Salam,
Ada beberapa pesan yang saya tangkap di balik peristiwa IPTDN. Yang pertama,
perasaan seniori masih menjadi pahlawan dan selalu sok menjadi pahlawan. Ini
hampir sama dengan iklan rokok yang mengatakan, kurang lebih, Yang Muda Yang
Tidak Dipercaya. Senior merasa mempunyai hutang dari perbuatan yang dilakukan
oleh kakak kelas mereka. Jadi seperti istilah yang tua yang berjaya. Yang tua
menganggap yang muda atau junior tidak memiki kemampuan apa-apa atau masih bau
kencur sehingga mempermainkan juniornya sewenang-wenang.
Kedua, gambaran pemukulan adalah cermin bahwa gaya militer telah mendarah
daging sampai disekolah. Hal ini tidak dapat diatasi dengan melakukan merger
sekolah atau perubahan status sekolah. Karena yang berperan adalah pesan
turun-temurun. Aku dapat dari seniorku maka aku harus meneruskan dan membuat
hal yang sama dalam juniorku, itulah kira-kira pandangan mereka.
Ketiga, ada bayangan kesewenang-wenangan pemerintah dalam melayani masyarakat.
Mereka, yang sekolah di IPDN, adalah cambah dari pelaksana pemerintah di
tingkat Kecamatan. Saat pendidikan saja mereka telah merasa bisa. Kesombongan
akan, sadar atau tidak sadar, terbawa saat nanti melayani masyarakat.
Masyarakat yang tidak dikenalnya dengan baik maka tidak akan dikasihani. Budaya
ini adalah budaya kerja yang buruk. Bagaimana bisa maju wong orang-orangnya
kayak gini....
Salam Kiri,
Steven Lenakoly
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kan
emang militer kita dikenal sebagai tukang nabokin orang? Kalo di negara lain
wamil dampaknya baik, begitu diterapkan di kita ya bubar. Kualitas militernya
beda, boss.
manneke