Kejadian ini benar-benar sangat tragis dan memilukan. Bila
membicarakan "safety" dinegeri ini tentu tidak bisa semata dari
segi "logika" dan "teori disiplin ilmu" saja, karena pada
akhirnya "akhlak" dari manusia yang terkait pada penerapannya, itu
menurut saya yang paling dominant mempengaruhi "output" nya.
Lingkungan "Lantai" dimulai pada ketinggian tertentu, sudah pasti
area pinggirnya tidak diperkenankan "terbuka", melainkan harus
tertutup yang tidak hanya sekedar "optis", tapi lebih
kearah "proteksi/penghalang" terhadap kemungkinan
terjatuhnya "sesuatu". Bagi para ahli, untuk menghitung jenis
konstruksi "fence/barrier" yang diperlukan tentu sama sekali tidak
masalah .. tapi .. penerapannya? Itulah yang terlihat dari
sikap/komentar pihak "terkait" sekarang. Buat saya yang paling
mencengangkan adalah, saat saya melihat laporan film di TV, dimana
jasad korban masih ada di area TKP, pengelola yang berwenang diarea
tersebut terkesan membiarkan "puluhan bahkan ratusan" penonton
bersandar (bahkan mungkin berebutan melongok kebawah) pada "dinding
pembatas rapuh" di "park house ramp" diatas. Padahal jelas terlihat
pada dinding yang jebol akibat kecelakaan ini, bahwa itu hanya
terdiri dari bata/batako dan adukan, tanpa penguat apapun, yang
berarti, degelendoti dengan puluhan orang seperti itu .. bayangkan
apa yang dapat terjadi. Untung saja tidak terulang kejadian fatal
akibat "kelalaian" seperti pada kapal laut Levina I ?? Sekarang ini,
sudah pasti pihak kepolisian akan "mengusutnya". Saya hanya amat
sangat berharap, agar hasilnya nanti jangan anak sapi "terpaksa meng-
embek". Kan setiap makhluk disini bisa dijadikan "black sheep"??!!
Salam,
Bodo


--- In [email protected], "Putra"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ngomong2 tentang ketahanan konstruksi. Banyak developer di
Indonesia
> lebih mengutamakan COST dan ROI (Return of Investment) daripada
SAFETY.
>
> Hal semacam ini (mobil terjun bebas) sebenarnya tidak perlu terjadi
> apabila developer tetap mengutamakan SAFETY. Walaupun sang arsitek
> sudah mendesain sedemikian rupa dengan segala keamanannya,
> ujung-ujungnya hasil desain selalu merujuk pada kemauan developer.
> Hanya karena alasan diatas yang diutamakan (COST dan ROI), maka
SAFETY
> bisa diakali. Termasuk ketika pengecekan oleh Badan Pemerintah yang
> berwenang, petugasnya pun diakali.
>
> Saya mendukung sekali, polisi mempidanakan developer gedung karena
> telah ceroboh. Andai saja desain konstruksi merujuk pada keamanan
akan
> kondisi/skenario terburuk, niscaya tembok yang ditabrak berkali2
pun
> dapat tetap menahan mobil yang lepas kendali tersebut.
>
> Saya kasih contoh lain yang paling nge-trend mengenai ketahanan
> konstruksi yang mengutamakan COST dan ROI ketimbang SAFETY, adanya
> kejadian lumpur lapindo.

Kirim email ke