Pak Vavai, ada kontradiksi pernyataan Rektor IPDN di TV (yang 
bersama koran online tentu saja menyajikan berita2 yang lebih update 
daripada koran cetak). 

Saya menonton sendiri (lupa suara rektor atau suara penyiar TV 
membacakan) pernyataan rektor bahwa menurut hasil visum salah satu 
rumah sakit, Cliff meninggal 'karena sakit lever'.

Komentar saya terfokus pada dua kemungkinan terkait pernyataan 
rektor di atas:

1. Menurut Inu (dosen IPDN), rektor mendapat laporan yg tak benar 
dari bawahannya. 

Komentar: Jika kemungkinan ini yang sesungguhnya terjadi, sungguh 
ceroboh Rektor IPDN apabila mempercayai laporan (mungkin cuma lisan, 
tanpa surat keterangan atau dokumen) sebagai dasar isi komentar/ 
wawancara dengan wartawan untuk disiarkan ke publik. Dalam kasus 
ini, saya setuju jika Rektor diberi sanksi, paling sedikit dicopot 
dan dilarang mengelola satu institusi.

2. Kemungkinan lain, memang ada pernyataan resmi dari dokter atau 
rumah sakit yang menyatakan Cliff meninggal karena lever. 

Komentar: Jika benar, maka IDI dan Depkes harus bertindak tegas thd 
dokter atau pengelola RS tsb.

Btw, saya juga menonton TV yang menunjukkan bercak darah di bantal 
yang baru saja digunakan Cliff (kepala Cliff terlihat baru diangkat 
dari bantal tsb).

Salam

PS: Saya kutipkan potongan berita dari Kompas yang terkait dengan 
pernyataan 'sakit lever'.

-----------------------------------------------------------

Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi membenarkan meninggalnya praja 
berprestasi Clift Muntu. "Kami meminta keterangan 80 penghuni Barak 
DKI, tempat ditemukannya jenazah Cliff. Selain itu, kami juga 
menanyai Kelompok Pembawa Bendera Pusaka," ujar Nyoman. 

Dia yakin ada orang di sekitar Cliff sebelum dia meninggal. "Menurut 
peraturan, usai pukul 22.00 seluruh aktivitas di IPDN dihentikan 
untuk beristirahat. Namun, Clift dan siapa pun yang bersamanya malah 
berkumpul," ujar Nyoman. Saat kejadian, Cliff berada di Barak DKI, 
padahal dia tinggal di Barak Sulawesi Utara. 

Menurut Inu, Senin pukul 23.00 Cliff pingsan dan dibawa ke RS Al-
Islam satu jam kemudian. "Begitu tiba di rumah sakit sudah tidak ada 
tanda kehidupan. Ada orang IPDN yang bilang kematiannya karena 
penyakit lever," ujar Inu. 


--- In [email protected], Muhammad Rivai 
Andargini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sudah ada pak,
> 
> Coba lihat di
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/04/daerah/3428664.htm, 
cuma
> memang bukan dihalaman muka untuk Kompas web.
> 
> Opini saya pribadi :
> http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/258-STPDN,-IPDN-dan-
Paradigma-Kekerasan-dalam-Pendidikan.html
> 
> Vavai

Kirim email ke