Apakah cerita sejarah ini bisa di pertanggung jawabkan ke 'otentik'annya?
ada sumber nya? daftar pustaka...
atau.. just 'Urban Legend"?
Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Anda
benar benar seorang pendukung Bung Karno.
Sedikit koreksi: beliau mengunjungi sekolah selevel SMP dan Pak Frans Seda
waktu itu yang mewakili murid murid untuk "menyalami dan menyapa" beliau.
Sebuah puisi yang diucapkan dan ketika Frans Seda bergabung dalam kabinetnya
menjadi menteri perkebunan pak Frans terpana karena Bung Karno masih mengingat
puisi tersebut. (pak Frans menyebut judulnya dan Bung Karno mengulangi isinya).
Soal pohon sukun.
Bung Karno diijinkan bebas bergerak sendirian dengan radius 8 km dari pusat
kota. Namun hampir setiap soreh beliau duduk dibawah sebatang pohon sukun, kira
kira 200 m dari bibir pantai Ende. (Kota Ende diapit oleh dua buah teluk: teluk
Ende dan teluk Ipi). Pemandangan senjah hari disana sangat eksotik (hingga hari
ini) karena didepan teluk Ende terletak Pulau Ende (tempat salah satu benteng
Portugis di Flores sejak abab 16) serta gunung Ebulobo yang menjulang
dibelakangnya. Jika senjah hari langit memerah dan bulatan mentari merah turun
perlahan, menimbulkan pantulan warnah merah dipermukaan laut dari bibir pantai
hingga kepulau Ende dan menghilang di horizon. Puncak Ebulobo menambah
eksotiknya pemandangan itu. Di tahun 1934 -1938, tatkala langit masih sangat
bersih, juga laut..pemandangan itu pasti lebih indah. Beliau duduk di bawah
pohon sukun dengan meja kecil dan merenung serta menulis. Pemandangan yang
eksotik dan memukau di depannya tentu merupakan katalisator
munculnya berbagai gagasan murni semurni alam indonesia di depannya. Mungkin
surat surat beliau ke Bogor juga ditulis disana. Mungkin juga, saripati dari
berbagai diskusi dengan para pastor ditulis disana, Mungkin juga naskah drama
yang dipentaskan di Imakulata juga ditulis disana.
Pohon sukun itu telah lama mati. Penduduk Ende berusha menanam lagi dan
membangun tembok yang melingkari lokasi pohon sukun tersebut. Dimasa orde baru,
ketika semua yang berbau Sukarno dilarang oleh rejim Suharto, penduduk Ende
tetap mempertahankan jalan utama di dekat pohon sukun tersebut dengan nama:
Jalan Sukarno. Hingga saat ini.
Sekarang ini telah ditanam pohon sukun baru dan kebetulan sekali bahwa sukun
tersebut bercabang lima hampir dari permukaan tanah. Walaupun tidak ada bukti
otentik yang pernah saya baca, banyak yangmengatakan bahwa renungan beliau
tentang bentuk negara serta dasar negara telah dimulai ditempat itu. Toh,
beliau memiliki banyak waktu untuk merenung, berrefleksi daripada ketika di
bandung (di jawa) pasti sibuk dgn berbagai rapat dan gerakan politik. Orang
orang Ende mengatakan bahwa lima cabang yang muncul itu melambangkan Pancasila
yang benihnya mungkin ditanam dalam dada salah satu pendiri utama republik ini
disana. Sayangnya didekat pohon Sukun itu kini dibangun patung Bung Karno
dengan pakaian kebesaran seorang Presiden dan berdiri dengan gagah. Saya
merindukan patung seorang Bung karno di pembuangan, yang duduk di meja
sederhana dengan pakaian piyama sedang membaca atau menulis sambil memandang
keteluk. Itu lebih historis bagi tempat tersebut ketimbang patung saat ini
yang dibangun oleh Pemda yang tidak memiliki sense of history.
Sekali lagi. Kita merindukan orang seperti beliau, Hatta, Tan malaka dll.
Salam, Irry.