Baurkan Praja IPDN Dengan Masyarakat

Lain dari banyak rekans miliser sekalian yang menganjurkan untuk membubarkan
IPDN, bagi saya solusinya sebenarnya simpel saja : hilangkan sistem asrama
permanen.

Sistem asrama hanya diberlakukan untuk praja tahun pertama dan kedua saja
sebagai masa persiapan. Dengan dihilangkan-nya sistem asrama permanen ini
dengan sendirinya para praja diharuskan mencari sendiri tempat
tinggalnya,itu berarti para praja akan mau tidak mau akan tinggal di
rumah-rumah kos atau rumah saudara serta handaitaulan. Dengan demikian praja
dipaksa untuk bergaul langsung dengan masyarakat sekitar, tidak menutup
kemungkinan mereka akan satu kos dengan mahasiswa-mahasiswa dari
universitas/institusi pendidikan tinggi lain. Pergaulan dengan masyarakat
serta mahasiswa dari kampus lain akan menghasilkan mekanisme kontrol sosial
alami karena dengan sendirinya akan terjadi interaksi dan saling
membandingkan antara praja IPDN dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain,
begitu juga dengan terjadinya interaksi langsung dengan masyarakat sekitar,
Praja dipakasa untuk bergaul juga dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan
seperti kepantasan, kesopanan, kasih sayang, kejujuran dan lain sebagainya.
Bergaul dengan masyarakat juga dapat menurunkan ketegangan dalam mengikuti
masa perkuliahan,adanya tokoh masyarakat/ulama yg dituakan didekat mereka
memungkinkan Praja meminta nasihat maupun sekedar "curhat", pun pada jam-jam
sesudah kuliah, Praja punya kesempatan untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan
sosial seperti kemasjidan,karang taruna,gereja dll.

Dengan sistem asrama non permanen,dan Praja tinggal di kos atau rumah
saudara berarti juga disiplin yang lebih longgar dapat berarti ketgangan
belajar yang lebih rendah, ketegangan belajar yang lebih rendah dapat
berarti stress menurun, stress menurun dapat berkorelasi pada perilaku yang
lebih tenang dan kecenderungan melakukan tindak kekerasan juga berkurang.

Lalu biayanya?bukankah karena biaya tinggal yang gratis itu yang membuat
pemuda-pemuda dari seluruh Nusantara tetap berminat belajar di STPDN?IPDN??
Tenang,ini bisa disiasati dengan memberikan jatah bulanan untuk membayar
uang kos maupun makan. Ini juga berarti biaya untuk mengikuti perkuliahan di
IPDN meningkat menjadi seperti biaya mengikuti pendidikan di
institusi-institusi pendidikan tinggi lain. Tapi toh mungkin memang sudah
saatnya kita mengurangi jumlah Praja di IPDN, seiring dengan semakin
dipertanyakannya efektifitas dan relefansi IPDN sebagai lembaga pendidikan
untuk menyiapkan pelaksana-pelaksana (pamong) pemerintahan dalam negeri.
Seperti kata Prof Sarlito Wirawan Sarwono, Psikolog kawakan asal UI, bahwa
sebenarnya tidak perlu harus lulusan dari IPDN untuk bisa mengisi pos-pos
pemerintahan dalam negeri seperti camat. Dan toh sudah banyak perguruan
tinggi di Indonesia yang memiliki Fakultas/jurusan Administrasi
negara,lulusan-lulusan mereka juga terbukti cukup berkualitas, terukti
dengan banyaknya pos-pos di pemerintahan kota/provinsi yang ternyata diisi
oleh lulusan perguruan-perguruan tinggi duluar IPDN,teman-teman satu
angkatan penulis saat kuliah juga banyak yang menjadi PNS di lingkungan
Pemkot maupun Pemprov.

Keseharian tugas para pamong juga nantinya lebih banyak berurusan denan
hal-hal administrasi sipil,dan sedikit sekali, jika tidak bisa dikatakan
tidak ada, berurusan dengan hal-hal seperti kamtibmas ataupun hamnkam, jadi
rasanya tidak perlu disiplin ditanamkan melalui sistem asrama.

On 08 Apr 2007 01:42:40 -0700, gedehc <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Yang bagus, ganti namanya lalu pola didik & asuhnya diubah menjadi
> pola didik - asuh seperti yang biasa terjadi di kampus pada umumnya.
>
> Pola didik ala academia akan berbeda dengan pola didik ala militer.
> IPDN, jika dikatakan militer, juga tidak tapat karena tidak bisa
> berperang dan mungkin tak berani berperang. Dikatakan dunia akademik
> dengan Tridharmanya juga tidak pas. Lalu, apa dong?
>
> Gede H. Cahyana
> http://gedehace.blogspot.com

Kirim email ke