Sepakat 100%. Maskulinitas ekstrim dengan kecenderungan dominasi ditolak 
sebagaimana feminisme ekstrim dengan kecenderungan dominasi juga ditolak. 
Perjuangan untuk merubah dari titik ekstrim yang satu menuju ke situasi 
seimbang sering kebablasan sehingga menuju ekstrim lainnya. Itu gejala yang 
bisa saja ada dan pasti ada jika feminisme ultra liberal itu mempengaruhi 
feminis Indonesia.
   
  Point saya adalah bahwa ketika memasuki lembaga perkawinan dibutuhkan 
komitmen bersama. Komitmen itu dicapai jika masing-masing rela memberikan atau 
malah mengorbankan sebagian hak hak privatnya. Tubuh saya tidak lagi mutlak 
milik saya karena istri saya pun ikut memiliki tubuh ini. Kira kira begitu 
dalam contoh yang agak ekstrim. Begitu juga waktu luang saya. Ada sphere kecil 
yang jadi wilayah privat 100 % namun itu hanya sebagian (kecil) dari seluruh 
sphere yang saya miliki, KETIKA masuk dalam lembaga keluarga lewat perkawinan. 
Masalah muncul kalau komitmen bersama itu diganti dengan dominasi pada hak 
pribadi masing-masing. Jika itu yang terjadi.... perkawinan tanpa komitmen 
bersama, yaa bubarlah. 
   
  Salam,
   
  Irry
   
   
   
  

manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Sebetulnya tak ada yang jelek dengan lembaga perkawinan itu sendiri. 
persoalan baru muncul ketika lembaga itu dipakai sebagai ajang untuk 
memarginalkan perempuan. Misal, perempuan dipaksa jadi mesin anak, perempuan 
harus di dapur dan di rumah melulu, nggak boleh keluar-keluar, perempuan nggak 
boleh punya nafkah dan mesti tergantung suami, perempuan digebukin tanpa bisa 
dibela, dengan alasan "urusan internal keluarga", dsb. 

Maka, lembaga perkawinan harus "direbut" dari monopoli patriarki dan dibuat 
menjadi lembaga yang mewadahi secara fair baik laki-laki dan perempuan yang ada 
di dalamnya. Jadi, ini soalnya juga bukan soal merger-mergeran atau bikin garis 
demarkasi mana yang kekuasaan laki-laki dan mana yang punya perempuan. Jauh 
lebih penting lagi adalah membuat lembaga perkawinan, pengasuhan anak, 
pekerjaan rumah tangga, dapat menjadi sarana pemberdayaan dan optimalisasi 
potensi baik untuk laki-laki dan perempuan.

manneke

Kirim email ke