Agak melenceng sedikit dari topik:

Berbeda dengan raja zaman sekarang, Pak Wal, yang dibatasi dalam 
monarki konstitusional. Peran raja bukan sebagai penyelenggara 
pemerintahan, melainkan sebagai lambang negara. Raja menjadi semacam 
perekat budaya yang menyatukan rakyatnya sebagai satu bangsa. 

Kalau untuk bangsa kita barangkali persamaannya adalah proklamasi 17 
Agustus. Yang merekat kita sebagai bangsa adalah pengalaman bersama 
dijajah Belanda dan revolusi menuju kemerdekaan.

Tidak semua bangsa "beruntung" memiliki sejarah revolusi menuju 
kemerdekaan seperti kita. Jadi tanpa ikatan budaya pun kita, baik 
yang di Sumatra maupun di Maluku, kita tetap merasa sebangsa setanah 
air. Saya perhatikan negara semacam Singapura amat susah membangun 
perasaan sebangsa itu dari rakyatnya karena mereka tidak punya 
sejarah emosional dalam membentuk negara yang seperti kita ataupun 
ikatan budaya sebagai saudara sebangsa seperti orang Thailand atau 
Jepang. Kalau ekonomi Singapura sedang merosot, pemerintahnya selalu 
was-was, takut ditinggal rakyatnya beremigrasi ke lain negara karena 
rakyatnya tidak punya ikatan emosional yg kuat dg tanah airnya.

Sebaliknya kalau ngobrol-ngobrol dengan kawan-kawan saya yang dari 
negara kerajaan, kalaupun mereka saling mencela pandangan politik 
kawan setanah airnya, keberadaan rajanya itu mengingatkan bahwa 
mereka adalah sebangsa.

Andi

--- In [email protected], "walsuparmo" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salam,
> Saya mengajak kawan2 untuk meninjau sejarah terjadinya RAJA dan 
> KERAJAAN. Siapa yang bisa menjadi  raja? Tidak lain adalah orang 
> yang TERKUAT dan mungkin TERKEJAM dari  masyarakat itu. Alias 
PREMAN 
> yang isa menjadi raja mulai dari dulu kala.
> Selanjutnya bagaimana  raja itu bersikap? Kalau ia "baik" bis 
> langgen tetapi kalau tidak, bagaimanpun rakyat akan berontak.
> Saya kira di Indonesia juga begitu.
> Wasaam,
> Wal Suparmo
> 
> 
> -- In [email protected], "Totot" <totot@> 
> wrote:
> >
> > Soal Raja di Indonesia, sebenernya sih jika dimaksudkan utk
> > melestarikan kebudayaan beserta segala atributnya, saya rasa
> > tidak menjadi masalah dan sangat baik.
> > 
> > Tapi jika kemudian dikaitkan dgn pemilu, demi utk cari pemilih
> > di suatu daerah, atau utk menyetir suatu daerah, ini yg tidak
> > bisa ditolerir lagi.
> > 
> > Salam kebudayaan asli,
> > Totot
> > 
> > > > Andi
> >
>


Kirim email ke