Bung Budi, yang mana yang diragukan kebenarannya ? Saya justru kagum dengan 
Bung Anton yang mengetahui banyak hal soal Bung karno di Ende. Soal referensi 
mungkin Bung Anton bisa menjelaskannya. 
  Saya adalah Putra Indonesia, kelahiran Ende. Jadi ceritra soal pohon Sukun, 
Jalan soekarno serta tonil...saya dengar sendiri dari tangan pertama. Orang tua 
dari salah satu teman sekolah saya adalah salah satu pengikut BK dalam grup 
tonil Kelimutu. Bahwa BK sangat kagum keindahan danau tiga warna di kabupaten 
Ende ini, selain dari nama grup tonil di Ende, juga pernah disinggung beliau 
dalam satu satu pidatonya, dimana beliau menanggap Kelimutu lebih indah dari 
grand canyon. Jika ingin lihat lokasi pohon Sukun dan Pohon yang ditanam lagi 
dengan cabang lima itu, silahkan kunjungi kota Ende. Sebagaimana yang pernah 
saya tulis dalam posting sebelumnya, saya beberapa kali menemani almarhum ayah 
saya, ketika beliau mendekati keluarga pemilik rumah yang ditempati BK, untuk 
menyerahkan rumah tersebut kepada negara agar dijadikan Museum. Beberapa barang 
peninggalan beliau, saya lihat langsung di rumah tersebut sebelum resmi 
dijadikan museum.
  Ceritera yang menyangkut Pak Frans Seda, saya dengar dari beliau sendiri. Dan 
banyak sekali ceritera Pak Frans soal BK, termasuk ketika sebagai menteri Orde 
Baru harus meminta ijin BK utk mendekati lagi beberapa badan dunia yang di Go 
to hell kan oleh BK sebelumnya.
  Gedung Imakulata tempat tonil BK dipentaskan, masih berdiri hingga saat ini 
walau sudah tidak terawat. Itu tempat kami bermain semasa kecil...juga kompleks 
kediaman pastor SVD teman diskusi beliau serta tempat beliau meminjam bahan 
bacaan.
   
  Saya sendiri belum pernah membaca buku yang menuliskan kisah BK di Ende, 
mungkin Bung Anton. 
  

budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Apakah cerita sejarah ini bisa di pertanggung jawabkan ke 
'otentik'annya?
ada sumber nya? daftar pustaka...
atau.. just 'Urban Legend"?

Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Anda benar benar seorang pendukung 
Bung Karno.

Sedikit koreksi: beliau mengunjungi sekolah selevel SMP dan Pak Frans Seda 
waktu itu yang mewakili murid murid untuk "menyalami dan menyapa" beliau. 
Sebuah puisi yang diucapkan dan ketika Frans Seda bergabung dalam kabinetnya 
menjadi menteri perkebunan pak Frans terpana karena Bung Karno masih mengingat 
puisi tersebut. (pak Frans menyebut judulnya dan Bung Karno mengulangi isinya).

Soal pohon sukun.
Bung Karno diijinkan bebas bergerak sendirian dengan radius 8 km dari pusat 
kota. Namun hampir setiap soreh beliau duduk dibawah sebatang pohon sukun, kira 
kira 200 m dari bibir pantai Ende. (Kota Ende diapit oleh dua buah teluk: teluk 
Ende dan teluk Ipi). Pemandangan senjah hari disana sangat eksotik (hingga hari 
ini) karena didepan teluk Ende terletak Pulau Ende (tempat salah satu benteng 
Portugis di Flores sejak abab 16) serta gunung Ebulobo yang menjulang 
dibelakangnya. Jika senjah hari langit memerah dan bulatan mentari merah turun 
perlahan, menimbulkan pantulan warnah merah dipermukaan laut dari bibir pantai 
hingga kepulau Ende dan menghilang di horizon. Puncak Ebulobo menambah 
eksotiknya pemandangan itu. Di tahun 1934 -1938, tatkala langit masih sangat 
bersih, juga laut..pemandangan itu pasti lebih indah. Beliau duduk di bawah 
pohon sukun dengan meja kecil dan merenung serta menulis. Pemandangan yang 
eksotik dan memukau di depannya tentu merupakan katalisator
munculnya berbagai gagasan murni semurni alam indonesia di depannya. Mungkin 
surat surat beliau ke Bogor juga ditulis disana. Mungkin juga, saripati dari 
berbagai diskusi dengan para pastor ditulis disana, Mungkin juga naskah drama 
yang dipentaskan di Imakulata juga ditulis disana.
Pohon sukun itu telah lama mati. Penduduk Ende berusha menanam lagi dan 
membangun tembok yang melingkari lokasi pohon sukun tersebut. Dimasa orde baru, 
ketika semua yang berbau Sukarno dilarang oleh rejim Suharto, penduduk Ende 
tetap mempertahankan jalan utama di dekat pohon sukun tersebut dengan nama: 
Jalan Sukarno. Hingga saat ini.

Sekarang ini telah ditanam pohon sukun baru dan kebetulan sekali bahwa sukun 
tersebut bercabang lima hampir dari permukaan tanah. Walaupun tidak ada bukti 
otentik yang pernah saya baca, banyak yangmengatakan bahwa renungan beliau 
tentang bentuk negara serta dasar negara telah dimulai ditempat itu. Toh, 
beliau memiliki banyak waktu untuk merenung, berrefleksi daripada ketika di 
bandung (di jawa) pasti sibuk dgn berbagai rapat dan gerakan politik. Orang 
orang Ende mengatakan bahwa lima cabang yang muncul itu melambangkan Pancasila 
yang benihnya mungkin ditanam dalam dada salah satu pendiri utama republik ini 
disana. Sayangnya didekat pohon Sukun itu kini dibangun patung Bung Karno 
dengan pakaian kebesaran seorang Presiden dan berdiri dengan gagah. Saya 
merindukan patung seorang Bung karno di pembuangan, yang duduk di meja 
sederhana dengan pakaian piyama sedang membaca atau menulis sambil memandang 
keteluk. Itu lebih historis bagi tempat tersebut ketimbang patung saat ini
yang dibangun oleh Pemda yang tidak memiliki sense of history.

Sekali lagi. Kita merindukan orang seperti beliau, Hatta, Tan malaka dll.

Salam, Irry.




                         

       
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke