PERTAMA, sungguh keterlaluan kalou soal-soal seperti
itu saja presiden. seperti nggak ada kejaan laen!
KEDUA, pejabar dan elite kita memang snob, over
confident, over acting, sekaligus juga nggak atau
kurang pede kalou nggak dikawal. di makassar, siapa
saja bisa membayar polantas untuk dikawal, seperti
para turis domestik atau turis mancenagara. setiap
malam beberapa kali sirene pengawal meraung-raung, dan
yang dikawal yaa orang yang itu-itu juga, kaloou bukan
amin syam, syahrul, atou walkot!
KETIGA, pengawalan adalah bisnis. itu cerita lama di
lingkungan polantas. sebab, polantas yang di jalanan
mesti setor kepada atasannnya, buat bensin, olie dan
pemeliharaan kendaraan, dan tentunya juga kocek
sendiri. dan semuanya itu ada hubungannya dengan
"angkatan berapa?" kata orang makassar. artinya,
apakah  dia angkatan 40, 50, 60, atau 80 dan semuanya
itu diiringi dengan juta. jadi, ada angkatan 40 juta,
50 juta dan seterusnya untuk jadi polisi terutama
polantas. maka untuk pengganti biaya itu, jalanan
(tilang, pengawalan dsbnya) merupakan sesuatu yang
memungkinkan.
hhd.

--- Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

>
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/11/metro/3526863.htm
> ======================
> 
> Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
> memerintahkan
> Departemen Perhubungan bersama instansi terkait
> menertibkan penggunaan
> forider dan sirene kendaraan di jalan-jalan.
> Presiden menegaskan,
> forider dan sirene tak boleh digunakan kecuali untuk
> kendaraan
> Presiden, Wakil Presiden, ambulans, tamu negara, dan
> pemadam kebakaran.
> 
> "Presiden minta agar aturan mengenai penggunaan
> forider dan sirene
> kendaraan dikembalikan seperti pada saat Pak Jusuf
> (mantan Panglima
> TNI Jenderal M Jusuf). Akan ada pembenahan untuk
> penggunaan forider
> dan sirene," ujar juru bicara Tim Nasional Evaluasi
> Keamanan dan
> Keselamatan Transportasi (EKKT) Oetarjo Diran, dalam
> jumpa pers di
> Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (10/5).
> 
> Diran bersama anggota Timnas EKKT datang ke Kantor
> Presiden untuk
> melaporkan hasil kerja dan rekomendasi tim yang
> dibentuk dengan
> Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2007, dan bekerja
> tiga bulan sejak
> dibentuk, 11 Januari 2007. Puluhan rekomendasi untuk
> perbaikan layanan
> transportasi disampaikan kepada Presiden.
> 
> Perintah Presiden untuk menertibkan dan pembatasan
> penggunaan forider
> dan sirene, menurut Diran, didasarkan pada
> pengalaman akhir pekan di
> kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Pada tiap akhir
> pekan, forider
> kerap dimanfaatkan secara tidak jelas oleh siapa,
> dan sirene kerap
> meraung-raung.
> 
> Prof Dr Paulus Wirutomo, Ketua Departemen Sosiologi
> Universitas
> Indonesia, dalam diskusi di Harian Kompas, Jakarta,
> Kamis (10/5) sore,
> juga menyatakan keprihatinannya terhadap konvoi
> motor gede yang
> dikawal polisi dengan suara sirine yang
> meraung-raung, di saat terjadi
> kemacetan lalu lintas panjang.
> 
> "Jalan kita sudah tidak jelas. Siapa saja bisa jadi
> raja jalanan.
> Motor gede, bus besar yang buruk juga bisa jadi raja
> di jalan," kata
> Wirutomo. (inu/nas) 
> 
> 



       
____________________________________________________________________________________Be
 a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469

Kirim email ke