saya juga ikut nimbrung mas n mbak ,namun saya mau memberikan sudut pandang yang meng"empower" saya ,nah terserah juga bagi yg baca untuk menafsirkan pendapat ini, STANDAR MORAL YG TINGGI, nah ini buat saya harus diperjuangkan dan harussnya diberlakukan di segala bidang,nah ini yg bikin hidup lebih hidup (BUAT SAYA LHO...),NAMUN kayaknya perlu guru2 yang mengajari hal ini lebih banyak kali ya.... salam Haresh --- Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mas Ulil Yth, > > Membaca opini anda ini saya memilih untuk tidak > menafsirkan-nya dan tidak ingin menangkap > "layang-layang" yang terbang tinggi membubung > dilangit biru. Karena saya memilih agar kaki saya > tetap menginjak pada "Bumi Pertiwi" ini. > Nah sekarang terserah juga pada anda bagaimana > menafsirkan pendapat saya tersebut. > :-)...:-) (smile...and smile...) > > Bagi saya negara kita ini agak membingungkan saat > ini. Saya enggak tahu "juntrung" nya mau dibawa > kemana? > Saya bingung, lha begitu banyaknya uang yang bisa > "dicaplok" oleh per-orangan ataupun per-ormas, > tetapi kok gedung-gedung sekolah pada ambruk, > buku-buku yang penting bagi anak-anak SD; SMP kok > malah tidak di-tiadakan oleh pemerintah; anak-anak > kecil kekuranagn gizi dan pada terkena polio, > etc....etc.... > > Mestinya kan dengan jumlah uang "Dana > non-budgeter" dari Dept. Kelautan tersebut, (ini > menurut cara pemikiran saya) sebenarnya kan bisa > untuk membangun kembali sekolah-sekolah yang ambruk? > Atau untuk memberikan imunisasi pada "balita?" > > Pantas Indonesia tidak bisa meniru seperti negara > Thailand, yang bisa memberikan kesejahteraan pada > rakyat nya dengan tidak memungut biaya sekolah dari > SD sampai dengan SMU. > Soalnya di Indonesia, uang yang bisa untuk > menyejahterakan rakyat malahan "bocor" kemana-mana, > tanpa ada yang mau bertanggung jawab. Jadi lagi-lagi > rakyat kecil yang terkena dampaknya dengan kelakuan > para Poli - TIKUS kita. > > Salam, > Yuli
