Saya menonton Titanic DI BIOSKOP, Pak Manneke. Penontonnya memang lebih banyak ibu-ibu. Kisah yang diangkat James Cameron ke layar perak itu adalah kisah roman Jack Dawson dan Rose Bukater berlatar belakang tenggelamnya kapal Titanic. Rose dikawin paksa, ketemu Jack di kapal, jatuh cinta, apa daya kapal tenggelam dan papan cuma muat satu orang saja, maka Jack berkorban nyawa agar Rose selamat. Tidak ada sub-plot lain.
Kalau Anda mau menonton film yang plot utamanya tragedi tenggelamnya Titanic, silakan menonton A Night To Remember (1958). Film lama yang berkisah tentang sejak dibangun sampai tenggelamnya Titanic. Ini juga film bagus; dapat Golden Globe tahun 1959; kisahnya tragis, tapi tidak ada kisah cintanya. Andi --- In [email protected], manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ini dia masalahnya: konsep dari masa ribuan tahun lalu masih terus di bawa ke masa kini. Di banyak negara Barat kini, para laki-laki sudah belajar untuk tak hanya membukakan pintu buat perempuan, tapi juga buat siapa saja. mendahulukan orang lain masuk ke pintu juga sudah mulai dilakukan untuk siapa saja, tak hanya untuk perempuan. Jadi, sudah mulai ada perubahan wawasan rupanya. Hanya Hollywood saja yang masih demen bawa citraan purba ke masa kini. > > Tapi, apa betul sangkaan Anda bahwa para ibu-ibu yang nyeret suaminya nonton Titanic itu disebabkan karena mereka mau liat Leonardo Di Caprio mengurbankan jiwa buat Kate Winslet? Jangan- jangan ini asumsi yang mengandung bias? Bisa saja mereka mau nonton Titanic karena ini memang film tentang sebuah tragedi besar di masa lalu? Kisahnya juga sudah sangat terkenal. Apakah jika tak ada adegan Di Caprio menyelamatkan Winslet maka ibu-ibu tak mau nonton? Kita nggak tau. dan sebaiknya tak berandai-andai. > > Juga sebaliknya, apakah jika yang selamat Di Caprio sementara yang mati Winslet, maka tak ada ibu-ibu yang mau nonton? Saya tak berani menduga-duga. Jika Anda sudah berani menyimpulkan bahwa demikianlah adanya, saya curiga jangan-jangan ini penyakit bias gender Anda yang lagi-lagi muncul. > > Seperti yang dibilang Pak Haniwar, laki-laki juga demen kok nonton dirinya tampil sebagai hero dalam film. Supaya bisa ngerasa hebat. Kok Bung Andi nggak ngomong apa-apa soal positioning penonton laki-laki dalam kasus ini? Apa betul sih mereka itu nonton karena diseret-seret istrinya atau pacarnya? Kedengarannya mirip keledai ya jika memang betul... > > manneke > > si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Konsep mengutamakan keselamatan perempuan sudah ada sejak ribuan > tahun lalu, Pak. Bukan karena perempuan itu lemah, tapi lebih karena > peranan perempuan dalam proses reproduksi. > > Bayangkanlah ratusan ribu tahun yang lalu ketika manusia cuma > berjumlah ribuan orang. Kalau ada bencana melanda satu kampung, mana > yang lebih baik untuk keberlangsungan penduduk kampung tersebut: > menyelamatkan sepuluh perempuan dan satu laki-laki atau > menyelamatkan sepuluh laki-laki dan satu perempuan? > > Jawaban yang benar yang pertama: sepuluh perempuan dan satu laki- > laki. Dengan sepuluh perempuan dan satu laki-laki, penduduk kampung > tersebut bisa kembali berkembang biak dengan cepat. Sebaliknya kalau > hanya ada satu perempuan, pertumbuhan mereka terbatas dari kemampuan > si perempuan untuk hamil dan melahirkan setiap tahun. > > Konsep seperti ini kemudian berkembang dengan segala turunannya > seperti mendahulukan, membukakan pintu, menarikkan kursi, dan lain- > lain. > > Logikanya hal seperti ini harusnya sudah tidak berlaku lagi seiring > dengan terjadinya ledakan populasi manusia. Tidak penting apakah > yang diselamatkan itu laki-laki atau perempuan, toh di lain > kampung "It's raining women, Halleluja". > > Salahnya, banyak yang mengartikan tindakan seperti ini sebagai > bentuk "kepahlawanan" atau chivalry dalam bahasa Aceh. > > James Cameron (dan penjaja budaya pop lainnya) sadar benar bahwa > tatanan sosial dari ratusan ribu tahun lalu itu masih terpatri di > kepala manusia baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Makanya > kisah fiktif kepahlawanan Jack Dawson itu dijadikan tema utama > filmnya. Jadilah para ibu-ibu berbondong-bondong terharu-biru > (sambil menyeret suaminya/pacarnya) menyaksikan Jack dengan gagahnya > mati demi Rose sambil menyumbang 1.8 miliar dolar Amerika ke pundi- > pundi Paramount Pictures. > > Saya sangsi apakah film James Cameron (produksi 1997) itu akan sama > lakunya seandainya Rose yang berkorban mati kena hipotermia di > samudera Atlantik dan Jack yang selamat sampai ke daratan. > > Andi >
