Mas Patrick & rekan FPK-ers, Adalah kenyataan bahwa AR & timsesnya (terlepas yang ada dalam benak mereka saat itu) memang 'tergelincir'/berbuat kesalahan.. Nabi sendiri bilang manusia memang tempatnya salah.. Namun (semoga saja) sebaik" manusia adalah yang mau mengakui kekurangan&kesalahan yang ada serta punya prinsip/niat untuk tetap memperbaiki.. :D
Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini.. Tentu lebih baik di sini dalam konteks kebenaran, bukan kesalahan/kejahatan (yang makin disempurnakan).. Memang teoritisnya mudah.. prakteknya yang sulit.. Ini jelas teguran bagi kita semua (khususnya bagi AR) agar tetap konsisten atau malah ikut"an mengambil sikap klaim & seolah-olah.. Karena yang rugi ya kita" yang ingin ada perbaikan di negeri ini.. Nilai" yang diagung"kan bisa dilecehkan pihak lain (yang merasa terancam bila kebenaran diungkap untuk semua pihak) karena kesalahan 'penyebar' nilai" tersebut.. Barangkali wajar saja kalau ada yang benci AR, seandainya dia minta tidak dihukum.. Toh AR sendiri siap diperiksa dan dipenjarakan kalau keputusan pengadilan memutuskan demikian.. Pernahkah kita melihat keberanian seperti itu di sini? Suka/tidak suka, ada pepatah yang bilang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, toh.. Meskipun ada juga yang tidak diterima Allah -mis: terlambat tobat- yakni manakala nafas sudah di kerongkongan & sebentar lagi 'out'.. Jadi jangan sampai yang dilihat cuma kulitnya, sementara substansinya dilupakan.. Atau, 'tujuan' bisa menghalalkan cara.. kalau perlu ngelas-ngeles.. ngalor-ngidul.. jaim.. yang penting nama diri/kelompok tetap terlihat bersih - egp publik tahu aslinya/ gak.. :-( Termasuk urusan sama Allah dan akhirat.. belanda aja masih jauh.. apalagi yang begituan.. :-P CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 5/22/07, Patrick <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Budi Yth., > > Jujur saja Pak, setelah membaca komentar Bpk, saya tertawa geli..Jadi, > perdebatan kita selama ini hanya karena saya "menyudutkan" Pak Amien > Rais seorang? Waduhh...Saya hanya mengomentari Pak Amien karena > kebetulan hanya Pak Amien yg bersikap "mengaku dosa" spt itu! > > Bagi saya, mengagumi "pengakuan dosa" Pak Amien sama saja dengan > mengapresiasi kasus yg berpotensi sbg tindak pidana korupsi (meskipun > masih dalam kerangka asas praduga tak bersalah)... > > Sikap apresiasi atas kasus yg berpotensi sbg tindak pidana korupsi, > berarti sama saja dengan tidak menghormati proses hukum yg sedang > berjalan (baca: penyelidikan & penyidikan lebih lanjut).... > > Tulisan Pak Budiarto Shambazy (Kompas 22/5)juga seperti itu. Pak > Shambazy menyatakan, "suka atau tidak, Pak Amien Rais paling tidak > telah jujur mengaku salah.." Waduhhh, apresiatif sekali yah? > > Pernyataan Ketua MPR, Pak Hidayat Nurwahid, juga setali tiga uang dgn > Pak Shambazy! Pak Nurwahid berharap agar Pak Amien Rais tidak > dipenjara sehubungan dgn "pengakuan dosanya" itu..ALAMAAAKKK!! > > Itu pernyataan seorang petinggi lembaga legislatif kita lohhh!! > Bayangkan, dari pernyataan itu, terbersit sikap tidak hormatnya atas > proses hukum yg sedang berjalan...Etiskah kata-kata itu keluar dari > mulut seorang Ketua MPR?! > > APA KATA DUNIA???!!!! > > Salam Anti Orang Baik Mengaku SALAH & berniat Jujur lalu disalahkan... > [Kali ini cukup panjang yah salam saya?] > :-) > > Patrick Hutapea
