Oleh Rhenald Kasali
Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/20/opini/3429822.htm
===========================

"Sebelum rasa sakit seseorang melebihi rasa takutnya, ia belum mau
berubah."

Tidak ada yang menyangkal bahwa bekerja atau berkarier di zaman ini
sungguh mengerikan. Dulu, orang-orang tua kita bisa menggenggam
pekerjaan sampai pensiun. Sekarang, semua itu tinggal kenangan.

Itulah zaman emas kaum berkerah, baik kerah biru maupun kerah putih.
Generasi paruh baya dewasa ini melewati dunia kerja dengan penuh waswas.

Tekanan persaingan yang begitu keras telah membuat eksekutif tidak
bisa main-main dengan tim kerja yang lemah. Orang-orang yang kurang
disiplin, tidak cekatan dengan rapor kerja C atau D, dan enggan
belajar sehingga keterampilannya mudah usang akan menjadi sasaran PHK
atau pensiun dini.

Juga, tidak zamannya lagi semua orang menerima bonus yang sama. Demi
keadilan, bonus diberikan proporsional, terkait kinerja, baik
individu, tim, maupun perusahaan/organisasi. Artinya, tiap orang akan
menerima bagian berbeda-beda.

Semua akan menjadi jelas saat seorang pekerja menapaki usia kepala
empat. Itulah saat di mana akan menjadi jelas apakah seseorang mampu
memimpin atau tidak; mampu beradaptasi atau menjadi beban. Sebuah
saat, di mana biaya tenaga kerja mulai terasa mahal dan penuh kompetisi.

Memperbarui diri

"Human being is a lazy organism," kata Mc Gregor.

Itulah petuah yang sering kita dengar, meski pada sisi lain kita
mengenal petuah lain yang bernada lebih optimistis, "Human being is a
learning organism." Artinya, semalas-malasnya manusia, jika dibanding
makhluk lain, manusia adalah makhluk yang punya nalar dan bisa belajar.

Belajar adalah sarana untuk memperbarui diri. Tanpa belajar, kita akan
terperangkap hidup pada masa lalu. Itu sebabnya pakar kepemimpinan
Manfred Kets De Vries (1988) mencatat, salah satu penghalang bagi
manusia untuk memperbarui diri adalah karena kita selalu merupakan
produk dari masa lalu.

Produk dari masa lalu itu tampak benar dalam film The Last Samurai.
Kaisar Jepang yang membuka pintu harus berhadapan dengan Katsumoto,
samurai yang menghendaki kemurnian budaya yang memilih lari ke hutan
dan menentang modernisasi. Tragedi perubahan tampak saat Nathan (Tom
Cruise) yang direkrut Kaisar melatih tentara-tentara kaisar
menggunakan senjata api.

Padahal, tentara kaisar biasanya hanya menggunakan busur, anak panah,
dan pedang. Kita berpikir, memberi tentara senjata baru dengan pelatih
kelas dunia akan beres. Drama itu dimunculkan dengan amat jelas saat
tentara yang berhasil menembak di sasaran (berupa target papan)
dipaksa menembak manusia. Mereka stres (merasa sakit) akibat harus
bertarung habis-habisan dengan diri sendiri dan terbukti gagal menembak.

Hal serupa juga pernah kita alami di sini, saat perkebunan-perkebunan
besar dibuka di rimba-rimba Kalimantan dan Papua. Pemilik perkebunan
mungkin masih ingat, betapa sulitnya mengubah penduduk yang biasa
hidup berburu menjadi petani kelapa sawit. Pemburu ingin mendapat
hasil segera, hari itu ke hutan, sore mendapat buruan. Berbeda dengan
bertani, yang menuntut ketekunan dan waktu untuk menangguk hasil.
Akibatnya, proyek-proyek pertama perkebunan sawit relatif gagal.

Namun, apa pun yang terjadi, manusia selalu dituntut terus belajar dan
memperbarui diri. Maka, lembaga dan perusahaan selalu memberi
pelatihan melalui diklat-diklat agar kompetensi karyawan diperbarui
dari masa ke masa. Dan jika perusahaan alpa, setiap individu wajib
mengambil inisiatif sendiri.

Kini, pembaruan kompetensi saja tidak cukup. Lebih dari itu diperlukan
recode, yaitu mengubah pola pikir. Recode bukan cuma dilakukan
perusahaan dan pekerja, tetapi juga para aktivis serikat kerja agar
organisasi tidak ditunggangi kaum yang tidak menghendaki perubahan,
kaum yang tidak produktif, dan ingin tetap tinggal dalam kenangan masa
silam. Seperti kata Albert Einstein, "Kita tidak bisa memecahkan
masalah-masalah baru dengan cara-cara lama."

Takut dan sakit

Dalam pembaruan alam semesta, Tuhan menggunakan dua instrumen untuk
memperbarui manusia, yaitu instrumen rasa takut dan instrumen rasa sakit.

Bagi orang-orang tertentu, rasa takut sudah bisa membuatnya berubah.
Seorang anak muda berubah setelah melihat betapa menyeramkan otak
manusia korban narkoba yang digambarkan mirip otak sapi gila di
internet. Orang-orang seperti ini adalah mereka yang dianugerahi DNA
Perubahan (Change DNA) unsur O (Openess to experience) yang tinggi.
Namun, ada juga orang yang belum mau berubah meski rasa takutnya sudah
amat jelas. Orang-orang seperti ini baru berubah setelah rasa sakit
melebihi rasa takut.

Itu sebabnya dalam manajemen klasik sering digunakan kedua instrumen
itu. Target yang tinggi diberikan agar karyawan bergerak. Jika tidak
tercapai, seseorang akan menerima sanksi-sanksi menakutkan. Kalau
tidak juga berubah, maka rasa sakit digunakan. Rasa sakit biasanya
diwujudkan dengan mengambil aneka kenikmatan yang biasa diterima,
termasuk bonus, jabatan, dan yang paling berharga adalah pekerjaan.
Seperti kata orang-orang bijak, "Hidup akan menjadi mudah jika kita
mau keras (sakit) terhadapnya."

Seseorang mungkin merasakan rasa sakit itu sebagai ketidakadilan,
tetapi mungkin perlu juga dihayati bahwa rasa sakit yang tidak enak
itu merupakan instrumen untuk mengubah hidup. Jika kesakitan itu tak
bisa juga mengubah Anda, itu pertanda Anda sudah mati. Dan seperti
makhluk mati lainnya, Anda benar-benar kaku.



Kirim email ke