1. Saya percaya negara bisa saja melakukan kejahatan, namun terbatas pada
delik kejahatan tertentu. Untuk korupsi, kita mestinya menganalisa satu unsur
dalam pidana ini, misalnya unsur "motif" atau "tujuan". Jika korupsi dilakukan
individu, motifnya adalah memperkaya diri. Namun apa motif negara menjadi
korupsi? Negara tidak diperkaya, tapi malah rugi. Hanya karena pelaku korupsi
memiliki kedudukan pada kursi pemerintahan bukan berarti korupsi itu disponsori
oleh negara.
2. Nyatanya, hampir tidak mungkin peneliti sejarah Majapahit maupun Singosari
mengabaikan Negarakertagama maupun Pararaton.
3. Di Indonesiapun sepengetahuan saya memang sudah lama berkembang metodologi
penelitian sejarah dengan sumber-sumber seperti itu. Lihat saja buku Prof.
Kuntowijoyo.
4. Sejarah bisa terlihat "berpihak". Ini terutama jika kita menggali sejarah
dari para pelaku yang masih hidup. Para pelaku sejarah bagaimanapun memiliki
persepsi dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Misalnya, sejarah politik
Quebec dari sudut pandang pelaku sejarah berlatar Anglophone Canadian dan
Francophone Canadian pasti akan terkesan berpihak pada latar belakang
masing-masing.Tapi itulah realitas sejarah.
Salam,
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Re: Sosok Soeharto Harus Dilihat secara Lebih Lengkap Posted by: "manneke
budiman" [EMAIL PROTECTED] Tue Apr 17, 2007 11:17 pm (PST) 1. Wah, kalo
gitu Anda masih dipengaruhi oleh mitos bahwa negara pasti tidak mungkin
melakukan kejahatan. Jangan lupa, bukan cuma korupsi yang bisa disponsori
negara, tapi kekerasan yang disponsori negara juga ada. Buktinya udah banyak.
Korupsi dengan sponsor negara bisa terjadi ketika penguasa tertinggi negara
sudah memandang dirinya identik dengan negara yang dipimpinnya, dan merasa uang
negara adalah uang pribadinya. Tidakkah ini terjadi semasa Orba?
2. Kajian kritis terhadap teks-teks historis memang perlu senantiasa dilakukan.
Tapi yang namanya Pararaton, Negarakertagama, Mahabharata, dll itu bukan
"sejarah" dalam artian yang kita gunakan saat ini. Kitab-kitab itu disebut
"kronikel" atau paling banter "hikayat", yakni campuran antara unsur historis
dan unsur fiksi. Bandingkan dengan buku-buku sejarah yang dibuat pada masa Orba
tentang Indonesia pasca-kemerdekaan, yang konon disiapkan dan disunting oleh
para pakar ilmu sejarah di negeri ini. Katanya lebih ilmiah, tapi kok ya palsu,
ya?
3. Kini orang mulai melirik ke sumber-sumber alternatif untuk menulis kembali
sejarah. Sumber-sumber itu, antara lain, berupa sejarah lisan yang dituturkan
kaum marginal, seperti jugun ianfu, korban pengganyangan pasca-1965, para kuli
pembangun jalan kereta api (di AS dan Kanada), para imigran, dll. Jadi,
narasumber yang sah kini tak lagi cuma para jendral, politisi, dan pemenang.
Mungkin memang pada akhirnya ada kesadaran bahwa semua sejarah sedikit banyak
mengandung fiksi, dan nyaris mustahil menuliskan sejarah tanpa berpihak atau
berkepentingan.
manneke
---------------------------------
Découvrez une nouvelle façon d'obtenir des réponses à toutes vos questions !
Profitez des connaissances, des opinions et des expériences des internautes sur
Yahoo! Questions/Réponses.
[Non-text portions of this message have been removed]