Pak KM, dilihat dari respons beragam teman-teman di milis ini atas 
tulisan bapak, tidak berarti Pak KM belum pandai menulis dan 
berkomunikasi spt bpk katakan. Melainkan isi tulisan tsb memberikan 
inspirasi bagi orang lain dan mereka mencoba mengembangkannya. Kalau 
arah pengembangan itu, bisa berupa sanggahan atau pertanyaan, tdk 
lagi sejalan dgn isi tulisan itu sebagaimana bapak selaku penulis 
harapkan, soal itu saya kira masalah sekunder.

Apakah Pak KM mengharapkan isi tulisan itu diterima orang lain 
persis spt yg bapak inginkan, dgn kata lain, terjadi perpindahan 
(transfer)konsep dari benak bapak ke benak orang lain? Saya kira 
tidak.

Hukuman terberat bagi seorang penulis adalah apabila tulisannya 
tidak digubris orang, kata orang bijak.  Jadi, tidak pd tempatnya 
Pak KM mencela diri sendiri ......saya yakin tindakan itu sekedar 
tata krama atau sopan santun saja.... Ha ha ha.... Karena di balik 
semua itu Pak KM sebenarnya merasa berbahagia. 

Semua kita berbahagia, dgn "voltage" yg bervariasi..

sg

--- In [email protected], "Kartono Mohamad" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Jawaban ini untuk semua, baik mas Andi, RZain, Trihandoko Seto, 
Abd G Karim,
> Simson Ginting, Blasius, Cain, Manneke, dsb yang telah sudi 
membaca dan
> menggapi tulisan saya.
> Intinya begini: tulisan saya tidak untuk membahas ada atau tidak 
ada Tuhan
> dan di mana Tuhan berada (serta sedang apa Dia). Tulisan saya untuk
> mengkritik orang-orang yang mengaku mewakili Tuhan, menafsirkan 
firman Tuhan
> sesuai kepentingan dirinya, dan merasa paling benar dalam hal itu, 
lalu
> memaksakan agar orang lain menerimanya. Juga untuk mengkritik 
mereka yang
> mengaku ber Tuhan tetapi melakukan korupsi, mencuri, menipu, 
berlaku kasar
> dan kejam pada orang lain, memenangkan kepentingan 
peibadi/politik, membunuh
>  merusak, dsb. Bahkan tidak jarang hal itu dilakukan segera sesudah
> meninggalkan tempat ibadahnya. Artinya ia telah meninggalkan Tuhan 
di tempat
> ibadah. Tuhan tidak dianggap selalu berada bersamanya. Kunjungan 
ke tempat
> ibadah sekadar berbasa basi dengan Tuhan.
> Tuhan ada atau tidak, Tuhan sedang apa sekarang, dan Tuhan di luar 
atau di
> dalam diri kita, terserah masing-masing. Diskusi tentang hal itu 
tidak akan
> pernah menemui titik temu, dan bukan itu inti tulisan saya.
> Kalau ternyata orang melihat keliru tentang tujuan tulisan saya, 
berarti
> saya belum pandai menulis dan berkomunikasi. Saya minta maaf.
> Sekali lagi terima kasih atas semua tanggapannya.
> Howgh! Kata Winnetou
> KM
> 
>  
> -------Original Message-------
>  
> From: si_andi
> Date: 07-05-2007 10:38:47
> To: [email protected]
> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tuhan di Luar, Tuhan di Dalam
>  
> Pak Kartono,
> 
> Kata-kata Tuhan ada di dalam diri kita itu buat saya menampilkan 
> lebih banyak pertanyaan daripada jawaban; karena di dalam itu 
tentu 
> tidak sekedar menunjukkan tempat belaka, melainkan gambaran bahwa 
> manusia dan Tuhan adalah satu zat adanya. Selama Dia masih berbeda 
> zat dengan manusia tentu Dia tetap di luar, bukan?
> 
> Bagaimana mungkin manusia (=Tuhan) itu bisa berbuat melanggar 
hukum 
> moralnya sendiri?
> 
> Mungkin saya berandai-andai terlalu jauh, tapi kemungkinan lebih 
> besar sih karena saya tidak baca Kant :-). 
> 
> Andi
>


Kirim email ke