Pak Vavai, saya sih setuju dengan Pak Manneke.  Memang
penistaan terhadap bendera merah putih itu tidak bisa
dibenarkan, tetapi janganlah kita terlalu berlebihan
sampai mencaci maki bahkan mengutuk para pelaku
pelumur bendera merah putih tsb. sedangkan banyak
pelanggaran lain yang lebih penting seperti koruptor,
preman berdasi, dlsb. luput dari perhatian bahkan
bebas berkeliaran. 

Amerika yang hampir tiap hari benderanya dibakar dan
diinjak-injak di mana-mana, cuek-cuek saja.  Kalau
mereka bereaksi terhadap semua penistaan terhadap
benderanya, bisa dibayangkan bagaimana hebohnya dunia
ini.  Jadi ngapain kita menanggapi pelumuran bendera
tersebut secara berlebihan? Bukan berarti saya
membenarkannya, tetapi banyak hal yang lebih penting
yang perlu kita komentari/permasalahkan daripada
ribut/emosi hanya karena ada bendera yang dilumuri
lumpur.  Mungkin pelakunya perlu disadarkan dan diberi
pelajaran betapa pentingnya dan perlunya dihormati
lambang negara tersebut dan banyak cara lain untuk
mengungkapkan perasaan yang bisa dilakukan tanpa
menodai bendera kebanggaan kita.

Salam. 
--- Muhammad Rivai Andargini <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Wah Prof,
> 
> Kita kan nggak bisa membenarkan sesuatu dengan
> menafikan yang lain.
> Kalau begitu terus nanti analoginya bisa
> bermacam-macam. Boleh dong kita
> mencuri dari koruptor. Boleh dong kita memukuli
> koruptor, pelanggar HAM,
> pencuri uang rakyat, pemeras, bajingan, dan preman
> berdasi yang mengaku
> diri sebagai penguasa negeri ini. Bagaimana
> mekanisme pembenarannya.
> 
> Saya lebih setuju bahwa kita sebal pada koruptor,
> pelanggar HAM, pencuri
> uang rakyat, pemeras, bajingan, dan preman berdasi
> yang mengaku diri
> sebagai penguasa negeri ini, namun kalau mau demo,
> pilihlah simbol yang
> tidak melambangkan negara. Buatlah boneka koruptor,
> pelanggar HAM,
> pencuri uang rakyat, pemeras, bajingan, dan preman
> berdasi yang mengaku
> diri sebagai penguasa negeri ini dan lumuri mereka
> dengan lumpur.
> 
> 
> Vavai

Kirim email ke