Semalam saya nonton tayangan "Campus Massacre" di CNN.
Diulas bahwa sang pelaku, bertipe "loner" dan "weird" (kata teman se-dormnya). 
Fakta lain yang belum banyak dikupas, si pelaku besar dan tinggal di kawasan 
sub-urban Washington DC.
Sudah menjadi rahasia umum, DC adalah salah satu wilayah dengan tingkat 
kriminalitas (memakai senjata api) tertinggi di AS, selain New York dan LA.
Jadi masalahnya bukan terletak pada kemudahan memiliki senjata api, tapi lebih 
kepada kondisi sosio-psikografis pelaku, atau "man behind the gun".

Di Indonesia, dimana perijinan untuk memperoleh senjata api sangat ketat saja, 
sering terjadi tindak kriminal (dengan senjata api), misalnya saja peristiwa 
perampokan toko emas di Bandung, minggu lalu. 
Bukan senjata apinya yang salah, tapi "man behind the gun".

Salam.

----- Original Message ----
From: Patrick <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, April 18, 2007 2:17:24 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Pria Bersenjata Tewaskan 32 Orang di 
Universitas Virginia

Pak Andi,

Saya sangat setuju sekali dgn opini Bpk...Ini adalah fenomena 
sejarah terulang kembali...Beberapa tahun lalu, Michael Moore dlm 
film dokumenternya yg berjudul "Bowling for Columbine" telah 
mengupas & menginvestigasi carut-marut kepemilikan senjata api di 
AS...Tp, tetap saja tuh ga ada "gayung bersambut" dari pemerintah 
Opung George W. Bush...Mungkin dia masih bangga dgn predikat 'The 
Wild..Wild West ;-)

Salam,

Patrick Hutapea

Kirim email ke