Sangat setuju mbak Mariana, seorang feminis tentu saja membutuhkan pendamping hidup yang akan selalu mengerti mengapa dia melakukan ini itu dalam kehidupannya sehari-hari, yang akan selalu mendukungnya dalam setiap keputusan yang dia ambil sendiri. Sehingga tidak akan ada komplain seperti, "Mengapa kamu tidak menjadi seperti istri-istri lain saja, karena aku sendiri hanyalah seorang pria biasa?" yang bermaksud istri-istri lain yang senantiasa menyerahkan segala keputusan dalam satu keluarga ada di tangan laki-laki, tidak pernah mementingkan diri sendiri di atas kepentingan suami, dll. Jika kedua belah pihak telah saling menghormati, tidak perlu lagi istilah 'feminis' di antara mereka berdua.
Salam, Nana --- In [email protected], Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Saya mungkin mau komentar sedikit, karena saya merasa feminis adalah > 'laku' bukan hanya wacana, maka harapan perjuangan feminis yang sukses > membina keluarganya tidak lepas dari peran laki-laki (suami) yang > punya 'laku' feminis juga. Atau mungkin begini, saya pikir tak perlu > ada kata feminis kalau laki-laki sudah feminis. Karena berarti kita > tak perlu teori atau kritik lagi tentang patriarkhi karena patriarkhi > sudah tidak ada dalam keluarga tersebut. (ingat, feminis tidak sama > dengan feminin). > > Saya tidak bisa membayangkan seorang feminist bisa sukses membina > keluarganya kalau laki-laki atau suaminya patriarkhis. Misalnya, istrinya > tak boleh bekerja, harus dirumah, tidak boleh berekspresi, tidak boleh > menyatakan pendapat. > > Tak akan ada kesuksesan di sana. Tak pernah sejalan. Justru yang harus ditekankan > adalah, seorang feminis harus tahu betul memilih laki-laki seperti apa > bila mereka ingin berkeluarga. > > Dan laki-laki yang feminis adalah yang merasa tidak terancam ketika > mendengar kata 'feminis'. Laki-laki yang memandang feminisme > sebagai kehidupan positif dalam keluarga justru membantu relasi suami > istri yang solid. > > Tak perlu ada peran-peran gender lagi, yang penting kerjasama. > > Saya sendiri, saya sangat mencintai keluarga saya, tapi saya juga > harus menyatakan semua itu bukan karena saya saja, tetapi suami saya > juga yang ikut berperan membuat keluarga menjadi rumah abadi bagi semua > orang di dalamnya. > > Mariana
