http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/04/ln/3649486.htm ======================
Tokyo, Selasa - Menteri Pertahanan Jepang Fumio Kyuma, Selasa (3/7), menyampaikan pengunduran dirinya setelah menyatakan pendapat mengenai dijatuhkannya bom atom AS di Hiroshima dan Nagasaki, yang dianggap menyakiti hati banyak warga Jepang. Kyuma dalam pidatonya, Sabtu (30/6), mengungkapkan bahwa bom atom itu tidak bisa dihindarkan dan telah mengakhiri Perang Dunia II. "Saya memahami pengeboman itu mengakhiri perang, dan saya pikir itu tidak bisa dihindari," ungkapnya. Pernyataan Kyuma yang kelahiran Nagasaki itu langsung menimbulkan kemarahan banyak warga yang selamat dari kedua kota yang dibom atom. Sedikitnya 140.000 warga Jepang tewas akibat bom atom yang diberi nama "Little Boy" dijatuhkan di Hiroshima, 6 Agustus 1945. Lebih dari 74.000 orang lainnya tewas di Nagasaki, tiga hari kemudian. Secara keseluruhan, jika dihitung dengan sejumlah kematian lainnya sebagai dampak radiasi bom, kedua bom yang di- jatuhkan AS itu menewaskan lebih dari 360.000 warga Jepang. Posisi resmi Pemerintah Jepang adalah tidak bisa membenarkan penggunaan senjata-senjata nuklir, dan penyimpangan dari sentimen itu tentu saja akan memicu kontroversi. Fumio Kyuma telah menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya itu dan mengatakan bahwa dirinya telah tergoda untuk menggunakan cara berpikir AS pada waktu itu. Digantikan Koike Media-media lokal menyebutkan, Kyuma akan digantikan oleh Yuriko Koike, rekan sesama politikus sayap kanan yang saat ini menjabat sebagai penasihat keamanan nasional. "Pertahanan nasional adalah masalah sangat penting bagi negara. Saya akan menjalankan posisi saya dengan tekad tinggi," ungkap Koike, yang pernah menjadi Menteri Lingkungan pada masa PM Junichiro Koizumi. Kyuma mengatakan, Perdana Menteri Shinzo Abe menyampaikan kepadanya bahwa keputusannya untuk mundur itu "tidak menguntungkan", tetapi dia harus menerimanya. Abe menerima keputusan Kyuma dan mengatakan bahwa pengunduran diri adalah jalan yang paling serius bagi seorang politisi sebagai bentuk tanggung jawabnya. "Saya menghormati keinginan Kyuma," ujarnya. Mundurnya Kyuma, dilihat sejumlah pengamat, berpotensi merusak perhatian Partai Liberal Demokrat pimpinan Abe, yang tengah berupaya mendapatkan kembali dukungan publik menjelang pemilihan anggota Majelis Tinggi, 29 Juli nanti. "Pernyataan saya yang ceroboh janganlah mengganggu pemilihan yang datang karena Perdana Menteri Abe telah bekerja keras untuk pemilihan itu," ungkap Kyuma kepada para wartawan. Popularitas Abe anjlok Jajak pendapat akhir pekan yang dilakukan surat kabar Asahi menunjukkan dukungan terhadap Abe terus anjlok ke tingkat terendah, yaitu 28 persen, akibat sejumlah skandal di pemerintahannya dan kesalahan penanganan dana pensiun. "Pernyataannya telah merusak pemerintahan Abe, tetapi dia berusaha membatasi dampaknya. Abe seharusnya mengambil tindakan lebih tegas terhadap Kyuma sejak awal, tetapi dia malah berusaha mendukungnya," papar Tomoaki Iwai, profesor ilmu politik di Universitas Nihon, Tokyo, seperti dikutip Bloomberg. Abe memang cenderung membela Kyuma dengan mengatakan bahwa Kyuma sendiri yang memutuskan untuk mundur. Pengunduran diri Kyuma terjadi beberapa minggu setelah Menteri Pertanian Toshikatsu Matsuoka menggantung diri beberapa jam sebelum dia ditanyai mengenai skandal dana-dana belanja di departemennya. "Pengunduran diri Kyuma mungkin akan mengurangi tekanan dari oposisi atas subyek tersebut, tetapi itu tidak akan membantu peningkatan dukungan keseluruhan untuk Abe," kata Yoshikazu Sakamoto, profesor politik di Universitas Tokyo. Kalangan oposisi maupun koalisi berkuasa menyambut baik mundurnya Kyuma, yang menjadi Menteri Pertahanan pertama sejak Perang Dunia II. (AP/AFP/Reuters/OKI)
