya sebagai penderita cacat:
> 
> "Selama enam tahun cacat, dua kali saya ke
> Australia, berkeliling
> RRC selama lima belas hari dan menjalankan ibadah
> umroh meskipun
> duduk di kursi roda. Di Australia saya sangat
> terkesan pelayanan
> terhadap orang cacat. Bila akan menyeberang dari
> jauh mobil sudah
> berhenti dan memberi jalan, sedang orang sekitar
> berusaha membimbing
> menyeberang, ketika akan turun dari mobil semua yang
> lewat di
> sekitar berhenti dan berusaha membantu atau
> menanyakan apa yang
> mereka dapat bantu. Mobil bis umum sangat mudah
> ditumpangi karena
> ada bagian yang lantainya dapat diturun-naikkan agar
> penderita cacat
> dan pemakai kursi roda dapat turun-naik dengan
> mudah, ruang cacat
> disediakan dan tidak boleh digunakan orang sehat,
> bahkan dikenakan
> denda, dan lain-lain fasilitas yang memudahkan.
> Tidak heran kalau
> kemana saja orang cacat dapat berpergian, bahkan
> warga cacat terasa
> dimanjakan berlebihan. Mereka bisa hidup mandiri,
> banyak di antara
> mereka hidup sendirian dan mengerjakan sendiri
> kebutuhan hidupnya.
> Waktu diadakan Olypiade Cacat beberapa waktu sesudah
> Olympiade 2000
> kota Sydney dipenuhi orang cacat berbaur dengan
> atlit cacat yang
> kemampuannya luar biasa, dengan kaki palsu berlomba
> melompat,
> berlari, di atas kursi roda mereka bisa bertanding
> tennis, basket
> dan lain olahraga yang bagi orang sehat saja sulit.
> Kondisi terbalik di RRT, tidak pernah kita menemui
> orang cacat
> kecuali turis, penduduk penderita cacat ditempatkan
> di balai
> perawatan. Karena semua harus bekerja tidak ada
> keluarga yang
> memelihara penderita cacat dirumahnya. Fasilitas
> untuk penderita di
> tempat umum tidak dijumpai, tetapi menjelang
> Olympiade tahun 2008 di
> Beijing mereka diharuskan menyediakan fasilitas
> cacat sebab orang
> cacat juga berhak menonton, apalagi akan diadakan
> juga Olympiade
> cacat.
> Alhamdulillah di Mekkah kursi roda bisa digunakan
> tawwaf
> mengelilingi kabbah. Sedangkan untuk sa'i naik ke
> bukit Marwah dan
> Safa tersedia fasilitas tandu. Bila akan mencium
> Hajar Aswad jemaah
> sehat akan memberi jalan.
> Di Indonesia lain lagi, hampir semua orang akan
> menolong tetapi
> harus diminta terlebih dahulu. Tidak ada bantuan
> spontan yang
> diberikan, malah kadang terasa menyepelehkan,
> misalnya tidak memberi
> kesempatan pertama ketika antri, tidak melambatkan
> kendaraan bahkan
> membunyikan klakson karena merasa jalannya
> terganggu. Sangat jarang
> ada orang yang spontan menawarkan bantuan jika ada
> penderita cacat
> yang tampak kesulitan. Tangga busway didesain antara
> lain untuk
> memudahkan penderita cacat yang menggunakan kursi
> roda akan tetapi
> antara jalan dengan tangga busway ada trap yang
> susah dilalui,
> bahkan di beberapa station hanya disediakan tangga
> biasa. Mungkin
> diperlukan pengajaran sejak kecil untuk
> membangkitkan rasa empati
> dan penduli kepada penderita cacat, sebab bukankah
> bangsa kita
> termasuk bangsa yang ramah, katanya".
> 
>

Kirim email ke