Manurut saya, siapapun rektornya, pasti akan sulit menghindari kasus
kekerasan dan penyiksaaan di IPDN. Ini bukan soal siapa yang menjadi
rektor. Yang salah adalah sistemnya. Membenahi IPDN (seperti dulu
STPDN 'dibenahi' jadi IPDN) bagi saya tak akan menyelesaikan masalah juga.

Pangkal masalahnya lah yang menurut saya harus dihilangkan lebih
dahulu. Pangkal masalah yang saya maksud adalah digunakannya logika
dan metode militeristik dalam penyiapan calon birokrat sipil. Inilah
yang menyebabkan banyak sekali penyimpangan dan kasus penyiksaan di
lembaga pendidikan yang keseluruhan biayanya kita tanggung bersama
itu, dari pajak penghasilan, PPN, dan pajak lain-lain yang kita bayar.

Bukan berarti metode militeristik jelek. Metode itu baik, jika
diterapkan di akademi militer atau sekolah bintara, atau sekolah
Satpam. Namun tidak pada tempatnya untuk diterapkan di sekolah
pamong-praja. Saya tak melihat manfaat yang apa2 dari metode
baris-berbaris, latihan fisik militer, seragam yang juga sangat berbau
militer, dan lingkungan yang kondusif bagi munculnya kekerasan verbal
dan fisik dari senior terhadap junior di IPDN. Jika kita menginginkan
calon birokrat yang baik, saya kira yang diperlukan adalah gemblengan
terkait antara lain dengan:

(1) Kemampuan berdialog. Para pimpinan birorasi di setiap level
memerlukan kemampuan ini untuk dua tujuan, yakni untuk bisa mendengar
pendapat dan aspirasi aparat negara serta masyarakat yang dipimpinnya,
serta untuk bisa melakukan komunikasi kebijakan secara persuasif dan
asertif. Kemampuan berdialog ini jadi tumpul jika selama masa
pendidikan para praja justru dibiasakan dengan bentakan.

(2) Kejujuran. Apa masalah kita yang terbesar di negeri ini? Korupsi.
Dan apa yang tak diajarkan di lembaga seperti IPDN? Kejujuran dan
keberanian untuk menjauhi korupsi. Kita sudah sering dengar bahwa
untuk masuk lembaga pendidikan gratis yang menjamin lulusannya dapat
pekerjaan usai pendidikan ini, urusan suap-menyuap sangat lazim
dilakukan (baca pengakuan salah seorang milister di sini). Jika
seorang praja masuk lembaga pendidikan ini dengan menyogok, maka sejak
detik pertama ia masuk pendidikan, mentalnya juga sudah mental sogok.
Mental seperti ini yang akan dibawanya saat mengemban amanat sebagai
birokrat nanti.

Demikian pendapat saya. Mudah-mudahan didengar oleh para priyayi di
pusat pengambilan keputusan.

Wassalam,
gaffar

--- In [email protected], "loekyh" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> 1. Menurut Inu (dosen IPDN), rektor mendapat laporan yg tak benar
> dari bawahannya.
>
> Komentar: Jika kemungkinan ini yang sesungguhnya terjadi, sungguh
> ceroboh Rektor IPDN apabila mempercayai laporan (mungkin cuma lisan,
> tanpa surat keterangan atau dokumen) sebagai dasar isi komentar/
> wawancara dengan wartawan untuk disiarkan ke publik. Dalam kasus
> ini, saya setuju jika Rektor diberi sanksi, paling sedikit dicopot
> dan dilarang mengelola satu institusi.
>

Salam,

Kirim email ke