Setuju bu Mariana, ini bukan soal wacana (saja) tetapi juga soal laku. 
Berbahagialah anda atas laku yang harmonis dalam keluarga anda.
   
  Sedikit komen: memang feminis(t) tidak sama dengan feminin tetapi secara 
etimologis jelas sekali kaitannya. Asal katanya dari bahasa Latin: femina yang 
berarti wanita. Feminin mengacu pada sifat sifat kewanitaan dan feminist 
mengacu pada orang yang memiliki sifat sifat itu bahkan berkembang menjadi 
aktifistyang memperjuangkan feminisme. 
   
  Secara simple orang menghubungkan masculinisme dengan sifat sifat yang 
menunjukan kekerasan, dominasi, represi dan feminisme dihubungkan dengan sifat 
sifat yang lembut, penuh asah dan asuh dll. Namun secara etimologi maskulin 
juga berasal dari kata latin yang berarti Pria. Jadi dari sononya feminin itu 
terkait dengan femina dan maskulin terkait dengan masculinus. 
   
  Dalam alinea yang ibu quote saya juga menulis: ....feminin - maskulin, itu 
dua sisi yang ada pada setiap manusia seperti.......
   
  Jelas maksud saya bahwa setiap insan manusia pasti memiliki karakter karakter 
yang mengarah pada kelembutan tetapi juga kekerasan, dominasi tetapi juga 
equality, represif tetapi juga penuh asah dan asuh.....soalnya adalah pada 
setiap insan mana yang dominan ...Kelembutan tidak hanya dimiliki oleh wanita 
dan kekerasan juga bukan monopoli pria.
   
  Itu sebabnya saya lebih suka membicarakan soal empati antara kita, saling 
memahami dan menerima, saling mendukung dan memperkuat. Itu dibutuhkan dalam 
setiap level interaksi kita, namun lebih sangat dibutuhkan ketika mengikat diri 
dalam hubungan hubungan yang khusus, seperti perkawinan. Sekali lagi 
berbahagialah anda dalam keluarga anda. banyak yang tidak memiliki 
itu....mungkin cukup banyak feminist tidak memiliki itu. Jika iya, 
pertanyaannya menjadi mengapa ? Kelembutan tidak muncul dengan sendirinya 
sebagaimana juga kekerasan tidak muncul dengan sendirinya. 
   
  Soalnya memang menjadi rumit dan mengerucut dalam nuansa konflik karena sudah 
bertransformasi sebagai suatu ideologi lalu masuk dalam pertarungan ideologi. 
   
  Satu hal lagi, kita menolak bahwa kekerasan dalam rumah tangga harus dibuka 
ke publik karena domestifikasi soal ini bermuara pada kesengsaraan di pihak 
wanita. Fine ! Namun ini toh tidak berarti bahwa semua konflik di rumah tangga 
harus dibawah ke ruang publik toh. Mesti ada pertimbangan yang bijak juga. 
Jangan jangan konflik RT yang dibawa ke ruang publik malah membuntukan 
kemungkinan rekonsiliasi dalam RT antara suami istri dengan basis kasih antara 
mereka. Bukankah dalam RT, sering dialami bahwa konflik malah menjadi api yang 
makin memurnikan kasih antara mereka ? Setelah itu malah makin mesra, katanya 
lho.
   
  Contoh UU Perkawinan yang disebut oleh salah satu Netters (Dian Kartika Sari) 
adalah contoh yang jelek dari dipaksanya hal hal privat dalam keluarga untuk 
diatur dalam hukum publik. Ehh, yang cari nafkah suami atau istri kok negara 
harus ngatur ? Yang asuh anak istri atau suami kok negara harus atur ? Komitmen 
antara mereka ketika memasuki lembaga perkawinan, itu yang akan mengatur dan 
itu wilayah privat mereka. Negara ini memang ngaco, mau ngatur hal hal yang 
tidak perlu diatur dan tidak mengatur hal hal yang sangat perlu diatur. Ada 
yang berkilah: kenapa kau ribut, itu hal yang baik. Biar saja negara atur. Mein 
Got, ada banyak sekali hal yang baik dalam hidup ini tetapi tidak perlu diatur 
negara. Bangun pagi, olahraga, makan sayur, minum air putih yang banyak adalah 
hal hal yang baik. Apakah semua hal itu perlu diatur oleh negara ? Pelajaran 
pokok yang harus diberikan kepada para politisi sebelum memegang jabatan publik 
adalah bahwa: ingatlah negara ini berbentuk
 Republik...res publica, jadi negara hanya mengurus hal hal publik dalam ruang 
publik. Wah saya mulai ngelantur nih. Maaf yaa, bu Mariana.
   
  Salam, Irry.

Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
Saya mungkin mau komentar sedikit, karena saya merasa feminis adalah
'laku' bukan hanya wacana, maka harapan perjuangan feminis yang sukses
membina keluarganya tidak lepas dari peran laki-laki (suami) yang
punya 'laku' feminis juga. Atau mungkin begini, saya pikir tak perlu
ada kata feminis kalau laki-laki sudah feminis. Karena berarti kita
tak perlu teori atau kritik lagi tentang patriarkhi karena patriarkhi
sudah tidak ada dalam keluarga tersebut. (ingat, feminis tidak sama
dengan feminin).

Saya tidak bisa membayangkan seorang feminist bisa sukses membina
keluarganya kalau laki-laki atau suaminya patriarkhis. Misalnya, istrinya
tak boleh bekerja, harus dirumah, tidak boleh berekspresi, tidak boleh
menyatakan pendapat.

Tak akan ada kesuksesan di sana. Tak pernah sejalan. Justru yang harus 
ditekankan
adalah, seorang feminis harus tahu betul memilih laki-laki seperti apa
bila mereka ingin berkeluarga.

Dan laki-laki yang feminis adalah yang merasa tidak terancam ketika
mendengar kata 'feminis'. Laki-laki yang memandang feminisme
sebagai kehidupan positif dalam keluarga justru membantu relasi suami
istri yang solid.

Tak perlu ada peran-peran gender lagi, yang penting kerjasama.

Saya sendiri, saya sangat mencintai keluarga saya, tapi saya juga
harus menyatakan semua itu bukan karena saya saja, tetapi suami saya
juga yang ikut berperan membuat keluarga menjadi rumah abadi bagi semua
orang di dalamnya.

Mariana

Kirim email ke