Merah putih...merah darahku, putih tulang dan hatiku....
merah putih...bukan sekadar kain yang berwarna.........
merah putih......rumah dan tujuanku.....
mereka keji menistamu....
yang tidak merah darahnya dan tidak putih hati serta tulangnya...
yang membangun rumah kuning, hijau atau ungu...
membujuk rayu menuju tanah asing....
merah putih....
tetap tersenyum kala dilumuri lumpur..
namun merintih sembari menatap nanar..
darah merah yang memudar dalam genangan hitamnya lumpur...
hati putih yang patah terkulai...oleh angkara pengkhianat sejati...
merah putih......
berkibarlah selalu dalam darah, hati dan tulangku......
yang lagi sedih, Irry
Godlip Pasaribu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Vavai, saya sih setuju dengan Pak Manneke. Memang
penistaan terhadap bendera merah putih itu tidak bisa
dibenarkan, tetapi janganlah kita terlalu berlebihan
sampai mencaci maki bahkan mengutuk para pelaku
pelumur bendera merah putih tsb. sedangkan banyak
pelanggaran lain yang lebih penting seperti koruptor,
preman berdasi, dlsb. luput dari perhatian bahkan
bebas berkeliaran.
Amerika yang hampir tiap hari benderanya dibakar dan
diinjak-injak di mana-mana, cuek-cuek saja. Kalau
mereka bereaksi terhadap semua penistaan terhadap
benderanya, bisa dibayangkan bagaimana hebohnya dunia
ini. Jadi ngapain kita menanggapi pelumuran bendera
tersebut secara berlebihan? Bukan berarti saya
membenarkannya, tetapi banyak hal yang lebih penting
yang perlu kita komentari/permasalahkan daripada
ribut/emosi hanya karena ada bendera yang dilumuri
lumpur. Mungkin pelakunya perlu disadarkan dan diberi
pelajaran betapa pentingnya dan perlunya dihormati
lambang negara tersebut dan banyak cara lain untuk
mengungkapkan perasaan yang bisa dilakukan tanpa
menodai bendera kebanggaan kita.
Salam.