Ada bahaya ketika orang berpikir bahwa disiplin mesti
ditanamkan/dididik melalui bentuk-bentuk tindakan kekerasan fisik,
seperti  ditempeleng, dipukul, dll., dan melalui kekerasan psikis,
seperti dibantak,dicaci maki,dll. Cara pendidikan seperti itu jelas
keliru. Cara pendidikan yang seperti itu hanya akan menghasilkan
manusia "taat buta" pada atasan/penguasa.

Dalam Militer cara kekerasan diterapkan sebagai salah satu bentuk atau
bagian dari pendidikan, agar bawahan taat buta pada pimpinan. Taat
buta artinya patuh 100% pada pimpinan tanpa perlu berpikir mengenai
benar-salah perintah atasan. Dalam batas-batas tertentu, seperti dalam
masa perang, taat buta 100% seperti ini bisa diterima, karena serdadu
perlu jadi mesin perang tanpa perlu bertanya mengapa disuruh membunuh
orang. Tapi harus diingat, bahwa hasil dari pendidikan disiplin
seperti ini sama sekali tidak menghasilkan manusia disiplin, melainkan
menghasilkan "patung-patung bernyawa" alias robot.

IPDN masih memakai sistem pendidikan kekerasan, saya duga untuk
menghasilkan "lulusan taat buta" alias "robot" dan "birokrat yg takut
pada atasan". Dalam sistem birokrasi yg KORUP, manusia robot seperti
ini sangat penting. Banyak kasus di negeri ini menunjukkan, bahwa
pimpinan korup sukses "memanfaatkan" robot-robot seperti itu.
Kasus-kasus tentara menyerang warga dalam berbagai sengketa tanah,
kasus Marsinah, kasus Udin, Trisakti, dll., adalah contoh nyata taat
buta dalam kemiliteran kita. Di pemerintahan...? Mudah dicari contohnya.

Pendidikan (kedisiplinan?) ala militer tidak seluruhnya jelek. Namun
apabila sistem kemiliteran itu mau diterapkan dalam lembaga pendidikan
lainnya yg bukan militer, harus dipertimbangkan dengan matang dan
dilaksanakan dalam aturan yang tegas mengenai siapa yg berhak
melakukannya.

Pendidikan kedisiplinan yg benar tidak menonjol dalam bentuk sanksi,
melainkan menonjol dalam bentuk pendidikan yg memberikan pengertian
dan pemahaman. Pendidik harus menjelaskan, mengapa orang harus
disiplin. Setelah memberikan penjelasan, para pendidik memberikan
contoh/teladan, bagaimana orang disiplin. Dalam memberi contoh ini,
para pendidik juga menunjukkan apa konsekuensi dari sebuah pelanggaran
atas aturan dan kelalaian. Apabila terjadi, ada di antara pendidik yg
lalai atau melanggar aturan, pendidik yang melanggar atau lalai
tersebut memberi hukuman pada diri sendiri di depan peserta didik. Dan
hukuman itu harus lebih berat dari hukuman yang ia berikan pada
peserta didiknya, karena dia adalah pendidik. Jadi lembaga pendidikan
yang mau menanamkan kedisiplinan, ia terutama harus keras terhadap
dirinya sendiri.
Kalau pendidiknya sudah disiplin, saya yakin, peserta didiknya akan
ikut disiplin.

Menurut saya, pendidikan yang dilakukan dengan kekerasan bukan saja
menunjukkan bahwa pendidiknya tidak beradab, melainkan juga
menunjukkan bahwa pendidiknya tak punya akal atau tak punya keinginan
agar peserta didiknya menjadi disiplin.


Salam
Mulyadi


--- In [email protected], "deronda" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Betul yang dimaksud Pak Chairil.  Kebetulan pengalaman pribadi juga,
saya punya dua teman baik, satu orang Korea dan satunya orang
Singapura.  Saya heran dengan etos kerjanya yang penuh disiplin
sampai-sampai payah mengikutinya.  Saya tanya, dan ternyata faktor
wajib militer menolong mereka memiliki etos kerja yang baik.
>
> Cuma jangan seperti yang kayak IPDN ini.  Ini sih kekerasan tanpa otak!
>
> Daniel
> Makassar
>

Kirim email ke