He, he Pak Simson. Saya memang senang tulisan saya dibaca orang. Cuma beberapa diskusi lebih mempersoalkan tentang soal judul Tuhan diluar atau di dalam. Jadi yang terperhatikan masalah soal letak Tuhan, bukan inti dari tulisan itu. Di satu sisi saya senang tulisan dibaca, di sisi lain sedikit kecewa karena inti tulisan tidak terpahami. Saya tidak berharap semua orang setuju dengan pendapat saya. Itu prinsip. Tapi kan yang saya ajukan bukan soal di mana Tuhan berada. Tiap orang boleh meyakini soal itu secara berbeda-beda. Silakan saja. Saya pun dalam tulisan itu tidak mengemukakan pendapat saya soal itu. Kalau misalnya ada yang tidak setuju terhadap pendapat saya bahwa ada orang yang meninggalkan Tuhan di masjid atau gereja, itu pun tidak akan membuat saya kecewa. Tapi kalau saya membahas masalah A dan disanggah dalam soal B, baru sedikit kecewa. Misalnya ada yang mengatakan bahwa anggapan Tuhan di dalam kan ajaran Kant saja. Lha kok ke sana sanggahannya. Di milis lain ada yang menyanggah dengan mengatakan bahwa dalam Islam tuhan itu lebih dekat daripada urat leher. Lha, ya silakan kalau yakin akan hal itu. Tapi kalau yakin bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher, ya jangan lalu koruppsi, memeras, menipu, dan sebagainya gitu. Paham, kan? Gitu loh. Salam -------Original Message------- From: simson gintings Date: 10-05-2007 9:29:36 To: [email protected] Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tuhan di Luar, Tuhan di Dalam
Pak KM, dilihat dari respons beragam teman-teman di milis ini atas tulisan bapak, tidak berarti Pak KM belum pandai menulis dan berkomunikasi spt bpk katakan. Melainkan isi tulisan tsb memberikan inspirasi bagi orang lain dan mereka mencoba mengembangkannya. Kalau arah pengembangan itu, bisa berupa sanggahan atau pertanyaan, tdk lagi sejalan dgn isi tulisan itu sebagaimana bapak selaku penulis harapkan, soal itu saya kira masalah sekunder. Apakah Pak KM mengharapkan isi tulisan itu diterima orang lain persis spt yg bapak inginkan, dgn kata lain, terjadi perpindahan (transfer)konsep dari benak bapak ke benak orang lain? Saya kira tidak. Hukuman terberat bagi seorang penulis adalah apabila tulisannya tidak digubris orang, kata orang bijak. Jadi, tidak pd tempatnya Pak KM mencela diri sendiri ......saya yakin tindakan itu sekedar tata krama atau sopan santun saja.... Ha ha ha.... Karena di balik semua itu Pak KM sebenarnya merasa berbahagia. Semua kita berbahagia, dgn "voltage" yg bervariasi.. sg
