sebenarnya retail asing boleh masuk tapiharus di pilah .. makromisalnya cukupmenarik , krn mereka menyiapkan barang utk di jual lagi oleh pedagangkecil
Sogo mislanya mrk mentediakan produk branded... , kita bisa nyaingin Singapore dalam hal ini. Bisa juga pertokoan yg menjual , NIKE , atau sepatu merk lain,,. atau baju bermerk international , tas dan sebagainya.. Persoalan jadilain ,ketika ada hypermarket ambiljatah jualan beras dan terigu.. pas di depan warung milik pribumi.. Masuknya retail asing secara kebablasan bakan mematikan pengusaha Indonesia , para pedagang kecil kita dan bukan cuma karyawan tok bayangkan ratusan anak muda bisa gabung di banding dgn hancurnya jutaan wirastawan kecilkita yg nggak pernah minta naik gaji atau naik UMR... Salam Haniwar At 06:57 PM 12/6/2007, you wrote: >Di masa Orba, retail asing memang dilarang keras masuk ke Indonesia. Siapa >yang senang? Singapura! Mereka menangguk duit dari para penggila belanja >asal Indonesia. Belanja di Sarinah? Kampungan, katanya. Pasaraya (dulu >kalau tak salah namanya Sarinah juga)? Kurang lengkap... > >Nah, retailer asing yang pertama menginjakkan kaki di Indonesia adalah >Sogo (bermakna: pemintal benang). Dulu sewaktu saya masih bekerja di >majalah Swa, pernah mewawancarai seorang eksekutifnya yang asal Jepang. >Waktu itu Sogo belum dibuka, Plaza Indonesia masih dalam tahap >pembangunan. Begitu dimuat, dunia geger. Tulisanku menjadi ilham buat para >wartawan untuk mempertanyakan keberadaan retailer asing di Indonesia. >Akhirnya, Sogo lolos ujian. Ratusan anak muda bergabung menjadi karyawan >disana, kebanyakan memang lulusan SMA saja. > >Episode berikutnya adalah kehadiran hypermarket Makro, berlokasi di Pasar >Rebo, Jakarta Timur. Ini juga sempat diributkan. Saya masih ingat, pak >Teddy yang mantan bos Astra langsung menerapkan jurus-jurus yang unik. >Akhirnya, Makro juga lolos ujian. Lagi-lagi, ratusan anak muda bergabung >menjadi karyawan disana, kebanyakan memang lulusan SMA saja. > >Bayangkan tanpa kehadiran retailer asing, berapa ribu anak muda yang jadi >pengangguran. Mau jadi pengamen atau pengedar narkoba. > >Sebagai catatan, tak semua retailer asing mencetak sukses besar di >Indonesia. Sebagai contoh adalah Seibu yang sempat buka beberapa saat, >namun pilih tutup karena salah lokasi. > >
